-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Biarkan Emosi Menjadi Kompas

Sabtu, 15 Agustus 2026 | Agustus 15, 2026 WIB Last Updated 2026-08-16T04:49:45Z


Refleksi Tausiyah Subuh Prof. Ilham Maulana tentang Bahaya Provokasi, Amarah, dan Tindakan Tanpa Pertimbangan


Oleh Saifuddin A. Rasyid 

Al-Rasyid.id | Pagi Ahad, 16 Agustus 2026, bertepatan dengan 3 Rabiul Awal 1448 H, saya mengikuti tausiyah Subuh yang disampaikan cendekiawan Muslim Prof. Ilham Maulana di Masjid Al-A’la, Gampong Cot Mesjid, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. Ada satu pesan yang terasa sangat penting untuk direnungkan, terutama ketika kehidupan sosial kita semakin dipenuhi informasi, perdebatan, provokasi dan berbagai bentuk tekanan emosional.


Prof. Ilham mengingatkan umat Islam agar tidak bertindak berdasarkan emosi dan provokasi, tetapi berdasarkan pertimbangan yang matang, memohon petunjuk Allah, serta mengikuti tata cara, strategi dan akhlak yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.


Pesan ini sesungguhnya bukan sekadar nasihat agar kita bersabar. Ia merupakan prinsip besar dalam membangun kematangan pribadi seorang Muslim.


Emosi boleh hadir, tetapi tidak boleh menjadi pemimpin


Marah adalah bagian dari tabiat manusia. Persoalannya bukan apakah seseorang pernah marah, tetapi siapa yang memimpin dirinya ketika sedang marah.


Rasulullah SAW memberikan ukuran kekuatan manusia yang sangat berbeda dari ukuran kebanyakan orang. Beliau bersabda:


لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ


“Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Muslim). 


Dalam riwayat lain, ketika seseorang meminta nasihat kepada Nabi SAW, beliau berulang kali menjawab:


لَا تَغْضَبْ


“Jangan marah.” (HR. Bukhari).


Hadis ini bukan berarti manusia tidak boleh memiliki rasa marah sama sekali. Yang ditekankan adalah jangan sampai kemarahan mengambil alih akal sehat, menghilangkan pertimbangan, lalu mendorong seseorang melakukan sesuatu yang akhirnya ia sesali.


Karena ketika seseorang marah, keputusan yang seharusnya membutuhkan pertimbangan panjang sering kali dipaksa lahir dalam hitungan detik.


Provokasi bekerja dengan mematikan pertimbangan


Di sinilah relevansi peringatan Prof. Ilham tentang provokasi.


Provokasi pada dasarnya berusaha membuat seseorang bereaksi sebelum berpikir.


Sebuah berita belum diperiksa, langsung dipercaya. Sebuah ucapan belum dipahami konteksnya, langsung dibalas. Sebuah tuduhan belum terbukti, langsung disebarkan. Seseorang belum mengetahui persoalan secara utuh, tetapi sudah mengambil sikap berdasarkan potongan informasi.


Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu.” (QS. Al-Hujurat: 6). 


Perhatikan ujung ayat tersebut: “kemudian kamu menjadi menyesal.”


Penyesalan sering datang setelah tindakan, bukan sebelum tindakan.


Karena itu, salah satu ciri kematangan seseorang adalah kemampuan menciptakan jeda antara stimulus dan respons.


Ada berita masuk—jangan langsung bereaksi.

Ada orang menghina—jangan langsung membalas.

Ada provokasi—jangan langsung ikut arus.

Ada masalah—jangan langsung mengambil keputusan.


Berhenti sejenak. Tenangkan diri. Periksa kebenarannya. Pikirkan akibatnya. Mohon petunjuk Allah. Barulah bertindak.


Bahkan dalam perang pun Islam mengenal aturan


Pesan Prof. Ilham menjadi semakin penting ketika beliau mengingatkan bahwa bahkan dalam situasi perang pun Rasulullah SAW tidak membiarkan umat bertindak semata-mata berdasarkan kemarahan, dendam dan emosi.


Islam tidak mengajarkan bahwa karena seseorang merasa benar, maka ia boleh melakukan apa saja.


Kebenaran tetap memiliki cara untuk diperjuangkan. Tujuan yang baik tidak menghalalkan cara yang buruk. Semangat tidak boleh menghapus aturan. Keberanian tidak boleh menghilangkan kebijaksanaan.


Al-Qur’an bahkan ketika berbicara mengenai situasi peperangan mengingatkan:


وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ


“Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. Bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46).


Ayat ini menunjukkan bahwa dalam keadaan penuh tekanan sekalipun, umat Islam tetap diperintahkan untuk menjaga ketaatan, persatuan dan kesabaran.


Artinya, situasi genting justru semakin membutuhkan kepala yang dingin. Jangan biarkan setan memilihkan keputusan untuk kita


Salah satu bagian penting dari tausiyah Prof. Ilham adalah peringatan bahwa kemarahan dan provokasi dapat menjadi pintu bagi setan untuk mempermainkan manusia.


Ini masuk akal dalam perspektif Al-Qur’an. Ketika seseorang kehilangan kendali, pertimbangannya menjadi lemah. Ia mudah digiring dari satu reaksi kepada reaksi berikutnya.


Mulanya hanya tersinggung.

Kemudian marah.

Kemudian membalas.

Kemudian membesar-besarkan.

Kemudian mencari pembenaran.

Kemudian mengajak orang lain.


Dan akhirnya seseorang bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak akan ia lakukan jika berada dalam keadaan tenang.


Al-Qur’an mengajarkan bahwa ketika datang bisikan buruk dari setan, seorang mukmin harus segera berlindung kepada Allah. Dalam rangkaian ayat Surah Fussilat, setelah memerintahkan membalas keburukan dengan cara yang lebih baik, Allah berfirman:


وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ


“Dan jika setan menggodamu dengan suatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah.” (QS. Fussilat: 36). 


Maka istighfar, isti’adzah, diam sejenak, berwudhu, shalat dan bermusyawarah bukan sekadar ritual. Semuanya dapat menjadi jalan untuk mengembalikan kendali diri kepada akal sehat dan tuntunan wahyu.


Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kebencian


Al-Qur’an juga memberikan prinsip yang sangat tinggi tentang bagaimana seorang Muslim harus bertindak terhadap orang yang tidak disukainya.


Allah berfirman:


وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ


“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).


Ini adalah standar moral yang luar biasa. Islam tidak mengatakan, “Berlaku adillah hanya kepada orang yang kamu sukai.”


Sebaliknya, justru ketika kita tidak suka kepada seseorang, di situlah kualitas keadilan kita diuji.


Imam Al-Qurthubi dan para mufasir lainnya memberi perhatian besar terhadap prinsip bahwa kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan keadilan. Bahkan dalam tradisi Islam, seseorang tidak boleh membiarkan emosi pribadi mengubah ukuran benar dan salah.


Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mengatakan: “Karena saya membencinya, maka apa pun yang dia lakukan pasti salah.”


Itu bukan keadilan. Itu adalah penilaian yang telah dikendalikan emosi.


Ibnu Abbas dan pelajaran membalas keburukan dengan kebaikan


Dalam penafsiran QS. Fussilat ayat 34, para ulama menjelaskan bahwa perintah “idfa’ billati hiya ahsan”—menolak keburukan dengan sesuatu yang lebih baik—merupakan pendidikan akhlak yang tinggi.


Tafsir yang mengutip penjelasan Ibn Abbas RA menyebutkan maknanya antara lain bersabar menghadapi orang yang marah, bersikap toleran kepada orang yang bersikap bodoh, dan memaafkan orang yang berbuat buruk. 


Allah berfirman:


ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ


“Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik, maka orang yang antara kamu dan dia terdapat permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34). 


Tetapi ayat berikutnya memberikan syarat yang penting:


وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا


“Sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Fussilat: 35).


Jadi kemampuan membalas keburukan dengan kebaikan bukan kelemahan. Itu adalah hasil dari kesabaran, kematangan jiwa dan kekuatan pengendalian diri.


Ilmu membuat seseorang tidak mudah dipermainkan


Dari sini kita sampai pada kebutuhan yang sangat penting bagi generasi muda Muslim: belajar ilmu dan sejarah.


Anak-anak muda kita jangan hanya belajar bagaimana menjadi cepat bereaksi. Mereka harus belajar bagaimana menjadi matang dalam mengambil keputusan.


Pelajarilah Al-Qur’an.

Pelajarilah sirah Rasulullah SAW. Pelajarilah bagaimana Rasulullah menghadapi orang yang memusuhi beliau.


Pelajarilah bagaimana Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA dan Ali RA menghadapi persoalan umat.


Pelajarilah sejarah para ulama.

Pelajarilah bagaimana para ulama berbeda pendapat tanpa kehilangan adab.


Dengan membaca sejarah, kita akan menemukan bahwa para tokoh besar Islam tidak selalu berada dalam situasi mudah. Mereka menghadapi fitnah, tekanan, perbedaan pendapat, ancaman dan konflik. Namun mereka memiliki ilmu, kesabaran, visi dan kemampuan menimbang akibat sebelum mengambil keputusan.


Inilah yang disebut kematangan pribadi. Orang yang kurang ilmu mudah dipancing. Orang yang hanya mengandalkan emosi mudah diarahkan. Orang yang tidak memahami sejarah mudah mengulangi kesalahan.


Sebaliknya, orang yang memiliki ilmu akan belajar melihat persoalan dari berbagai sisi.


Ilmu modern pun berbicara tentang pengendalian emosi


Menariknya, pesan keislaman ini memiliki titik temu dengan kajian psikologi modern tentang emotional intelligence atau kecerdasan emosional.


Daniel Goleman, salah seorang tokoh yang mempopulerkan konsep kecerdasan emosional, menempatkan kemampuan mengelola emosi sebagai bagian penting dari kecerdasan manusia. Dalam kehidupan nyata, seseorang tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual; ia juga harus mampu mengenali emosi, mengendalikannya dan merespons keadaan secara tepat.


Dalam bahasa sederhana: jangan biarkan perasaan sesaat membuat keputusan yang konsekuensinya berlangsung bertahun-tahun.


Prinsip yang sama juga banyak ditekankan dalam dunia pengembangan diri dan motivasi: orang yang berhasil bukan hanya orang yang memiliki semangat besar, tetapi orang yang mampu mengarahkan semangat itu dengan tujuan, disiplin dan perencanaan.


Dengan demikian, antara nasihat agama dan ilmu pengembangan manusia terdapat satu titik temu: respons yang matang lebih kuat daripada reaksi yang spontan.


Generasi masa depan membutuhkan Muslim yang tenang tetapi tegas karena dunia masa depan akan semakin kompleks.


Media sosial semakin cepat. Informasi semakin deras. Kecerdasan buatan semakin berkembang. Perbedaan politik dan sosial semakin mudah masuk ke ruang keluarga. Potongan video dapat membuat orang marah sebelum mengetahui konteksnya. Judul berita dapat membuat orang mengambil kesimpulan sebelum membaca isinya.


Dalam keadaan seperti ini, generasi Muslim membutuhkan kemampuan baru: literasi informasi, kedalaman ilmu, kecerdasan emosional dan kekuatan spiritual.


Bukan berarti menjadi Muslim yang pasif atau tidak berani bersikap.


Justru sebaliknya. Kita membutuhkan generasi yang berani karena ilmu, tegas karena prinsip, tenang karena iman dan bijaksana karena pengalaman.


Ketika harus mengatakan benar, ia mengatakan benar.

Ketika harus mengatakan salah, ia mengatakan salah.


Tetapi ia tidak mencaci.

Ia tidak memfitnah.

Ia tidak menyebarkan sesuatu yang belum jelas.

Ia tidak membalas provokasi dengan provokasi.

Ia tidak menjadikan dendam sebagai kompas kehidupan.


Ia bertanya kepada dirinya sebelum bertindak: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya? Apa akibatnya bagi diri saya, keluarga, masyarakat dan umat?


Jangan biarkan orang lain memegang tombol emosi kita


Pada akhirnya, pesan Prof. Ilham Maulana pada Subuh itu dapat kita ringkas dalam satu kalimat:


Jangan serahkan kendali diri kita kepada orang lain melalui provokasi.


Jika seseorang dapat membuat kita marah hanya dengan beberapa kata, berarti ia telah menemukan tombol yang dapat mengendalikan kita.


Jika sebuah pesan WhatsApp dapat membuat kita menyebarkan fitnah, berarti kita telah menjadi bagian dari permainan provokasi.


Jika kebencian kepada seseorang membuat kita kehilangan kemampuan berlaku adil, berarti emosi telah mengalahkan iman.


Karena itu, belajar mengendalikan diri bukan sekadar persoalan akhlak pribadi. Ia merupakan strategi kehidupan.


Kita membutuhkan generasi Muslim yang tidak mudah dipermainkan oleh provokasi, tidak mudah dibakar oleh kemarahan, tidak mudah digiring oleh kebencian, tetapi mampu berhenti, berpikir, berdoa, bermusyawarah dan kemudian bertindak sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.


Sebab kekuatan seorang Muslim bukan terletak pada seberapa keras ia bereaksi, tetapi pada seberapa matang ia memilih kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus memaafkan, kapan harus tegas, dan bagaimana tetap berada di jalan kebenaran ketika emosi sedang memuncak.


Itulah kematangan yang perlu diwariskan kepada generasi kita.


Dan barangkali inilah salah satu pesan terpenting dari tausiyah Subuh Prof. Ilham Maulana pagi ini: jangan jadikan emosi sebagai kompas; jadikan ilmu, iman, akhlak, musyawarah dan petunjuk Allah sebagai kompas kehidupan.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 3 Rabiul Awal 1448, 16 Agustus 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, tinggal di Barabung Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update