Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada sebuah kebiasaan yang kelihatannya sederhana, tetapi kalau dipelihara terus-menerus dapat menjadi persoalan serius: menunda.
“Nanti saja.”
“Besok saja.”
“Lusa kita kerjakan.”
“Sebentar lagi.”
Dalam percakapan sehari-hari, kebiasaan menunda itu bahkan sering diringkas dengan istilah yang terdengar ringan: tarsok — nanti besok.
Awalnya mungkin hanya candaan. Tetapi kalau tarsok sudah menjadi pola hidup, ia dapat berubah menjadi karakter. Dan ketika sudah menjadi karakter, seseorang bisa kehilangan banyak kesempatan hanya karena terlalu sering berkata: “nanti.”
Karena itu, barangkali sudah saatnya kita mengubah tarsok menjadi let’s go.
Bukan berarti setiap pekerjaan harus dilakukan secara tergesa-gesa. Bukan pula berarti kita harus bergerak tanpa berpikir. Let’s go yang dimaksud adalah kesiapan untuk bergerak setelah berpikir, menghitung, merencanakan, dan menentukan strategi.
Sebab hidup tidak cukup hanya dengan niat.
Hidup membutuhkan tindakan.
Tarsok: Ketika “Nanti” Menjadi Kebiasaan
Ada orang yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi prestasinya biasa-biasa saja karena terlalu sering menunda.
Ada mahasiswa yang cerdas, tetapi tugasnya selalu dikerjakan menjelang tenggat waktu.
Ada pegawai yang sebenarnya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tetapi selalu menunggu sampai didesak.
Ada orang yang sudah lama ingin belajar, membaca, menulis, berolahraga, memperbaiki ibadah, atau membangun usaha, tetapi semuanya selalu dimulai dengan kalimat:
“Nanti dulu.”
Masalahnya, waktu tidak pernah menunggu.
Tugas yang ditunda tidak menghilang. Ia justru menumpuk.
Kesempatan yang ditunda tidak selalu datang kembali.
Dan kebiasaan menunda yang terus dipelihara perlahan-lahan dapat mengikis disiplin, kepercayaan diri, produktivitas, bahkan kepercayaan orang lain kepada kita.
Dalam psikologi, perilaku menunda pekerjaan dikenal sebagai prokrastinasi. Para ahli membedakannya dari sekadar beristirahat atau menyusun prioritas. Prokrastinasi terjadi ketika seseorang secara sukarela menunda pekerjaan yang sebenarnya sudah diketahui perlu dilakukan, meskipun ia sadar bahwa penundaan itu kemungkinan membawa konsekuensi yang tidak baik.
Di sinilah persoalannya.
Orang yang menunda bukan selalu orang yang tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Sering kali ia tahu, tetapi tidak segera bergerak.
Mengapa Orang Suka Menunda?
Ada banyak sebab.
Sebagian menunda karena takut gagal.
Sebagian karena merasa pekerjaannya terlalu berat.
Sebagian karena ingin semuanya sempurna sehingga tidak kunjung memulai.
Sebagian karena terlalu nyaman.
Sebagian karena tidak mampu mengatur waktu.
Sebagian lagi karena terbiasa mendapatkan tekanan baru kemudian bergerak.
Ada pula yang sebenarnya bukan malas, tetapi tidak memiliki prioritas yang jelas. Akibatnya, semua pekerjaan terasa penting, tetapi tidak ada yang benar-benar segera dikerjakan.
Dalam psikologi modern, penundaan juga sering dikaitkan dengan kemampuan mengatur diri (self-regulation). Ketika seseorang lebih memilih kenyamanan sesaat daripada manfaat jangka panjang, ia cenderung menunda pekerjaan yang sebenarnya penting.
Misalnya:
Belajar terasa berat, maka memilih bermain.
Menulis terasa sulit, maka memilih berselancar di media sosial.
Menyelesaikan laporan terasa membosankan, maka memilih mengerjakan hal lain.
Meminta maaf terasa berat, maka hubungan dibiarkan semakin jauh.
Akhirnya, kenyamanan hari ini dibayar dengan kesulitan esok hari.
Al-Qur’an Tidak Mengajarkan Mentalitas Menunda Kebaikan
Islam justru mengajarkan agar manusia berlomba dan bersegera dalam kebaikan.
Allah berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148).
Pada ayat lain Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَبِّكُمْ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu.”
(QS. Ali ’Imran: 133).
Kata sāri‘ū mengandung semangat untuk bersegera.
Artinya, seorang muslim tidak semestinya membangun kebiasaan menunda-nunda kebaikan.
Ketika kesempatan berbuat baik datang, jangan terlalu lama membiarkannya berada dalam ruang niat.
Niat perlu diberi kaki agar bisa berjalan menjadi amal.
Rasulullah: Bersungguh-sungguh dan Jangan Lemah
Ada sebuah hadis yang sangat relevan dengan mentalitas let’s go.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”
(HR. Muslim).
Hadis ini menarik karena tidak hanya berbicara tentang bergerak, tetapi juga tentang arah gerakan.
Iḥriṣ — bersungguh-sungguhlah.
Wasta‘in billāh — mintalah pertolongan Allah.
Wa lā ta‘jiz — jangan lemah.
Jadi, Islam tidak mengajarkan gerak yang membabi buta.
Gerak harus diarahkan kepada sesuatu yang bermanfaat.
Karena itu, let’s go bukan berarti asal berangkat.
Let’s go berarti:
tahu tujuan, tahu langkah, tahu risiko, lalu bergerak.
Jangan Tarsok, tetapi Jangan Juga Grusa-Grusu
Di sini kita perlu membedakan dua hal.
Tarsok adalah terlalu lama menunda sesuatu yang seharusnya sudah dapat dilakukan.
Sedangkan grusa-grusu adalah bergerak terlalu cepat tanpa pertimbangan yang cukup.
Keduanya sama-sama tidak ideal.
Orang yang terlalu lambat kehilangan momentum.
Orang yang terlalu cepat tanpa perhitungan kehilangan arah.
Maka yang kita butuhkan bukan sekadar gercep, tetapi gercep yang cerdas.
Gerak cepat, tetapi tetap menggunakan akal.
Cepat mengambil peluang, tetapi tetap menghitung risiko.
Cepat merespons, tetapi tidak reaktif.
Cepat bekerja, tetapi tetap menjaga kualitas.
Cepat mengambil keputusan, tetapi tidak mengabaikan data.
Inilah yang saya kira lebih tepat disebut:
“Let’s go with strategy.”
Ayo bergerak, tetapi dengan perhitungan.
Ciri-Ciri Manusia Tarsok
Kalau kita ingin melakukan perubahan, pertama-tama kita perlu mengenali gejalanya.
Orang yang sudah terjebak dalam mentalitas tarsok biasanya memiliki beberapa kecenderungan.
Pertama, banyak rencana tetapi sedikit eksekusi.
Bicaranya panjang tentang apa yang ingin dilakukan, tetapi langkah pertamanya tidak kunjung dimulai.
Kedua, sering bekerja ketika sudah terdesak.
Deadline menjadi “obat” untuk bergerak.
Ketiga, mudah mencari alasan.
Cuaca, kesibukan, suasana hati, fasilitas, orang lain, dan berbagai keadaan dijadikan alasan untuk menunda.
Keempat, lebih menyukai kenyamanan sesaat daripada manfaat jangka panjang.
Kelima, sering kehilangan momentum.
Kesempatan sudah datang, tetapi karena terlalu lama berpikir atau menunda, kesempatan itu diambil orang lain.
Keenam, merasa masih mempunyai banyak waktu.
Padahal waktu adalah sesuatu yang paling cepat berkurang.
Ketujuh, sering menyesal setelah kesempatan berlalu.
Kalimat yang muncul kemudian:
“Seandainya kemarin saya mulai.”
“Seandainya waktu itu saya berani.”
“Seandainya saya tidak menunda.”
Masalahnya, hidup tidak memiliki tombol rewind.
Ulama dan Kesadaran tentang Waktu
Para ulama klasik sangat serius berbicara tentang waktu.
Imam Hasan al-Bashri dikenal dengan ungkapannya bahwa manusia pada hakikatnya adalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirinya pun ikut berlalu.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah juga banyak mengingatkan tentang pentingnya memanfaatkan waktu dan menjaga umur agar tidak berlalu tanpa amal yang bernilai.
Dalam tradisi keilmuan Islam, waktu bukan sekadar sesuatu yang bergerak dari pagi ke sore.
Waktu adalah modal kehidupan.
Karena itu, orang yang menyia-nyiakan waktu sesungguhnya sedang menyia-nyiakan sebagian kehidupannya.
Maka tarsok bukan hanya masalah manajemen pekerjaan.
Ia juga menyentuh persoalan yang lebih dalam: bagaimana seseorang menghargai umur yang diberikan Allah kepadanya.
Dari Tarsok Menuju Let’s Go
Lalu bagaimana berubah?
Tidak cukup mengatakan, “Saya harus berubah.”
Perubahan membutuhkan kebiasaan baru.
Pertama, ubah bahasa.
Kurangi “nanti”.
Ganti dengan:
“Kapan saya mulai?”
Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang.
Kedua, pecah pekerjaan besar menjadi langkah kecil.
Jangan mengatakan, “Saya harus menyelesaikan semuanya.”
Katakan:
“Saya mulai 20 menit pertama.”
Sering kali yang paling sulit bukan mengerjakan pekerjaan, tetapi memulai pekerjaan.
Ketiga, tentukan batas waktu.
Niat tanpa deadline sering berubah menjadi wacana.
Keempat, bedakan penting dan mendesak.
Jangan menunggu sesuatu menjadi krisis baru kemudian bergerak.
Kelima, buat keputusan yang cukup baik untuk bergerak.
Kesempurnaan tidak boleh menjadi alasan untuk tidak memulai.
Keenam, evaluasi setelah bergerak.
Kalau ternyata langkah pertama kurang tepat, perbaiki.
Jangan berhenti hanya karena langkah pertama belum sempurna.
Seperti Apa Orang yang “Let’s Go”?
Orang let’s go bukan orang yang selalu berlari.
Ia adalah orang yang siap bergerak ketika waktunya bergerak.
Ia memiliki beberapa kecenderungan positif.
Ia responsif, tetapi tidak reaktif.
Ia cepat, tetapi tidak ceroboh.
Ia berani, tetapi bukan nekat.
Ia optimistis, tetapi tetap realistis.
Ia punya target, tetapi fleksibel terhadap perubahan.
Ia mau mengambil peluang, tetapi menghitung risiko.
Ia mau belajar, termasuk belajar dari kegagalan.
Ia tidak terlalu lama meratapi kesalahan. Ia mengambil pelajaran lalu memperbaiki langkah.
Inilah mentalitas yang dibutuhkan di tengah dunia yang bergerak sangat cepat.
Gercep Bukan Lebay
Kita perlu satu keseimbangan lagi.
Gercep tidak sama dengan lebay.
Gercep berarti cepat dalam merespons sesuatu yang memang perlu segera dilakukan.
Lebay berarti berlebihan.
Orang gercep tidak harus selalu terlihat sibuk.
Kadang ia diam.
Kadang ia mengamati.
Kadang ia membaca.
Kadang ia menghitung.
Kadang ia menunggu.
Tetapi ketika waktunya tiba, ia bergerak.
Di sinilah pentingnya perencanaan.
Seorang pelari cepat tetap membutuhkan arah.
Seorang pilot yang cepat menerbangkan pesawat tetap membutuhkan navigasi.
Seorang pemimpin yang cepat mengambil keputusan tetap membutuhkan data.
Maka kecepatan tanpa arah adalah kebingungan yang dipercepat.
Sebaliknya, perencanaan tanpa eksekusi adalah mimpi yang terlalu lama disimpan.
Kita membutuhkan keduanya:
Think first, then go.
Berpikir dahulu, kemudian bergerak.
Gercep untuk Indonesia dan Aceh
Indonesia membutuhkan generasi seperti ini.
Aceh juga membutuhkannya.
Kita sedang berada dalam dunia yang tidak menunggu siapa pun. Teknologi bergerak cepat. Ekonomi berubah cepat. Persaingan pendidikan semakin terbuka. Dunia kerja semakin dinamis. Artificial intelligence mengubah cara manusia belajar dan bekerja.
Dalam situasi seperti itu, mentalitas “nanti saja” akan semakin mahal harganya.
Kita membutuhkan anak-anak muda yang mau belajar sekarang.
Yang mau bekerja sekarang.
Yang mau berinovasi sekarang.
Yang mau membangun usaha sekarang.
Yang mau membaca sekarang.
Yang mau menguasai teknologi sekarang.
Yang mau memperbaiki akhlak sekarang.
Yang mau berkontribusi sekarang.
Bukan berarti mereka harus tergesa-gesa.
Tetapi mereka harus siap.
Siap berpikir.
Siap belajar.
Siap bekerja.
Siap berubah.
Siap mengambil peluang
Dan siap menghadapi kegagalan.
Inilah generasi yang tidak hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapat?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”
Jangan Lalai, Jangan Lebai, Jangan Lambai
Pada akhirnya, mengubah tarsok menjadi let’s go adalah latihan mengubah mentalitas.
Dari menunggu menjadi menjemput.
Dari menunda menjadi memulai.
Dari banyak alasan menjadi banyak tindakan.
Dari sekadar rencana menjadi eksekusi.
Dari takut mencoba menjadi berani belajar.
Tetapi sekali lagi, let’s go bukan berarti asal gas.
Kita tetap membutuhkan ilmu, perencanaan, perhitungan, strategi, doa, dan evaluasi.
Maka barangkali tiga pesan sederhana ini bisa menjadi pegangan:
Jangan lalai — jangan menyia-nyiakan kesempatan.
Jangan lebai — jangan berlebihan dan jangan bertindak tanpa perhitungan.
Jangan lambai — jangan terlalu lambat, manja dan merasa lemah ketika momentum sudah datang.
Mari kita ubah:
“Tarsok” menjadi “Let’s go”.
Bukan dari gegabah menjadi tergesa-gesa.
Bukan dari malas menjadi asal bergerak.
Tetapi dari menunda menjadi bertindak, dari pasif menjadi responsif, dari lelet menjadi gercep, dari ragu-ragu menjadi berani dengan perhitungan.
Indonesia membutuhkan manusia-manusia seperti itu.
Aceh yang memiliki kekayaan sumber daya, tradisi keilmuan, sejarah, dan mayoritas masyarakat muslim juga membutuhkan generasi yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi sigap menghadapi perubahan dan produktif menghadirkan kemaslahatan.
Sebab masa depan tidak datang kepada orang yang hanya menunggunya.
Masa depan lebih mungkin diraih oleh mereka yang mempersiapkan diri, membaca peluang, menyusun strategi, lalu bergerak.
Jadi, kalau hari ini ada kebaikan yang bisa dilakukan, pekerjaan yang bisa dimulai, ilmu yang bisa dipelajari, peluang yang bisa dijemput, dan kontribusi yang bisa diberikan, jangan terlalu cepat berkata:
“Tarsok saja.”
Katakan:
“Bismillah. Let’s go!”
Jangan lalai.
Jangan lebai.
Jangan lambai.
Gercep, tetapi tetap cerdas.
Cepat, tetapi tetap tepat.
Berani bergerak, tetapi tetap penuh perhitungan.
Sebab hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan terlalu banyak berkata “nanti.”
Wallahu a’lam
Darussalam 10 Rabiul Awal 1448, 23 Agustus 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, tinggal di Barabung Aceh Besar)
