-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Menanam Benih Sebelum Kiamat

Minggu, 09 Agustus 2026 | Agustus 09, 2026 WIB Last Updated 2026-08-10T01:56:57Z

 


Belajar Produktif dari Guru Umat di Atas Kursi Roda


Oleh Saifuddin A. Rasyid 


Al-Rasyid.id | Bagi masyarakat Banda Aceh, khususnya mereka yang akrab dengan suasana Masjid Raya Baiturrahman, ada satu suara yang pernah menjadi penanda datangnya waktu selepas Magrib. Suara khas Ustaz Dr. Samsul Bahri mengalun melalui corong masjid, mengisi ruang-ruang kota dengan kajian tauhid yang menyejukkan hati dan mencerahkan akal. Bagi sebagian orang, mendengar pengajian beliau bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan ruhani yang menenteramkan jiwa setelah seharian disibukkan oleh urusan dunia.


Kini suara itu telah lama tidak terdengar. Hampir lima tahun Allah SWT menguji beliau dengan sakit yang membatasi gerak fisiknya. Namun, ternyata Allah membuka jalan dakwah yang lain. Bila dahulu beliau berdakwah dengan suara di mimbar, kini beliau berdakwah dengan pena dari atas kursi roda.


Pagi ini saya singgah ke rumah beliau di salah satu kawasan Banda Aceh. Rumah tampak lengang. Setelah saya menghubungi melalui telepon, beliau menjawab dengan suara yang tetap ramah.


“Sedang di Bandung, Ustaz.”


Beliau menjelaskan sedang menjalani terapi berbasis kedokteran nuklir di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Terapi tersebut dijalani setiap enam bulan sekali. Awalnya ditargetkan empat kali, tetapi karena hasilnya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dan kondisi tubuh terasa semakin baik, terapi dilanjutkan untuk yang kelima kalinya.


Percakapan itu membuat saya semakin yakin bahwa ukuran kekuatan seseorang bukanlah sehat atau sakitnya tubuh, melainkan hidup atau matinya semangat untuk terus memberi manfaat.


Selama lebih banyak menjalani aktivitas dari rumah dan berada di atas kursi roda, Ustaz Samsul Bahri tidak berhenti berkarya. Justru pada masa itulah lahir begitu banyak karya ilmiah. Baru-baru ini beliau meluncurkan buku kesepuluh sejak masa sakitnya. Sebuah capaian yang luar biasa. Rata-rata lebih dari dua buku lahir setiap tahun dari ruang kerja sederhana di rumahnya.


Buku terbaru beliau berjudul Kapan Kiamat. Isinya mengupas persoalan kiamat dari sudut pandang akidah Islam. Namun, di balik halaman-halamannya tersimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar pengetahuan tentang akhir zaman. Buku itu seolah mengingatkan bahwa sebelum kiamat kubra menghampiri alam semesta, setiap manusia pasti akan menghadapi kiamat sughra, yaitu saat kematian menjemput dirinya. Karena itu, yang terpenting bukan mengetahui kapan kiamat terjadi, tetapi memastikan apa yang telah kita tanam sebelum hari itu tiba.


Allah SWT berfirman:


“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99).


Ayat ini menegaskan bahwa pengabdian kepada Allah tidak mengenal masa pensiun. Selama napas masih berembus, selama itu pula ibadah harus terus berjalan. Mengajar adalah ibadah. Menulis adalah ibadah. Meneliti adalah ibadah. Membimbing umat adalah ibadah. Bahkan bekerja mencari nafkah yang halal pun menjadi ibadah apabila diniatkan karena Allah SWT.


Allah SWT juga berfirman:


“Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 105).


Ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menghargai produktivitas. Amal nyata lebih bermakna daripada sekadar wacana. Seorang mukmin dituntut meninggalkan jejak manfaat bagi sesama.


Semangat itu dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang sangat terkenal:


“Apabila hari kiamat telah tiba sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad).


Hadis ini adalah manifesto optimisme seorang mukmin. Selama kesempatan masih ada, sekecil apa pun, jangan berhenti menanam benih kebaikan. Menanam ilmu, menanam akhlak, menanam harapan, menanam karya, dan menanam manfaat.


Apa yang dilakukan Ustaz Samsul Bahri adalah gambaran nyata dari hadis tersebut. Di tengah ujian sakit, beliau tetap menanam benih melalui buku-buku yang akan terus dibaca, dikaji, dan menjadi amal jariah. Barangkali langkah beliau kini terbatas, tetapi pikirannya tetap melintasi ruang dan waktu melalui karya-karyanya.


Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa manusia akan tetap hidup setelah wafat melalui ilmu yang bermanfaat dan amal salehnya. Sementara Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa seorang Muslim sejati adalah pribadi yang positif, produktif, dan terus memberi manfaat kepada manusia hingga akhir hayatnya. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. al-Ṭabarānī).


Generasi muda patut menjadikan keteladanan ini sebagai bekal kehidupan.


Belajarlah bahwa produktivitas lebih ditentukan oleh kekuatan tekad daripada kesempurnaan keadaan. Belajarlah bahwa ilmu yang ditulis akan berumur lebih panjang daripada usia penulisnya. Belajarlah untuk mencintai buku, membiasakan membaca, menulis, berdiskusi, dan berbagi ilmu. Belajarlah untuk istiqamah karena karya besar lahir dari disiplin yang dilakukan terus-menerus, bukan dari semangat yang datang sesekali. Dan yang tidak kalah penting, belajarlah menghormati guru-guru kita ketika mereka masih bersama kita. Menziarahi mereka, mendoakan mereka, membantu mereka, dan mengambil hikmah dari perjalanan hidup mereka adalah bagian dari adab yang menjadi fondasi keberkahan ilmu.


Sesungguhnya kursi roda hanya membatasi gerak tubuh, tetapi tidak pernah mampu membatasi keluasan ilmu, kedalaman iman, dan keteguhan jiwa. Ustaz Dr. Samsul Bahri telah membuktikan bahwa seorang mukmin dapat tetap menjadi pelita bagi umat dalam keadaan apa pun. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa selama Allah masih memberikan kehidupan, selama itu pula kita harus terus menanam benih kebaikan sebelum datangnya kiamat.


Akhirnya, marilah kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah SWT agar proses pengobatan yang sedang dijalani Ustaz Dr. Samsul Bahri di Bandung menjadi wasilah kesembuhan yang sempurna. Semoga Allah mengangkat penyakit beliau, mengembalikan kesehatan dan kekuatan beliau, memanjangkan umur dalam keberkahan, serta terus menjadikan beliau sumber ilmu dan inspirasi bagi umat.


Apresiasi dan doa yang sama patut kita persembahkan kepada keluarga beliau. Istri yang setia mendampingi, anak-anak yang penuh bakti, keluarga besar, sahabat, kerabat, dan handai tolan yang tidak pernah lelah memberikan dukungan adalah bagian dari ikhtiar yang sangat mulia. Mereka telah menunjukkan bahwa keluarga yang hebat bukanlah keluarga yang bebas dari ujian, melainkan keluarga yang memilih tetap sabar, saling menguatkan, dan berjalan bersama menghadapi setiap ujian.


Semoga Allah SWT membalas seluruh pengorbanan mereka dengan ganjaran terbaik, melimpahkan kesehatan, keteguhan, dan keberkahan kepada seluruh keluarga besar Ustaz Dr. Samsul Bahri. Semoga kisah beliau menginspirasi kita semua untuk terus berkarya, terus beribadah, dan terus menanam benih-benih kebaikan, hingga Allah SWT memanggil kita pulang dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ’Alamin.


Wallahu a’lam 


Pango Deah Banda Aceh, 23 Safar 1448, 7 Agustus 2026


(Penulis, Imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update