Tulisan ini didedikasikan khusus untuk para mahasiswa
Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Langkah pertama Prof. Dr. Mujiburrahman setelah kembali dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2026–2030 bukanlah mengumumkan program besar atau menyampaikan target-target ambisius. Beliau justru memilih membangun komunikasi dengan seluruh sivitas akademika.
Dalam pesannya, Prof. Mujib mengucapkan syukur kepada Allah SWT, menyampaikan terima kasih atas doa, dukungan, dan kerja sama seluruh keluarga besar UIN Ar-Raniry, serta memohon agar perjalanan pada periode kedua ini terus didampingi dengan masukan, kritik yang membangun, dan doa.
Di antara pesan tersebut, ada satu kalimat yang patut mendapat perhatian lebih, yakni ajakan untuk melanjutkan jihad akademik. “Kita lanjutkan bekerja dengan sungguh sungguh untuk membangun SDM, moralitas, intelektualitas, integritas dan fasilitas dilandasi semangat jihad akademik”, kata Prof Mujib dalam pesan singkatnya.
Jihad
Bagi sebagian orang, istilah jihad masih sering dipahami secara sempit. Padahal dalam khazanah Islam, jihad berarti mengerahkan seluruh kemampuan untuk menegakkan kebaikan, memperjuangkan kemaslahatan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam lingkungan perguruan tinggi, jihad itu menemukan bentuknya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pembinaan akhlak dan integritas.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-’Ankabut: 69).
Kesungguhan itulah hakikat jihad akademik. Ia bukan perjuangan dengan senjata, tetapi perjuangan dengan ilmu, akhlak, kerja keras, dan kejujuran.
Wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW juga menjadi fondasi jihad akademik. Perintah Iqra’ (QS. Al-’Alaq: 1–5) menegaskan bahwa peradaban Islam dibangun melalui membaca, belajar, meneliti, dan mengembangkan ilmu. Bahkan Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk terus berdoa:
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114).
Artinya, perjuangan mencari ilmu tidak pernah mengenal titik akhir.
Dalam pandangan M. Quraish Shihab, jihad adalah mengerahkan seluruh potensi untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan yang diridhai Allah.
Sementara almarhum Azyumardi Azra berulang kali mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam hanya mungkin terwujud melalui penguatan tradisi ilmu, budaya riset, dan keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Adapun Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah melahirkan manusia beradab (insan adabi), bukan sekadar manusia yang memiliki pengetahuan.
Dalam konteks UIN Ar-Raniry, jihad akademik sesungguhnya adalah menghidupkan Tridharma Perguruan Tinggi sebagai ibadah.
Bagi pimpinan universitas, jihad akademik berarti menghadirkan tata kelola yang bersih, transparan, akuntabel, dan visioner. Kepemimpinan harus mampu menciptakan iklim akademik yang sehat, membuka ruang kolaborasi, serta memberi kesempatan yang adil bagi setiap dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk berkembang.
Bagi dosen, jihad akademik diwujudkan dengan mengajar secara profesional, memperbarui wawasan keilmuan, menghasilkan penelitian yang berkualitas, menulis karya ilmiah yang memberi manfaat, serta mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Mengajar bukan sekadar memenuhi beban kerja dosen, tetapi membentuk generasi yang berpikir kritis, berakhlak mulia, dan siap menjawab tantangan zaman.
Bagi guru besar dan peneliti, jihad akademik tidak berhenti pada publikasi ilmiah atau peningkatan indeks sitasi. Kehadiran mereka diharapkan menjadi rujukan ilmiah bagi pemerintah, dunia usaha, lembaga keagamaan, dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan Aceh dan Indonesia. Kampus kata orang harus menjadi pusat lahirnya solusi, bukan sekadar pusat produksi teori.
Bagi tenaga kependidikan, jihad akademik hadir melalui pelayanan yang cepat, ramah, profesional, dan berintegritas. Administrasi yang tertib dan pelayanan yang baik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mutu sebuah perguruan tinggi.
Sementara bagi mahasiswa, jihad akademik berarti membangun budaya membaca, berdiskusi, meneliti, menulis, berorganisasi secara sehat, menjaga etika akademik, serta menolak segala bentuk plagiarisme dan kecurangan. Gelar akademik tidak akan bermakna apabila diperoleh tanpa kejujuran.
Tantangan
Namun, setiap jihad memiliki tantangan. Musuh jihad akademik hari ini bukanlah keterbatasan gedung atau fasilitas semata, melainkan budaya instan, rendahnya minat baca, plagiarisme, penyalahgunaan teknologi, serta kecenderungan mengejar angka dan formalitas tanpa menghadirkan kemanfaatan.
Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence) pun harus disikapi secara arif. AI semestinya menjadi alat untuk mempercepat proses belajar dan riset, bukan menggantikan kejujuran berpikir maupun menghilangkan orisinalitas karya ilmiah. Karena AI tidak bisa berpikir dan tidak dapat mengganti posisi manusia.
Jihad akademik juga menuntut kolaborasi. Universitas tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari masyarakat. Kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, pesantren, sekolah, media, dan komunitas harus terus diperkuat agar hasil pendidikan dan penelitian benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Perguruan tinggi Islam harus hadir sebagai pusat ilmu sekaligus pusat pengabdian.
Budaya dan Kolaborasi
Pesan Prof. Mujiburrahman pada awal periode keduanya sesungguhnya mengandung makna yang dalam. Membangun universitas tidak cukup dengan program kerja dan anggaran. Yang lebih penting adalah membangun budaya.
Ketika budaya membaca tumbuh, budaya meneliti berkembang, budaya berdiskusi menguat, budaya melayani menjadi kebiasaan, dan budaya berintegritas menjadi karakter bersama, saat itulah jihad akademik benar-benar hidup.
Pada akhirnya, jihad akademik bukanlah tugas seorang rektor, dekan, atau dosen semata. Ia adalah gerakan kolektif seluruh sivitas akademika. Ketika setiap unsur kampus menjalankan amanahnya dengan sungguh-sungguh, UIN Ar-Raniry tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas, tetapi juga insan yang beradab, berintegritas, dan mampu menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Itulah makna terdalam jihad akademik: bukan sekadar mengejar prestasi institusi, melainkan membangun peradaban melalui ilmu. Sebab, peradaban yang kokoh tidak lahir dari kekuatan fisik, melainkan dari ilmu yang diamalkan, akhlak yang dijaga, dan pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT.
Wallahu a’lam
Darussalam 23 Safar 1448, 7 Agustus 2026
(Penulis, Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
