-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kalau Bisa Dipersulit Kenapa Dipermudah? Jangan Sakit: Jangan Persulit Orang Lain

Jumat, 14 Agustus 2026 | Agustus 14, 2026 WIB Last Updated 2026-08-14T15:16:01Z


Ketika Jabatan Menjadi Ujian Kemanusiaan

Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada sebuah percakapan sederhana dalam sebuah grup hari ini, Jumat 14 Agustus 2026, yang menarik untuk direnungkan. Sahabat kami, Dr. Ainal Mardhiah, akademisi UIN Ar-Raniry, sedang berbincang dalam suasana santai. Kemudian Prof. Lukmanul Hakim, sesama akademisi, bergurau bahwa Bu Ainal tampak seperti sedang lelah memikirkan berbagai persoalan masyarakat.


Candaan itu justru melahirkan sebuah jawaban yang menyentuh nurani.


Dr. Ainal Mardhiah —yang juga kolega kami di kepengurusan ICMI Aceh— mengaku sedih memikirkan masih ada umat Nabi Muhammad ﷺ yang cenderung mempersulit kehidupan orang lain melalui jabatan atau kewenangan yang diembannya.


Bu Ainal memang tidak merinci kasus apa yang sedang ada dalam pikirannya. Karena itu, pernyataan tersebut tentu tidak boleh diarahkan kepada orang atau kasus tertentu tanpa informasi yang jelas. Namun, kegelisahan itu menarik untuk kita sambut sebagai bahan muhasabah sosial dan moral.


Sebab, kalau benar ada kecenderungan sebagian orang menggunakan jabatan, kewenangan atau posisi sosial untuk mempersulit urusan orang lain, maka masalah tersebut bukan sekadar persoalan pelayanan. Ia menyentuh wilayah akhlak, amanah dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.


Hidup memang sulit, tetapi jangan kita tambah kesulitannya. Al-Qur’an mengakui bahwa manusia memang hidup dalam perjuangan dan kesulitan.


Allah berfirman:


لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ


“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”

(QS. Al-Balad: 4).


Kesulitan adalah bagian dari kehidupan. Ada orang yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan penyakit, kehilangan pekerjaan, kegagalan usaha, tertunda kenaikan jabatan, perceraian, kehilangan orang yang dicintai, bencana dan berbagai persoalan lainnya.


Namun ada perbedaan besar antara kesulitan sebagai ujian dari Allah dengan kesulitan yang sengaja ditambahkan manusia kepada manusia lainnya.


Orang miskin mungkin sedang diuji dengan kekurangan harta. Tetapi jika ketika ia mengurus haknya justru dipingpong dan dipersulit, maka ada manusia yang menambah beban tersebut.


Korban bencana mungkin sudah kehilangan rumah dan harta. Jangan sampai setelah itu ia masih harus menghadapi pelayanan yang tidak ramah.


Anak-anak yang kehilangan orang tua atau kehilangan kasih sayang akibat bencana dan persoalan keluarga membutuhkan perlindungan. Jangan sampai mereka justru tumbuh dalam lingkungan yang membuat luka mereka semakin dalam.


Seorang istri yang menghadapi persoalan rumah tangga membutuhkan perlindungan dan penyelesaian yang bermartabat, bukan perlakuan kasar yang semakin memperberat kehidupannya.


Di sinilah kita perlu membedakan antara takdir berupa ujian dan kezaliman manusia yang menciptakan kesulitan baru.


Islam datang membawa kemudahan


Prinsip Islam sangat jelas: agama ini tidak datang untuk membuat manusia semakin berat.


Allah berfirman:


يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ


“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

(QS. Al-Baqarah: 185).


Demikian pula:


مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ


“Allah tidak hendak menyulitkan kamu.”

(QS. Al-Ma’idah: 6).


Rasulullah ﷺ bahkan memberikan prinsip yang sangat sederhana dalam berinteraksi dengan manusia:


يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا


“Mudahkanlah dan jangan mempersulit; berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh.”

(HR. Bukhari dan Muslim). 


Pesan ini tidak hanya relevan dalam dakwah dan pendidikan agama. Semangatnya juga sangat relevan dalam kehidupan sosial.


Seorang pejabat hendaknya memudahkan masyarakat.

Seorang guru memudahkan murid mendapatkan ilmu.

Seorang pimpinan memudahkan bawahannya bekerja dengan baik.

Seorang suami memudahkan kehidupan keluarganya.

Seorang tetangga membantu tetangganya.


Orang yang memiliki kemampuan membantu mereka yang sedang tidak berdaya.


Memudahkan bukan berarti melanggar aturan.


Memudahkan berarti menjalankan aturan dengan adil, manusiawi, proporsional dan tidak menambahkan hambatan yang sebenarnya tidak diperlukan.


Jabatan adalah amanah


Salah satu sumber masalah dalam kehidupan sosial adalah ketika jabatan dipandang sebagai kekuasaan untuk dilayani, bukan amanah untuk melayani.


Padahal dalam Islam, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim).


Maka jabatan sesungguhnya adalah ujian. 


Ketika seseorang memiliki kewenangan untuk mempercepat atau memperlambat urusan orang lain, di situlah integritasnya diuji.


Ketika ia memiliki kewenangan untuk membantu atau mengabaikan, di situlah akhlaknya diuji.


Ketika ia bisa menggunakan aturan untuk kepentingan pribadi atau menegakkannya secara adil, di situlah amanahnya diuji.


Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemegang jabatan bukan hanya berapa lama ia menduduki kursinya, tetapi berapa banyak kemaslahatan yang lahir dari kewenangannya.


Ada penyakit sosial yang harus kita koreksi


Kecenderungan mempersulit orang lain bisa muncul dalam berbagai bentuk.

Ada yang mempersulit karena merasa lebih tinggi.

Ada yang mempersulit karena ingin menunjukkan kekuasaan.

Ada yang mempersulit karena tidak memiliki empati.

Ada yang mempersulit karena kepentingan pribadi.


Ada pula yang mempersulit karena sudah terlalu lama hidup dalam budaya kerja yang tidak sehat sehingga menganggap kerumitan sebagai sesuatu yang biasa.


Padahal bagi orang yang sedang berada dalam kesulitan, satu hambatan kecil saja dapat terasa sangat besar.


Bayangkan seorang ibu yang harus mengurus kebutuhan anaknya tetapi berhadapan dengan prosedur yang berbelit-belit.


Bayangkan seorang korban bencana yang harus bolak-balik mencari bantuan.


Bayangkan seorang mahasiswa dari keluarga sederhana yang membutuhkan pelayanan akademik tetapi tidak mendapatkan bimbingan yang cukup.


Bayangkan seorang rakyat kecil yang datang kepada pejabat dengan penuh harapan tetapi pulang dengan perasaan semakin tidak berdaya.


Mereka mungkin tidak mengatakan apa-apa. Tetapi hati mereka mencatat semuanya.


Dari sudut ilmu sosial: empati adalah modal penting


Para ahli ilmu sosial dan psikologi telah lama melihat bahwa empati merupakan kemampuan penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat.


Seseorang yang mampu melihat persoalan dari sudut pandang orang lain akan lebih mudah memahami mengapa sebuah urusan terasa berat bagi orang yang sedang menghadapinya.


Karena itu, pelayanan publik tidak cukup hanya dengan aturan dan prosedur. Ia membutuhkan manusia yang memiliki hati dan empati.


Sistem yang baik harus bertemu dengan manusia yang baik.


Aturan yang baik dapat kehilangan makna jika dijalankan tanpa kebijaksanaan.

Sebaliknya, niat baik juga perlu dibingkai dengan aturan agar pertolongan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.


Karena itu, yang kita perlukan adalah aturan yang adil, pelayanan yang profesional dan manusia yang berakhlak.


Bu Ainal mengingatkan kita pada persoalan yang lebih besar


Saya melihat kegelisahan Dr. Ainal Mardhiah bukan sekadar keluhan pribadi. Bu Ainal selama ini dikenal aktif memperhatikan persoalan sosial, turun ke lapangan, membimbing masyarakat dan dekat dengan mahasiswa. Di lingkungan kampus, beliau juga dikenal luwes, rendah hati dan mudah bergaul.


Mahasiswa dapat merasakan kedekatan itu karena beliau tidak membangun jarak akademik yang kaku. Bahkan mengajak mahasiswa duduk santai dan minum di kantin pun dapat menjadi ruang pembelajaran dan komunikasi yang bermakna.


Beliau juga produktif menulis di media.


Karena itu, ketika seorang akademisi yang cukup dekat dengan realitas sosial menyampaikan kegelisahan bahwa masih ada manusia yang justru mempersulit kehidupan orang lain, suara tersebut patut kita dengarkan sebagai suara nurani.


Bukan untuk mencari siapa yang salah. Bukan untuk menuduh siapa pun. Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran saya selama ini membuat kehidupan orang lain lebih mudah atau justru lebih sulit?


Bagaimana jika kita yang sedang dipersulit?


Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana jika kita sendiri berada pada posisi sebagai orang yang dipersulit?


Pertama, jangan langsung membalas dengan keburukan.


Allah berfirman:


وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ


“Kebaikan tidaklah sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.”

(QS. Fussilat: 34).


Kedua, selesaikan secara prosedural dan bermartabat. Jika ada hak yang terhambat, gunakan saluran pengaduan, mekanisme hukum dan lembaga yang tersedia.


Ketiga, jangan takut mencari bantuan. Mintalah pendampingan dari keluarga, tokoh masyarakat, lembaga bantuan, organisasi sosial atau pihak yang memiliki kompetensi.


Keempat, jangan kehilangan harapan kepada Allah.


Allah telah mengingatkan:


فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا


“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Asy-Syarh: 5–6).


Ayat ini mengajarkan bahwa kesulitan bukan akhir perjalanan.


Ada jalan keluar yang mungkin belum kita lihat.

Ada pertolongan yang mungkin sedang Allah siapkan.

Ada manusia baik yang mungkin akan hadir pada saat yang tepat.


Bagaimana jika kita justru orang yang mempersulit?


Inilah bagian yang paling penting. Bagi siapa pun yang setelah membaca tulisan ini kemudian merasa, “Jangan-jangan selama ini saya pernah membuat hidup orang lain menjadi sulit,” jangan merasa tersinggung.


Justru itu kesempatan melakukan muhasabah.

Periksa kembali cara kita menggunakan jabatan.

Periksa kembali cara kita melayani masyarakat.

Periksa kembali cara kita memperlakukan bawahan.

Periksa kembali cara kita berbicara kepada orang kecil.

Periksa kembali cara kita memperlakukan pasangan dan anak. Dan yang paling penting, periksa kembali niat kita ketika menggunakan kewenangan.


Jika ada orang yang pernah kita persulit tanpa alasan yang benar, bila memungkinkan, mudahkan kembali urusannya.


Jika pernah menyakiti, mintalah maaf. Jika pernah mengambil haknya, kembalikan. Jika pernah membuat seseorang kehilangan kesempatan karena kelalaian kita, perbaiki sebisa mungkin.


Sebab dalam Islam, persoalan yang menyangkut hak manusia tidak cukup hanya dengan merasa bersalah di dalam hati.


Mari menjadi jalan datangnya kemudahan


Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin baik kita bawa setiap hari:

“Hari ini, siapa yang hidupnya menjadi lebih mudah karena saya?”


Jika kita seorang pejabat, mungkin kita telah membantu masyarakat mendapatkan pelayanan.


Jika kita seorang dosen, mungkin kita telah membantu mahasiswa menemukan jalan keluar dari persoalan akademiknya.


Jika kita seorang suami, mungkin kita telah membuat istri dan anak-anak merasa aman.


Jika kita seorang pengusaha, mungkin kita telah memberikan pekerjaan kepada seseorang.


Jika kita seorang tetangga, mungkin kita telah membantu keluarga sebelah yang sedang kesulitan.


Jika kita seorang teman, mungkin satu pesan sederhana kita telah membuat seseorang kembali bersemangat.


Itulah sesungguhnya amal sosial yang sering tidak tercatat di atas kertas, tetapi mudah-mudahan tercatat di sisi Allah.


Kita tidak perlu selalu melakukan sesuatu yang besar.

Kadang-kadang kebaikan itu hanya berupa mempermudah satu urusan.

Membuka satu pintu.

Memberikan satu kesempatan.

Mendengarkan satu keluhan.

Memberikan satu senyuman.

Atau sekadar mengatakan:

“Mari saya bantu.”


Jangan menjadi alasan orang lain kehilangan harapan


Kegelisahan Dr. Ainal Mardhiah akhirnya mengajak kita melihat persoalan yang lebih luas.


Kita hidup dalam masyarakat yang tidak semuanya berada dalam keadaan mudah. Ada masyarakat yang sedang bangkit dari bencana. Ada keluarga yang sedang menghadapi masalah ekonomi. Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian. Ada perempuan yang membutuhkan perlindungan. Ada mahasiswa yang membutuhkan bimbingan. Ada rakyat kecil yang hanya ingin urusannya diperlakukan secara adil.


Mereka tidak membutuhkan manusia yang menambah kesulitan. Mereka membutuhkan manusia yang meringankan beban.


Kepada para pemegang jabatan, mari kita jadikan jabatan sebagai jalan pengabdian.


Kepada para pendidik, mari jadikan ilmu sebagai jalan mencerdaskan dan menguatkan.


Kepada para kepala keluarga, mari jadikan rumah sebagai tempat menghadirkan ketenangan.


Kepada masyarakat, mari saling membantu.


Dan kepada siapa pun yang merasa pernah menyulitkan orang lain, mari berhenti dan memperbaiki diri.


Sebab jabatan akan berakhir.

Kekuasaan akan berakhir.

Harta akan ditinggalkan.

Popularitas akan dilupakan.


Tetapi kebaikan dan kezaliman akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.


Maka janganlah kita menjadi alasan seseorang semakin berat menjalani hidup.


Jadilah sebab Allah menghadirkan kemudahan bagi kehidupan orang lain.


Karena boleh jadi, ketika kita memudahkan urusan seorang manusia di dunia, Allah sedang memudahkan urusan kita di akhirat.


Dan boleh jadi pula, satu kesulitan yang kita ringankan hari ini menjadi salah satu sebab datangnya pertolongan Allah kepada kita pada hari ketika tidak ada lagi jabatan, kekayaan dan kekuasaan yang dapat menolong kita.


Hidup memang sudah cukup sulit. Jangan kita tambah kesulitannya. Mari menjadi manusia yang memudahkan, menenangkan, menguatkan dan memberi harapan.


Wallahu a’lam 


Darussalam 1 Rabiul Awal 1448, 14 Agustus 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update