-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kekuatan Memberi yang Terbaik

Minggu, 30 Agustus 2026 | Agustus 30, 2026 WIB Last Updated 2026-08-31T03:54:39Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada sedekah yang mudah diberikan karena memang sudah tidak kita perlukan. Ada pula pemberian yang terasa berat karena yang kita keluarkan justru sesuatu yang kita sukai. Di sinilah letak perbedaan antara sekadar memberi dan memberi dengan pengorbanan.


Salah satu pesan penting yang saya tangkap dari ceramah Ustaz Afrizal Sofyan dalam agenda Safari Subuh BBC, Ahad 30 Agustus 2026, di Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop, Darussalam, Aceh Besar, adalah ajakan untuk berinfak dengan harta terbaik dan harta yang kita cintai.


Pesan ini sesungguhnya memiliki akar yang sangat kuat dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:


لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ


“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.”

(QS. Ali ’Imran: 92). 


Ayat ini sangat menarik. Allah tidak mengatakan, “infakkan apa yang sudah tidak kamu sukai.” Allah justru mengatakan, “mimmā tuhibbūn” — dari apa yang kamu cintai.


Dengan kata lain, ukuran penting dalam pendidikan sedekah bukan semata-mata berapa besar nominal yang keluar dari rekening kita, tetapi seberapa besar cinta kita kepada sesuatu yang rela kita lepaskan karena Allah.


Abu Talhah dan kebun yang paling dicintainya


Ayat ini segera dipraktikkan para sahabat. Seperi yang diceritakan Ust Afrizal Sofyan. Salah satu kisah paling indah adalah Abu Talhah RA.


Ia memiliki kebun Bairuha’, sebuah kebun yang sangat ia cintai. Ketika turun QS. Ali ’Imran ayat 92, Abu Talhah datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan bahwa harta yang paling ia cintai adalah kebun tersebut. Ia ingin menjadikannya sebagai sedekah di jalan Allah.


Rasulullah SAW memuji keputusan tersebut dan menyarankan agar kebun itu diberikan kepada kerabat. Abu Talhah pun melaksanakannya. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari. 


Inilah contoh konkret bahwa ayat Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan. Ia berubah menjadi keberanian untuk melepaskan sesuatu yang sangat dicintai.


Ibrahim AS: ketika cinta kepada anak diuji


Semangat yang sama bahkan terlihat dalam kisah para nabi, terutama Nabi Ibrahim AS.


Allah menguji Ibrahim dengan sesuatu yang sangat berat: Ismail AS, anak yang sangat dinanti setelah usia panjang. Ketika perintah Allah datang melalui mimpi untuk menyembelih sang anak, Ibrahim tidak menempatkan kecintaannya kepada Ismail di atas ketaatan kepada Allah.


Ismail pun menunjukkan ketundukan yang luar biasa. Pada akhirnya Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang agung.


Kisah ini bukan sekadar cerita tentang penyembelihan seekor hewan. Ia adalah pelajaran tentang siapa yang paling kita cintai dan siapa yang paling berhak ditaati.


Karena itu, ibadah kurban sesungguhnya memiliki pesan psikologis dan spiritual yang sangat dalam: kita diminta belajar bahwa apa pun yang kita cintai di dunia tidak boleh mengalahkan kecintaan kepada Allah.


Maka, memberi yang terbaik bukan berarti Allah membutuhkan harta kita. Allah Mahakaya. Kitalah yang membutuhkan pendidikan dari proses memberi itu.


Mengapa yang terbaik, bukan sekadar sisanya?


Di sinilah psikologi manusia menarik untuk diperhatikan.


Manusia cenderung memberikan sesuatu yang sudah tidak terlalu bernilai baginya. Barang yang rusak, pakaian yang sudah tidak dipakai, makanan yang tersisa, atau uang yang kebetulan masih ada.


Semua itu tentu dapat bernilai sedekah apabila diberikan dengan ikhlas. Namun jika sepanjang hidup kita hanya memberikan kepada orang lain apa yang sudah tidak kita sukai, sementara yang terbaik selalu kita simpan untuk diri sendiri, kita perlu bertanya: siapa sebenarnya yang sedang kita didik—jiwa dermawan atau jiwa yang ingin selalu menang sendiri?


Memberikan sesuatu yang kita cintai memiliki efek pendidikan yang lebih dalam. Ia melatih kita menghadapi rasa kehilangan, menundukkan ego, mengurangi keterikatan emosional terhadap benda dan membangun keyakinan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari memiliki lebih banyak, tetapi juga dari mampu melepaskan dengan ikhlas.


Dalam bahasa sederhana: sedekah terbaik adalah latihan agar harta tetap berada di tangan, tetapi tidak menguasai hati.


Manusia memang mudah jatuh cinta kepada harta


Al-Qur’an bahkan secara jujur menggambarkan kecenderungan manusia:


وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا


“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”

(QS. Al-Fajr: 20). 


Dalam QS. Al-’Adiyat ayat 8, Allah juga menggambarkan manusia memiliki kecintaan yang sangat kuat terhadap harta. 


Rasulullah SAW bahkan menggambarkan kerakusan manusia dengan perumpamaan yang sangat tajam:


“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia menginginkan lembah yang ketiga.”


Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. 


Artinya, problem manusia bukan selalu karena kekurangan harta. Sering kali problemnya adalah ketidakmampuan merasa cukup.


Sudah punya satu gunung, ingin dua. Sudah dua, ingin tiga. Sudah kaya, masih takut miskin. Sudah cukup untuk hidup, tetapi belum cukup untuk merasa aman.


Karena itu, sedekah sebenarnya merupakan salah satu bentuk pendidikan Allah terhadap jiwa manusia agar kecintaan kepada harta tidak kebablasan.


Allah seakan mengajarkan: Kamu boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta memiliki dirimu.


Harta adalah alat, bukan tujuan


Islam tidak mengajarkan kita membenci harta. Harta diperlukan untuk makan, membangun keluarga, menuntut ilmu, membantu orang lain, membangun masjid, membiayai pendidikan, menggerakkan ekonomi dan melaksanakan berbagai amal kebajikan.


Al-Qur’an bahkan mengajarkan agar apa yang Allah berikan kepada kita digunakan untuk mencari kehidupan akhirat, tanpa melupakan bagian kita di dunia:


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”

(QS. Al-Qashash: 77). 


Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ’Ulum al-Din memandang dinar dan dirham sebagai sarana atau perantara, bukan sesuatu yang semestinya menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Harta mempunyai fungsi untuk membantu manusia mencapai tujuan yang lebih tinggi. 


Pandangan ini penting: kita tidak dilarang menjadi kaya; yang berbahaya adalah ketika kekayaan membuat kita kehilangan arah.


Harta yang berada di tangan orang saleh dapat menjadi kendaraan menuju surga. Tetapi harta yang masuk terlalu dalam ke hati dapat menjadi kendaraan menuju kesombongan, kerakusan, bahkan kelalaian.


Al-Qur’an mengingatkan:


“Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.”

(QS. Al-Munafiqun: 9). 


Jadi persoalannya bukan berapa banyak harta yang kita punya, tetapi berapa banyak harta yang menguasai hati kita.


Melawan “syuhh” dalam diri


Ada satu penyakit batin yang sangat halus: syuhh, yaitu kecenderungan jiwa untuk menahan, enggan memberi dan sangat mencintai apa yang dimilikinya.


Al-Qur’an menyebut:


“Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Al-Hasyr: 9). 


Maka sedekah bukan hanya membantu orang lain. Sedekah juga menyelamatkan diri pemberinya dari dirinya sendiri.


Orang yang kita bantu mungkin memperoleh makanan, biaya pendidikan, obat, modal usaha atau kebutuhan lainnya. Tetapi kita memperoleh sesuatu yang jauh lebih besar: kebebasan dari belenggu cinta harta.


Bagaimana melatih diri memberi yang terbaik?


Pertama, buat standar sedekah pribadi. Jangan menunggu ada uang lebih baru bersedekah. Sisihkan sedekah sejak awal menerima penghasilan.


Kedua, sesekali pilih sesuatu yang benar-benar kita sukai. Bukan selalu barang yang sudah tidak terpakai. Berikan makanan terbaik, pakaian terbaik, uang terbaik, atau sesuatu yang memang kita senangi.


Ketiga, bedakan “tidak terpakai” dengan “tidak berharga”. Jangan menjadikan kaum dhuafa sebagai tempat membuang barang yang tidak layak.


Keempat, latih sedekah secara rutin dengan nominal yang meningkat secara bertahap. Jangan langsung mengejar jumlah besar jika jiwa belum siap. Yang penting konsisten dan terus bertumbuh.


Kelima, bersedekahlah sebelum hati terlalu banyak bernegosiasi. Semakin lama kita berpikir, semakin banyak alasan muncul: nanti saja, bulan depan saja, masih ada kebutuhan lain, bagaimana kalau kekurangan?


Keenam, ingat bahwa harta yang kita tahan pasti akan kita tinggalkan, sedangkan harta yang kita infakkan di jalan Allah berpotensi menjadi bekal yang menemani kita setelah mati.


Ketujuh, didik keluarga untuk memberi yang terbaik. Anak-anak jangan hanya diajarkan menabung, tetapi juga diajarkan berbagi. Jangan hanya diajarkan cara mendapatkan uang, tetapi juga cara melepaskan uang dengan ikhlas.


Dan yang paling penting, mulailah dari sesuatu yang paling kita cintai.


Bukan karena Allah membutuhkan benda itu, melainkan karena kita membutuhkan latihan untuk mengalahkan ego kita sendiri.


Pada akhirnya, kekuatan memberi bukan terletak pada seberapa banyak yang keluar dari tangan kita, tetapi pada seberapa kuat hati kita mampu mengatakan:


“Ya Allah, ini sesuatu yang saya cintai. Tetapi saya lebih mencintai-Mu.”


Itulah mungkin rahasia terdalam dari QS. Ali ’Imran ayat 92.


Kita tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum belajar melepaskan sesuatu yang kita cintai.


Maka jangan selalu bertanya, “Apa yang masih bisa saya berikan?”


Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:


“Apa yang paling saya cintai—dan apakah saya sudah rela memberikannya karena Allah?”


Sebab di situlah kualitas pengorbanan kita diuji.


Dan di situlah pula cinta kepada harta mulai ditundukkan, agar harta kembali pada tempatnya: menjadi alat ibadah, bukan menjadi tuhan kecil yang diam-diam menguasai.


Wallahu a’lam 


Tungkop 18 Rabiul Awal 1448, 31 Agustus 2026


(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)


_Note: foto, dari kanan; bapak Azhari, Ust Erwandi, Ust Afrizal, dan penulis)_

×
Berita Terbaru Update