Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Tausiyah Subuh BBC yang disampaikan Dr. Agustin Hanapi, Lc., MA., di Masjid Al-Jihad Gampong Jeulingke, Banda Aceh, Ahad subuh tadi, masih membekas di hati saya. Bukan hanya karena pesan keagamaannya yang menyentuh, tetapi terutama karena beliau mengingatkan tentang sesuatu yang sedang berlangsung di tengah masyarakat: melemahnya ketahanan rumah tangga.
Pembicaraan tentang keluarga hari ini tidak cukup berhenti pada persoalan suami dan istri. Di dalamnya ada masa depan anak, ketahanan masyarakat, kualitas generasi, bahkan keberlanjutan sebuah bangsa.
Karena itu, ketika kita melihat kecenderungan angka pernikahan menurun sementara perceraian masih tinggi, kita patut bertanya lebih jauh: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan keluarga kita?
Inilah sebuah dilema yang semestinya menjadi renungan serius umat Islam.
Islam sangat mendorong pernikahan. Al-Qur’an menggambarkan perkawinan sebagai mitsaqan ghalizhan, sebuah perjanjian yang kokoh. Tujuannya bukan sekadar hidup bersama, tetapi membangun ketenteraman, kasih sayang dan rahmat.
Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Namun realitas sosial kita memperlihatkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Pernikahan cenderung melambat, sementara perceraian tetap menjadi persoalan besar.
Angka yang Tidak Sekadar Statistik
Data BPS menunjukkan Indonesia mencatat 399.921 perceraian pada 2024. Pada tahun yang sama, jumlah pernikahan sekitar 1,48 juta, melanjutkan kecenderungan penurunan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Di Aceh, situasinya juga patut mendapat perhatian. Kementerian Agama Aceh mencatat 31.663 pernikahan pada 2025, terendah dalam lima tahun terakhir. Pada 2021 jumlah pernikahan masih sekitar 41 ribu, kemudian terus menurun hingga 2025.
Sementara itu, Mahkamah Syar’iyah Aceh mencatat 2.925 perkara perceraian pada Januari–Juli 2025.
Angka-angka tersebut tentu harus dibaca dengan hati-hati. Statistik tidak selalu menggambarkan seluruh dinamika keluarga. Tetapi ia cukup menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang perlu kita perbaiki.
Sebab di balik setiap angka perceraian ada manusia. Ada suami. Ada istri. Ada anak. Ada orang tua. Ada keluarga besar. Dan sering kali ada luka yang tidak tercatat dalam statistik.
Mengapa Nikah Semakin Berat, Cerai Semakin Mudah Pertanyaan ini perlu dijawab secara jujur. Mengapa sebagian anak muda merasa semakin berat melangkah ke pelaminan?
Sebagian tentu karena alasan yang rasional. Pendidikan semakin panjang, lapangan kerja tidak selalu mudah, harga rumah dan biaya hidup meningkat. Banyak pemuda ingin memastikan dirinya memiliki pekerjaan dan penghasilan yang cukup sebelum menikah. Itu baik.
Tetapi persoalan muncul ketika standar kesiapan berubah menjadi tuntutan kesempurnaan. Harus punya rumah. Harus punya mobil. Harus punya pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Harus mengadakan pesta besar. Harus memenuhi berbagai tuntutan sosial. Akhirnya pernikahan yang seharusnya dimudahkan justru terasa semakin jauh.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan para pemuda:
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.”
Kata kuncinya adalah mampu. Bukan harus kaya raya. Bukan harus sempurna. Tetapi memiliki kesiapan yang memadai untuk memikul tanggung jawab.
Sebaliknya, ketika sudah menikah, mengapa perceraian kadang terasa begitu mudah?
Karena sebagian orang memasuki perkawinan dengan bekal cinta, tetapi tidak cukup membawa ilmu berumah tangga. Mereka belajar menjadi sarjana. Belajar menjadi profesional. Belajar mengelola bisnis. Tetapi lupa belajar menjadi suami. Lupa belajar menjadi istri. Lupa belajar menjadi ayah. Lupa belajar menjadi ibu.
Padahal pekerjaan-pekerjaan tersebut memiliki tanggung jawab yang jauh lebih panjang.
Rumah Tangga Tidak Runtuh Seketika
Rumah tangga biasanya tidak runtuh dalam satu hari. Ia retak sedikit demi sedikit. Dimulai dari komunikasi yang buruk. Kemudian saling menyalahkan. Lalu kehilangan penghargaan. Kemudian menyimpan dendam. Setelah itu mulai mencari pelarian. Pada tahap tertentu, orang ketiga masuk.
Dan ketika semuanya sudah menumpuk, perceraian dianggap sebagai jalan keluar.
Psikolog keluarga John Gottman menyebut empat pola komunikasi yang sangat merusak hubungan: kritik yang menyerang pribadi, penghinaan, sikap defensif dan menutup diri dari komunikasi.
Ini menarik untuk kita renungkan.bBerarti menjaga keluarga tidak cukup hanya dengan memberikan nafkah.bTidak cukup hanya dengan tinggal serumah. Tidak cukup hanya dengan tidak bercerai.
Keluarga harus memiliki kesehatan komunikasi. Suami harus belajar mendengar. Istri harus belajar menyampaikan. Keduanya harus belajar meminta maaf. Keduanya harus belajar memaafkan.
Dan keduanya harus memahami bahwa dalam rumah tangga, memenangkan perdebatan tidak selalu berarti memenangkan kehidupan.
Inilah Jihad Imunitas Keluarga Karena itu, saya ingin menawarkan satu istilah: jihad imunitas keluarga.
Jihad di sini bukan peperangan fisik. Ia adalah kesungguhan, perjuangan dan ketekunan untuk menjaga keluarga agar memiliki daya tahan terhadap berbagai penyakit yang dapat merusaknya.
Seperti tubuh manusia membutuhkan imunitas, keluarga juga membutuhkan imunitas.
Ada imunitas iman agar keluarga tidak mudah tergoda. Ada imunitas ilmu agar suami dan istri memahami hak dan kewajibannya. Ada imunitas mental agar pasangan tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.
Ada imunitas ekonomi agar tekanan keuangan tidak mudah berubah menjadi pertengkaran.
Ada imunitas komunikasi agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Dan ada imunitas sosial dan digital agar keluarga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan dan budaya yang merusak.
Jihad imunitas itu harus dimulai sebelum pernikahan. Menyiapkan Generasi Menuju Pelaminan
Kepada para pemuda, jangan takut menikah hanya karena melihat banyak perkawinan gagal. Jadikan kegagalan itu sebagai pelajaran.
Tetapi jangan pula menikah hanya karena dorongan usia, tekanan keluarga atau sekadar takut disebut terlambat.
Persiapkan diri.
Pertama, persiapan agama. Pelajari hak dan kewajiban suami-istri.
Kedua, persiapan mental. Sadari bahwa pasangan bukan malaikat. Ia manusia dengan kelebihan dan kekurangan.
Ketiga, persiapan ekonomi. Tidak harus kaya, tetapi harus memiliki rencana hidup yang realistis.
Keempat, persiapan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi merupakan bagian dari tanggung jawab.
Kelima, persiapan komunikasi. Bicarakan sejak awal soal pekerjaan, tempat tinggal, keuangan, hubungan dengan orang tua, pendidikan anak dan pembagian tanggung jawab.
Keenam, persiapan spiritual. Jangan hanya mempersiapkan gedung, pakaian dan pesta. Persiapkan hati.
Sebab pelaminan hanya berlangsung sehari. Rumah tangga berlangsung sepanjang hayat.
Kepada yang Sudah Menikah
Bagi pasangan yang sudah menikah, jihad imunitas keluarga berarti menjaga apa yang sudah Allah ikat dengan akad.
Ketika marah, tahan lisan. Ketika kecewa, jangan langsung menghakimi. Ketika berbeda pendapat, jangan merendahkan. Ketika pasangan salah, nasihati tanpa mempermalukan. Ketika terjadi konflik, jangan buru-buru membuka aib kepada publik. Dan ketika masalah terasa berat, carilah bantuan.
Al-Qur’an bahkan memberikan mekanisme rekonsiliasi melalui keluarga kedua belah pihak:
“Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya.”
(QS. An-Nisa: 35)
Tetapi mempertahankan rumah tangga juga tidak berarti mempertahankan kezaliman. Kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran, perselingkuhan atau bentuk kekerasan lainnya harus ditangani secara serius dan aman.
Jihad imunitas bukan membiarkan penyakit bertahan.
Jihad imunitas adalah mencegah penyakit, mengenalinya sejak dini dan mengobatinya dengan cara yang benar.
Jangan Lupakan Ancaman terhadap Generasi
Mengapa kita perlu begitu serius menjaga perkawinan?Karena keluarga adalah tempat pertama generasi manusia dibentuk.
Jika keluarga melemah, anak-anak dapat kehilangan lingkungan pengasuhan yang stabil. Dari sinilah berbagai persoalan sosial dapat menjadi lebih berat: kekerasan, pornografi, penyalahgunaan narkoba, perilaku seksual berisiko, eksploitasi dan berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)
Ancaman
Persoalan ancaman HIV/AIDS juga harus kita sikapi dengan baik berdasarkan ilmu dan tanggung jawab. Pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, pendidikan kesehatan dan perlindungan terhadap kelompok rentan merupakan bagian dari ikhtiar menyelamatkan kehidupan.
Begitu pula LGBT, kita harus kita sikapi dengan hati hati. Nilai dan norma Islam mengenai perkawinan dan perilaku seksual tentu harus diajarkan kepada generasi muda. Tetapi pendidikan itu harus ditempuh melalui ilmu, keteladanan, pendampingan dan perlindungan anak, bukan dengan penghinaan atau kekerasan.
Namun melihat maraknya potensi ancaman kedua penyakit lahir batin ini maka semakin yakin kita untuk menjadikan keluarga sebagai benteng yang kuat.
Tujuan akhirnya jelas: menjaga generasi dari perilaku yang merusak kesehatan, kehormatan, masa depan dan ketahanan keluarga.
Semua Harus Turun Tangan
Jihad imunitas keluarga tidak mungkin berhasil jika hanya dibebankan kepada pasangan suami-istri.
Pemerintah harus hadir dengan kebijakan ketahanan keluarga yang nyata: memperkuat bimbingan pranikah, konseling pascanikah, layanan kesehatan mental dan reproduksi, edukasi ekonomi keluarga serta mekanisme mediasi yang mudah dijangkau.
Ulama dan pendakwah perlu memperluas materi dakwah keluarga. Jangan hanya mengajarkan bagaimana menikah, tetapi juga bagaimana mempertahankan pernikahan.
Sekolah dan madrasah perlu memberikan pendidikan karakter, adab pergaulan, literasi digital dan kesiapan kehidupan berkeluarga.
Dayah dan pesantren dapat menjadi benteng pendidikan moral, sekaligus ruang pembinaan yang ramah bagi generasi muda.
Orang tua harus menjadi tempat anak bertanya tentang cinta, pernikahan dan masa depan. Jangan sampai anak lebih nyaman mencari jawaban kepada media sosial daripada kepada ayah dan ibunya.
Dan masyarakat harus berhenti menjadikan pesta pernikahan sebagai ukuran keberhasilan perkawinan.
Yang harus kita rayakan bukan kemewahan pesta. Yang harus kita banggakan adalah ketahanan rumah tangga setelah pesta selesai.
Menyelamatkan Rumah, Menyelamatkan Generasi
Pada akhirnya, jihad imunitas keluarga adalah jihad peradaban. Kita sedang berusaha mempertahankan sebuah institusi yang Allah sebut sebagai tempat sakinah, mawaddah wa rahmah.
Kita sedang menjaga anak-anak agar tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih. Kita sedang menjaga generasi agar tidak kehilangan arah. Dan kita sedang menjaga keberlanjutan keturunan manusia dalam bingkai kehormatan dan tanggung jawab.
Karena itu, jangan menunggu angka perceraian semakin tinggi baru kita bergerak. Jangan menunggu anak muda semakin takut menikah baru kita bertanya. Jangan menunggu keluarga retak baru kita mencari penyangga.
Mulailah sebelum akad.
Ajarkan anak laki-laki menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Ajarkan anak perempuan menjadi perempuan yang bermartabat. Ajarkan keduanya bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi tanggung jawab.
Kepada para pemuda: jangan takut menikah, tetapi persiapkan diri untuk menikah.
Kepada orang tua: jangan mempersulit pernikahan anak dengan gengsi dan tuntutan yang tidak perlu.
Kepada pasangan: jangan mudah menyerah hanya karena badai datang.
Dan kepada kita semua: mari bangun kembali imunitas keluarga.
Sebab keluarga yang kuat bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah.
Keluarga yang kuat adalah keluarga yang ketika masalah datang, iman menguatkan, ilmu membimbing, komunikasi menyambungkan, kesabaran menahan, dan kasih sayang menyembuhkan.
Itulah jihad imunitas keluarga. Jihad menjaga rumah. Jihad menjaga anak. Jihad menjaga keturunan. Dan pada akhirnya, jihad menjaga masa depan umat dan bangsa.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 25 Safar 1448, 9 Agustus 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman)
Keterangan foto: penulis bersama Dr Agustin Hanapi (tengah) dan Pak Iwa (tim BBC)
