Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi ini saya mendapat pesan dari seorang pembaca tulisan saya sebelumnya, Bunda Tasnim Idris. Beliau menyampaikan bahwa setelah membaca opini “Jangan Menunda Kebaikan” dan “Mengubah Tarsok Menjadi Let’s Go”, ada satu peribahasa Inggris yang menurut beliau sangat cocok dengan spirit tulisan tersebut, yaitu: “What you can do today, don’t wait until tomorrow.” Apa yang dapat dilakukan hari ini, jangan menunggu sampai besok.
Pesan sederhana itu kemudian berkembang menjadi percakapan kecil melalui WhatsApp. Saya merasa Bunda Tasnim benar. Peribahasa tersebut memang memiliki semangat yang sama dengan gagasan yang sedang saya renungkan tentang tarsok dan let’s go: jangan terlalu mudah memindahkan pekerjaan, kebaikan, kesempatan dan tanggung jawab hari ini kepada hari esok.
Dari percakapan kecil itulah kemudian saya terdorong menulis refleksi lanjutan ini. Jika tulisan sebelumnya lebih banyak mengajak kita mengubah kebiasaan “tarsok” menjadi “let’s go”, tulisan kali ini ingin melihat persoalan itu dari sisi akibatnya: jangan sampai waktu yang kita sia-siakan hari ini berubah menjadi penyesalan di kemudian hari.
Maka saya memilih judul “Jangan Biarkan Waktu Menjadi Penyesalan.”
Ada ungkapan dalam bahasa Inggris yang sangat sederhana, tetapi menyimpan pelajaran kehidupan yang dalam: “What you can do today, don’t wait until tomorrow.” Jangan menunggu sampai besok sesuatu yang sebenarnya dapat kita kerjakan hari ini.
Ungkapan ini sesungguhnya bukan ajakan untuk tergesa-gesa. Ia adalah ajakan agar kita tidak menjadikan menunda sebagai kebiasaan. Sebab ada pekerjaan yang memang harus direncanakan untuk besok, tetapi ada pula pekerjaan yang sebenarnya dapat dilakukan hari ini namun sengaja kita geser karena malas, ragu, takut, atau sekadar terbiasa mengatakan, “nanti saja”.
Waktu adalah pedang
Dalam khazanah ungkapan Arab terdapat kalimat yang sangat terkenal:
الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك
Al-waqtu kas-saifi, in lam taqtha‘hu qatha‘aka.
“Waktu itu seperti pedang. Jika engkau tidak memotongnya, ia akan memotongmu.”
Pesannya sangat tajam.
Pedang adalah alat yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Tetapi jika kita tidak mengendalikannya, ketajamannya justru dapat melukai bahkan membinasakan diri sendiri.
Begitulah waktu.
Jika waktu kita gunakan untuk belajar, bekerja, beribadah, membangun keluarga, mengembangkan usaha, membantu sesama dan menghasilkan karya, waktu menjadi modal kehidupan.
Tetapi jika waktu kita biarkan berlalu tanpa arah, ia justru menjadi sesuatu yang merugikan kita. Kesempatan hilang, usia bertambah, tenaga berkurang, sementara pekerjaan dan cita-cita tetap berada di tempat yang sama.
Karena itu, waktu bukan sekadar angka pada jam atau kalender. Waktu adalah bagian dari umur kita yang sedang berjalan menuju akhir.
Allah SWT bahkan memberikan perhatian yang sangat serius terhadap waktu:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-’Ashr: 1–2).
Perhatikan kata “khusr”, kerugian.
Seolah-olah manusia sedang berada dalam sebuah perjalanan yang waktunya terus berkurang. Setiap hari yang berlalu bukan sekadar kalender yang berganti, tetapi umur yang berkurang.
Hasan al-Bashri memberikan peringatan yang sangat terkenal: manusia pada hakikatnya adalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, sebagian dari dirinya pun ikut berlalu.
Maka orang yang menyia-nyiakan waktu sebenarnya sedang menyia-nyiakan sebagian dari dirinya sendiri.
Jangan salah memahami “hari ini”
Namun demikian, “what you can do today, don’t wait until tomorrow” juga perlu dipahami secara proporsional.
Bukan berarti semua pekerjaan harus diselesaikan hari ini. Hidup membutuhkan perencanaan, prioritas, kesabaran dan tahapan.
Ada pekerjaan yang memang harus menunggu.
Ada keputusan yang membutuhkan pertimbangan.
Ada cita-cita yang membutuhkan proses panjang.
Ada hasil yang tidak mungkin diperoleh secara instan.
Karena itu, yang harus kita lawan bukan penundaan yang terencana, melainkan penundaan tanpa alasan yang benar.
Menunggu waktu yang tepat adalah kebijaksanaan.
Tetapi terus menunggu karena takut memulai adalah kelemahan.
Menyusun rencana adalah kecerdasan.
Tetapi terus menyusun rencana tanpa pernah memulai adalah penundaan.
Kita sering berkata:
“Nanti saya belajar.”
“Nanti saya membaca.”
“Nanti saya mengerjakan.”
“Nanti saya meminta maaf.”
“Nanti saya berbuat baik.”
“Nanti saya mulai usaha.”
“Nanti saya berubah.”
Masalahnya, kita sering menganggap “nanti” sebagai sesuatu yang pasti tersedia.
Padahal tidak ada yang menjamin bahwa “nanti” benar-benar menjadi milik kita.
Karena itu, tarsok boleh menjadi jadwal, tetapi jangan sampai menjadi karakter.
Lima kesempatan yang jangan dilewatkan
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar memanfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima keadaan: masa muda sebelum tua, kesehatan sebelum sakit, kekayaan sebelum kemiskinan, waktu luang sebelum kesibukan, dan kehidupan sebelum kematian.
Lima pasangan ini sesungguhnya merupakan peta besar kehidupan manusia.
Pertama, masa muda sebelum tua.
Masa muda adalah masa energi, keberanian, kreativitas dan kesempatan belajar. Anak muda yang menggunakan masa mudanya untuk menuntut ilmu, membangun karakter dan mengembangkan keterampilan sedang menyiapkan dirinya untuk masa depan.
Kedua, sehat sebelum sakit.
Ketika sehat, kita sering menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa. Kita menunda menjaga tubuh, hingga baru menyadari nilainya ketika kesehatan mulai berkurang.
Ketiga, kaya sebelum miskin.
Harta adalah kesempatan untuk berbuat manfaat. Jangan menunggu menjadi sangat kaya untuk mulai berbagi.
Keempat, waktu luang sebelum sibuk.
Waktu luang yang tidak dimanfaatkan akhirnya dapat menjadi penyesalan ketika kesibukan datang.
Kelima, hidup sebelum mati.
Inilah kesempatan terbesar. Selama masih hidup, kita masih dapat memperbaiki diri, belajar, meminta maaf, berdamai, berkarya dan berbuat baik.
Tetapi ketika kematian datang, tidak ada lagi “tarsok”.
Tidak ada lagi “besok saya lakukan”.
“Menyesal” dan pesan kepada generasi muda
Di sinilah saya teringat kepada sebuah sajak yang sangat kuat dari penyair Aceh, A. Hasjmy atau Ali Hasjmy, berjudul Menyesal. Sajak ini sering dikaitkan secara keliru dengan Buya Hamka, padahal karya tersebut adalah karya A. Hasjmy.
Sajak itu dimulai dengan larik yang sangat menggugah:
“Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku telah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi”
Kemudian penyair mengakui kelalaiannya:
“Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta”
Dan akhirnya:
“Ah! Apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma”
Pesannya sangat jelas: penyesalan yang datang setelah kesempatan berlalu sering kali tidak mampu mengembalikan apa yang telah hilang.
Tetapi sajak itu tidak berhenti pada kesedihan. Penyair justru memberikan pesan kepada generasi muda:
“Kepada yang muda kuharapkan,
Atur barisan di hari pagi,
Menuju arah padang bakti.”
Inilah bagian yang menurut saya sangat penting.
Penyesalan generasi terdahulu seharusnya menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya, bukan diwariskan menjadi kesalahan yang sama.
Siapa yang kalah oleh waktu?
Kekalahan seseorang dalam kehidupan tidak selalu dimulai dari kegagalan besar. Kadang-kadang ia dimulai dari kebiasaan kecil yang terus diulang: menunda sesuatu yang sebenarnya dapat dilakukan hari ini.
Orang yang berpotensi kalah dalam pertarungan dengan waktu biasanya banyak berbicara tentang rencana tetapi sedikit memulai; lebih banyak mengatakan “nanti” daripada “mari kita mulai”; menunggu keadaan sempurna sebelum bergerak; baru menghargai masa muda setelah tua; baru menghargai kesehatan setelah sakit; baru menghargai keluarga setelah kehilangan; dan baru menghargai kesempatan setelah kesempatan itu berlalu.
Yang paling berbahaya adalah ketika seseorang merasa masih memiliki banyak waktu.
Padahal merasa masih memiliki waktu sering kali menjadi jebakan terbesar dalam kehidupan.
Dari tarsok menuju tindakan
Karena itu, tulisan ini bukan ajakan untuk menjadi orang yang tergesa-gesa.
Kita justru perlu bersikap proporsional terhadap waktu.
Tahu kapan harus mulai.
Tahu kapan harus menunggu.
Tahu mana yang harus didahulukan.
Tahu mana yang harus ditinggalkan.
Dan tahu bahwa setiap kesempatan mempunyai batas.
Kalau sesuatu memang penting dan dapat dilakukan hari ini, lakukanlah.
Kalau sebuah kebaikan dapat dimulai sekarang, mulailah.
Kalau ada ilmu yang dapat dipelajari hari ini, pelajarilah.
Kalau ada pekerjaan yang dapat diselesaikan hari ini, selesaikanlah.
Kalau ada orang yang perlu dibantu hari ini, bantulah.
Kalau ada kesalahan yang harus diperbaiki, perbaikilah.
Kalau ada orang yang harus dimintai maaf, jangan terlalu lama menunggu.
Inilah makna sesungguhnya dari “let’s go”.
Bukan asal bergerak, tetapi bergerak menuju kebaikan pada waktu yang tepat.
Kepada generasi muslim dan generasi bangsa
Kepada generasi muslim khususnya dan generasi bangsa Indonesia pada umumnya, mari kita belajar menghormati waktu.
Gunakan masa muda untuk belajar.
Gunakan kesehatan untuk bekerja.
Gunakan ilmu untuk membimbing.
Gunakan harta untuk memberi manfaat.
Gunakan waktu luang untuk berkarya.
Gunakan jabatan untuk mengabdi.
Gunakan kehidupan untuk beribadah dan memberikan kemanfaatan.
Jangan menganggap masa muda akan berlangsung selamanya.
Jangan menganggap kesehatan akan selalu menemani.
Jangan menganggap kesempatan akan selalu datang kembali.
Jangan menganggap orang-orang yang kita cintai akan selalu berada di sekitar kita.
Dan jangan menganggap hidup akan selalu memberikan hari esok.
Sebab waktu terus bergerak.
Jarum jam tidak pernah berhenti hanya karena kita belum siap.
Matahari tidak menunggu kita selesai bermalas-malasan sebelum terbenam.
Hari tidak kembali hanya karena kita menyesal belum menggunakannya.
Itulah sebabnya waktu diibaratkan seperti pedang.
Jika kita mampu mengendalikannya, ia menjadi alat untuk membangun kehidupan.
Tetapi jika kita membiarkannya berlalu tanpa arah, ketajamannya dapat berbalik membinasakan kita sendiri.
Maka jangan sampai suatu hari nanti kita berdiri di “petang” kehidupan sambil berkata:
“Pagiku hilang sudah melayang.”
Sebelum sampai ke sana, masih ada kesempatan.
Hari ini masih ada.
Kita masih hidup.
Kita masih dapat belajar.
Kita masih dapat berbuat.
Kita masih dapat memperbaiki diri.
Maka jangan biarkan kesempatan itu berlalu.
Jangan biarkan waktu menjadi penyesalan.
Karena yang kita sebut “hari ini” sesungguhnya adalah kesempatan yang sedang berada di tangan kita.
Dan ketika kesempatan itu telah pergi, ia tidak akan kembali hanya karena kita berkata:
“Seandainya dulu saya mulai.”
Maka, mari mulai sekarang.
Bukan besok.
Bukan tarsok.
Sekarang.
Wallahu a’lam
Darussalam 11 Rabiul Awal 1448, 24 Agustus 2026
(Penulis, pegiat dakwah, saat mahasiswa di Fakultas Dakwah/Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry tahun 1982 sd 1988 sempat belajar pada pujangga A. Hasjmy, akademisi FAH UIN Ar-Raniry, tinggal di Barabung Aceh Besar)
