-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jalan Mendaki

Minggu, 09 Agustus 2026 | Agustus 09, 2026 WIB Last Updated 2026-08-09T10:41:33Z



Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Selamat kepada Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag. (Prof. Mujib) atas amanah yang kembali diberikan sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2026–2030. Pelantikan oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, pada Kamis, 6 Agustus 2026 di Jakarta bukan sekadar seremoni pengukuhan kepemimpinan, tetapi merupakan bentuk penghargaan atas kepemimpinan yang dinilai berhasil pada periode sebelumnya.

Kepercayaan untuk memimpin kembali sebuah perguruan tinggi tidak lahir begitu saja. Ia dibangun oleh rekam jejak, integritas, serta kemampuan menjawab tantangan zaman. 

Dalam beberapa tahun terakhir, UIN Ar-Raniry terus menorehkan berbagai capaian yang membanggakan sehingga semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu perguruan tinggi Islam terbaik di Sumatera. 

Kini, di bawah kepemimpinan Prof. Mujib, UIN Ar-Raniry tengah menempuh perjalanan yang lebih menantang, yakni mendaki menuju universitas kelas dunia yang unggul, berpengaruh, dan diperhitungkan di tingkat internasional.

Inilah hakikat jalan mendaki. Setiap keberhasilan bukanlah garis akhir, melainkan pijakan untuk mencapai puncak berikutnya. Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin besar pula amanah yang dipikul. Bersamaan dengan apresiasi akan hadir harapan, kritik, sekaligus tuntutan untuk terus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Fondasi

Al-Qur’an memberikan fondasi yang kuat tentang semangat mendaki tersebut. Allah SWT berfirman:

“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7).

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak berhenti setelah mencapai satu keberhasilan. Setiap pencapaian hanyalah awal dari pengabdian berikutnya. Hidup bukan tentang menikmati keberhasilan, tetapi tentang terus memperbaiki kualitas amal.

Prinsip itu dipertegas oleh sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya (itqan).” (HR. al-Baihaqi).

Dalam hadis lain Rasulullah SAW menjelaskan makna ihsan, yaitu beribadah dan bekerja seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu melihat-Nya maka yakinlah Allah selalu melihat setiap amal kita (HR. Muslim). 

Perpaduan antara itqan dan ihsan melahirkan karakter yang selalu ingin meningkatkan mutu pekerjaan, tidak cepat puas, dan terus bergerak menuju tingkat yang lebih baik.

Rasulullah SAW adalah teladan paling sempurna dalam perjalanan mendaki itu. Setelah berhasil membangun masyarakat Madinah, beliau tidak berhenti. Setelah Perjanjian Hudaibiyah, beliau memperluas dakwah hingga mengirim surat kepada para pemimpin dunia. Setelah Fathu Makkah, beliau kembali menyiapkan umat menghadapi tantangan yang lebih besar. Seluruh perjalanan hidup beliau menunjukkan bahwa setiap keberhasilan merupakan awal bagi pengabdian berikutnya.

Semangat yang sama diwariskan oleh para sahabat. 

Abu Bakar ash-Shiddiq menjaga persatuan umat pada masa yang sangat sulit. Umar bin Khattab membangun tata kelola pemerintahan yang menjadi rujukan sepanjang sejarah. Utsman bin Affan menyempurnakan kodifikasi Al-Qur’an, sedangkan Ali bin Abi Thalib memperlihatkan keteguhan ilmu dan keadilan di tengah berbagai ujian. 

Tidak ada seorang pun di antara mereka yang berhenti berkarya setelah memperoleh satu keberhasilan.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kemuliaan manusia terletak pada kesungguhan menyempurnakan diri melalui ilmu dan amal. Sementara Ibnu Khaldun menegaskan bahwa kemajuan sebuah peradaban hanya bertahan apabila masyarakatnya terus mengembangkan ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan etos kerja. 

Peradaban akan menurun ketika manusia merasa cukup dan berhenti berinovasi.

Sejarah Aceh pun menyajikan teladan yang sama. Sultan Iskandar Muda membawa Aceh mencapai masa keemasan bukan hanya karena keberanian militernya, tetapi juga karena perhatian besar terhadap pendidikan, perdagangan, diplomasi, dan penegakan hukum. 

Demikian pula Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman yang tidak pernah berhenti memperjuangkan kemuliaan umat meskipun harus menempuh jalan yang sangat terjal.

Pembelajar

Pandangan para motivator dunia modern pun sejalan. Mereka menyebutkan bahwa orang-orang yang terus mencapai puncak baru memiliki karakter pembelajar sepanjang hayat, berani keluar dari zona nyaman, disiplin, tangguh menghadapi kegagalan, mampu bekerja sama, dan selalu melihat setiap pencapaian sebagai awal perjalanan berikutnya. 

Mereka tidak sibuk mempertahankan kenyamanan, melainkan terus membangun kapasitas diri.

Karakter inilah yang perlu ditanamkan kepada generasi muda dan mahasiswa. Kampus tidak cukup hanya melahirkan sarjana, tetapi harus membentuk manusia pembelajar yang siap menghadapi perubahan dunia. 

Mahasiswa harus dibiasakan berpikir kritis, mencintai riset, berinovasi, membangun jejaring, serta memiliki akhlak yang baik. 

Ilmu pengetahuan dan karakter harus berjalan beriringan agar mampu melahirkan kepemimpinan yang membawa manfaat.

Inspiratif 

Dalam konteks itulah, kepemimpinan Prof. Mujib menjadi salah satu inspirasi. Amanah periode kedua bukan sekadar penghargaan atas keberhasilan masa lalu, melainkan awal dari tanjakan baru yang lebih tinggi. 

Harapan masyarakat tentu semakin besar agar UIN Ar-Raniry melahirkan lebih banyak ilmuwan, ulama, birokrat, pemimpin, dan wirausahawan yang mampu membawa perubahan positif bagi Aceh.

Aceh sendiri sesungguhnya sedang berada di jalan mendaki. Jalannya tidak selalu landai. Kadang menanjak tajam, berliku, bahkan melelahkan. 

Tantangan pendidikan, ekonomi, investasi, kualitas sumber daya manusia, tata kelola pemerintahan, hingga daya saing daerah membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kepemimpinan yang visioner. 

Dalam situasi seperti ini, peran perguruan tinggi menjadi semakin strategis sebagai pusat lahirnya gagasan, penelitian, inovasi, dan solusi bagi pembangunan daerah.

Spirit yang selama ini dibangun UIN Ar-Raniry, “Energi Kebangsaan, Sinergi Membangun Negeri,” sangat relevan dengan kebutuhan Aceh hari ini. 

Kemajuan hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara kampus, pemerintah, ulama, dunia usaha, media, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Aceh.

Selamat kepada Prof. Mujiburrahman atas amanah mulia ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kesehatan, dan kebijaksanaan dalam memimpin UIN Ar-Raniry menuju puncak-puncak prestasi yang lebih tinggi. 

Semoga kampus kebanggaan masyarakat Aceh ini terus memperlebar sayap pengabdian, menjadi rumah besar ilmu pengetahuan, serta menjadi lokomotif kebangkitan Aceh menuju daerah yang maju, bermartabat, dan sejahtera.

Sebab, pada akhirnya, kehidupan bukanlah tentang seberapa tinggi kita pernah mencapai puncak, melainkan seberapa kuat kita terus melangkah di jalan mendaki, mengubah setiap keberhasilan menjadi pijakan untuk melahirkan keberhasilan-keberhasilan berikutnya, demi kemaslahatan umat, bangsa, dan sebagai ikhtiar meraih ridha Allah SWT.

_Tetaplah berhati hati, ketika pendakian makin tinggi makin besar pula perlunya nyali dan kesiapan untuk teruji._

Wallahu a’lam 

Darussalam 22 Safar 1448, 6 Agustus 2026

(Penulis, Imam Besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
×
Berita Terbaru Update