-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Memberi Bertumbuh

Senin, 31 Agustus 2026 | Agustus 31, 2026 WIB Last Updated 2026-08-31T23:23:51Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Setelah berbicara tentang kekuatan memberi yang terbaik, ada sisi lain dari memberi yang menarik untuk kita renungkan: memberi itu tidak statis, tidak berhenti dan tidak selalu berarti berkurang. Memberi justru dapat bertumbuh, berbuah, berkembang, lalu kembali kepada pemberinya dalam bentuk yang kadang jauh lebih besar daripada apa yang ia keluarkan.


Dalam dunia motivasi ada prinsip yang sangat populer: “Giving is receiving.” Tony Robbins dikenal menggunakan ungkapan tersebut untuk menggambarkan bahwa memberi dan menerima bukan dua aktivitas yang selalu berlawanan, melainkan dapat menjadi satu siklus kehidupan. Dalam dunia bisnis dan kepemimpinan, gagasan serupa disampaikan Zig Ziglar: seseorang dapat memperoleh apa yang diinginkannya dalam hidup dengan membantu cukup banyak orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. 


Kalimat motivator itu sebenarnya menemukan resonansi yang sangat kuat dalam ajaran Islam. Hal ini juga disampaikan Ust Afrizal Sofyan dalam ceramah BBCnya Ahad subuh itu.


Allah berfirman:


مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً


“Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasannya dengan berlipat ganda yang banyak.”

QS. Al-Baqarah: 245. 


Perhatikan kata “yuḍā‘ifhu”—Allah melipatgandakan.


Jadi dalam logika iman, memberi kepada Allah bukan transaksi yang membuat kita bangkrut. Ia adalah investasi yang Allah sendiri menjanjikan pertumbuhannya.


Nabi tidak mengajarkan menunda kebaikan


Rasulullah SAW adalah teladan dalam memberi. Beliau tidak membangun mentalitas, “nanti kalau sudah banyak baru memberi.” Kebaikan tidak perlu menunggu kaya.


Dalam sebuah riwayat, ketika seorang lelaki Anshar datang meminta bantuan, Rasulullah SAW tidak sekadar memberikan sesuatu untuk menyelesaikan kebutuhan sesaat. Beliau meminta lelaki itu membawa barang yang ada di rumahnya, menjualnya, lalu menggunakan hasilnya untuk membeli makanan bagi keluarga dan sebuah kapak. Kapak itu kemudian diberikan kepada lelaki tersebut sambil diarahkan untuk mencari kayu dan menjualnya. 


Ini luar biasa.


Rasulullah SAW bukan hanya memberi ikan, tetapi membangun kemampuan orang itu untuk memperoleh ikan.


Di sini kita menemukan satu prinsip penting: pemberian terbaik adalah pemberian yang melahirkan pertumbuhan.


Memberi uang kepada seseorang mungkin menyelesaikan kebutuhan hari ini. Tetapi memberikan ilmu, keterampilan, kesempatan, kepercayaan dan pendampingan dapat mengubah kehidupan bertahun-tahun.


Itulah mengapa memberi tidak selalu identik dengan mengurangi apa yang kita punya.


Memberi ilmu membuat ilmu bertambah.

Memberi cinta membuat hubungan bertumbuh.

Memberi kepercayaan melahirkan keberanian.

Memberi pelayanan melahirkan kepercayaan publik.

Memberi karya melahirkan manfaat.

Memberi kesempatan melahirkan prestasi.


Dan ketika manfaat itu tumbuh, sebagian buahnya kembali kepada pemberi dalam bentuk yang mungkin tidak pernah ia perhitungkan.


Abu Bakar memberi dengan totalitas


Sejarah para sahabat juga penuh dengan kisah tentang keberanian memberi.


Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dikenal sebagai sahabat yang luar biasa dalam pengorbanan. Ketika Rasulullah SAW meminta bantuan untuk sebuah kepentingan besar umat, Abu Bakar datang membawa hartanya. Ketika ditanya apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, ia menjawab bahwa ia meninggalkan Allah dan Rasul-Nya.


Umar bin Khattab RA memberikan separuh hartanya. Utsman bin Affan RA mengeluarkan kekayaan yang sangat besar untuk kepentingan umat, termasuk dalam persiapan Jaisyul ’Usrah. Dalam sebuah riwayat disebutkan Utsman membawa seribu dinar untuk membantu persiapan pasukan tersebut. 


Mereka bukan orang-orang yang berpikir, “Kalau saya memberi, saya kehilangan.”


Mereka berpikir dengan logika iman:


“Apa yang saya keluarkan karena Allah tidak hilang.”


Rasulullah SAW bahkan mengajarkan:


“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”


Tangan di atas adalah tangan yang memberi, sedangkan tangan di bawah adalah tangan yang menerima. 


Maka menjadi pemberi adalah sebuah posisi kemuliaan.

Tetapi memberi tidak hanya soal uang

Inilah bagian yang sering kita lewatkan.


Ketika mendengar kata “memberi”, pikiran kita sering langsung menuju dompet, rekening, sedekah, infak dan harta.


Padahal manusia memiliki begitu banyak kekayaan yang bersifat intangible—tidak berwujud secara fisik tetapi sangat berharga.


Seorang suami memberi cinta terbaik kepada istrinya.


Seorang istri memberi kesetiaan dan ketenangan terbaik kepada suaminya.


Orang tua memberi perhatian terbaik kepada anak-anaknya.


Guru memberi ilmu dan keteladanan terbaik kepada muridnya.


Pemimpin memberi kepercayaan dan perlindungan terbaik kepada bawahannya.


Pegawai memberi kinerja terbaik kepada institusinya.


Pelayan publik memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat.


Pengusaha memberi produk terbaik kepada pelanggan.


Dokter memberi keahlian terbaik kepada pasien.


Politisi memberi pengabdian terbaik kepada rakyat.


Pejabat pemerintahan memberi integritas terbaik kepada negara.


Mahasiswa memberi kesungguhan terbaik kepada proses belajarnya.


Maka memberi yang terbaik sesungguhnya adalah sebuah cara hidup.


Apa sebenarnya arti “the best”?


Dalam bahasa Inggris kita mengenal istilah the best. Dalam bahasa Arab ada kata mumtāz, unggul, istimewa. Kita juga mengenal kata “perfect”, sempurna.


Namun dalam kehidupan nyata, the best tidak selalu berarti perfect.


Manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua pekerjaan dapat mencapai kesempurnaan mutlak. Karena itu, “I do my best” bukan berarti saya mengklaim pekerjaan saya sempurna.


Maknanya lebih rendah hati sekaligus lebih bertanggung jawab:


“Saya mengerahkan kemampuan terbaik yang Allah titipkan kepada saya.”


Dalam manajemen modern, kualitas tidak lahir hanya dari hasil akhir, tetapi dari proses yang terus diperbaiki. Prinsip perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) mengajarkan bahwa kualitas terbaik bukan alasan untuk berhenti, melainkan standar yang terus dinaikkan.


Karena itu, mumtaz bukan berarti tanpa kekurangan; mumtaz berarti serius mempersembahkan kualitas terbaik yang dapat kita capai dan terus memperbaikinya.


Inilah yang seharusnya masuk ke dunia bisnis, kampus, birokrasi, politik dan pemerintahan.


Jangan bekerja dengan mentalitas:

“Yang penting selesai.”


Naikkan menjadi:

“Saya selesaikan dengan sebaik-baiknya.”


Jangan:

“Yang penting melayani.”


Tetapi:

“Saya memberikan pelayanan yang membuat orang merasa dihargai.”


Jangan:

“Yang penting produknya terjual.”


Tetapi:

“Saya menghasilkan produk yang pantas dibeli dan dipercaya.”


Di sinilah kualitas bertemu dengan amanah.


Memberi adalah totalitas


Ada hubungan menarik antara memberi yang terbaik dengan konsep Islam kaffah.


Allah berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً


“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”

QS. Al-Baqarah: 208. 


Islam tidak ingin kita menjadi Muslim secara setengah-setengah: rajin beribadah tetapi buruk dalam bekerja; rajin ke masjid tetapi buruk melayani; banyak berbicara tentang amanah tetapi tidak amanah ketika mendapat jabatan.


Kaffah melahirkan totalitas.


Ketika belajar, belajar sungguh-sungguh.


Ketika bekerja, bekerja dengan amanah.


Ketika berbisnis, berbisnis dengan jujur.


Ketika menjadi suami, menjadi suami dengan kasih sayang.


Ketika menjadi istri, menjadi istri dengan kesetiaan.


Ketika menjadi guru, mendidik dengan hati.


Ketika menjadi pemimpin, memimpin dengan tanggung jawab.


Ketika menjadi pelayan publik, melayani dengan integritas.


Maka I do my best dapat menjadi semacam etos kerja seorang Muslim: bukan bekerja untuk dipuji manusia, tetapi karena setiap kemampuan adalah titipan Allah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.


Berbisnis dengan Allah


Inilah konsep yang sangat indah dalam Islam.

Kita sebenarnya sedang berbisnis dengan Allah.


Allah berfirman:


إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ


“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

QS. At-Taubah: 111.


Allah adalah Pembeli. Kita adalah pihak yang menyerahkan modal berupa jiwa, harta, waktu, tenaga, ilmu dan amal. Dan Allah menjanjikan balasan yang jauh lebih besar.


Bahkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 245, Allah menggunakan bahasa pinjaman: kita “meminjamkan” kepada Allah dengan qardhan hasanan—pinjaman yang baik—dan Allah menjanjikan pelipatgandaan. 


Tentu ini bukan berarti Allah membutuhkan harta kita. Allah Mahakaya.


Bahasa “membeli” dan “meminjamkan” adalah cara Allah menjelaskan betapa mulianya amal manusia yang diberikan di jalan-Nya: Allah menjadikan amal kita seolah-olah sebuah investasi yang Dia sendiri menjamin balasannya.


Dan pengembaliannya tidak harus berupa uang.


Bisa berupa kesehatan.

Bisa berupa ketenangan.

Bisa berupa keluarga yang baik.

Bisa berupa kemudahan urusan.

Bisa berupa reputasi yang baik.

Bisa berupa ilmu yang berkembang.

Bisa berupa orang lain yang kelak membantu kita.

Bisa berupa anak saleh.

Bisa berupa pahala yang terus mengalir.


Dan puncaknya adalah sesuatu yang tidak dapat dibandingkan dengan seluruh keuntungan dunia: ridha Allah dan surga-Nya.


Memberi ternyata juga menyehatkan jiwa


Secara psikologis, memberi memiliki dimensi yang menarik. Ketika seseorang mampu memberi secara sehat dan bermakna, ia tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga dapat mengalami rasa bermakna, terhubung dengan orang lain, bersyukur dan memiliki kontribusi.


Karena itu, memberi dapat membangun self-worth yang sehat: perasaan bahwa hidup kita memiliki manfaat.


Tetapi memberi harus tetap sehat. Memberi bukan berarti mengorbankan seluruh diri sampai rusak, mengabaikan keluarga, atau membiarkan diri dieksploitasi. Nabi SAW sendiri mengajarkan bahwa pemberian hendaknya memperhatikan kebutuhan tanggungan; bahkan dalam hadis disebutkan bahwa sedekah terbaik adalah yang diberikan setelah kebutuhan pokok terpenuhi. 


Jadi, totalitas bukan berarti ceroboh.


Totalitas berarti seluruh kemampuan terbaik diarahkan kepada tujuan yang benar, dengan cara yang bijaksana.


Agar kemampuan memberi terus bertumbuh


Kalau kita ingin terus memberi yang terbaik, ada satu pekerjaan rumah besar: kapasitas kita harus terus diperbesar.


Bagaimana caranya?


Pertama, terus belajar.

Orang yang berhenti belajar akhirnya hanya mampu memberi apa yang ia miliki kemarin.


Kedua, rawat kesehatan.

Sulit memberi tenaga terbaik jika tubuh selalu diabaikan.


Ketiga, rawat hati.

Kapasitas intelektual yang besar tanpa hati yang bersih dapat berubah menjadi kesombongan.


Keempat, bangun disiplin.

Kualitas bukan hasil dari semangat sesaat, tetapi dari kebiasaan yang dilakukan berulang.


Kelima, jangan pelit berbagi ilmu.

Ilmu yang dibagikan tidak habis; ia justru berkembang ketika diajarkan.


Keenam, evaluasi diri.

Setiap malam tanyakan: Apa yang hari ini saya berikan? Apakah sudah yang terbaik? Apa yang harus saya perbaiki besok?


Ketujuh, jangan takut mengeluarkan kemampuan.

Allah tidak menitipkan kelebihan kepada kita tanpa maksud. Ilmu, jabatan, kekayaan, keterampilan, jaringan, kesehatan dan kesempatan adalah amanah.


Mungkin ada orang yang hari ini sedang membutuhkan sesuatu yang hanya bisa kita berikan.


Maka jangan simpan seluruh kemampuan itu untuk diri sendiri.


Memberi sampai menjadi budaya hidup


Akhirnya, memberi bukan hanya tindakan sesekali. Ia harus menjadi budaya hidup seorang mukmin.


Kita memberi harta.

Kita memberi waktu.

Kita memberi ilmu.

Kita memberi tenaga.

Kita memberi perhatian.

Kita memberi maaf.

Kita memberi kesempatan.

Kita memberi kepercayaan.

Kita memberi pelayanan.

Kita memberi cinta.

Kita memberi karya.


Dan semuanya diberikan sebaik-baiknya, sejauh kemampuan yang Allah titipkan kepada kita.


Itulah makna yadul ’ulya—tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang menerima. 


Jangan menunggu memiliki banyak untuk menjadi pemberi.

Mulailah memberi dari apa yang sudah Allah titipkan.


Jika yang kita punya uang, berikan uang.

Jika yang kita punya ilmu, berikan ilmu.

Jika yang kita punya tenaga, berikan tenaga.

Jika yang kita punya waktu, berikan waktu.

Jika yang kita punya jabatan, berikan keadilan.

Jika yang kita punya keahlian, berikan pelayanan.

Jika yang kita punya cinta, berikan kasih sayang.


Dan jika yang kita punya adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik, jangan kerjakan setengah-setengah.


Kerjakan dengan totalitas.

Karena bisa jadi itulah “barang terbaik” yang sedang Allah minta kita persembahkan kepada-Nya.


Sebab pada akhirnya, memberi bukan tentang apa yang berkurang dari tangan kita.


Memberi adalah tentang apa yang bertumbuh dari kehidupan kita.


Kita memberi satu ilmu, ilmu itu hidup dalam sepuluh kepala.


Kita memberi satu kebaikan, kebaikan itu mungkin diteruskan kepada seratus orang.


Kita memberi satu karya, karya itu mungkin dipakai bertahun-tahun.


Kita memberi cinta kepada seorang anak, cinta itu mungkin membentuk karakter seorang manusia.


Kita memberi pelayanan yang baik, kepercayaan masyarakat tumbuh.


Kita memberi harta di jalan Allah, Allah menjanjikan pelipatgandaan.

Maka jangan takut memberi.


Yang kita tanam mungkin kecil, tetapi Allah yang menumbuhkannya.


Dan dalam bisnis kita dengan Allah, tidak ada investasi yang lebih aman daripada memberikan yang terbaik dari apa yang Allah titipkan kepada kita.


Berilah yang terbaik.

Kerjakan yang terbaik.

Layani dengan terbaik.

Belajarlah dengan terbaik.

Cintailah dengan terbaik.

Beribadahlah dengan terbaik.


Sebab seorang mukmin tidak seharusnya hidup dengan pertanyaan, “Apa yang akan saya dapat?”


Pertanyaan yang lebih tinggi adalah:

“Apa yang masih bisa saya berikan?”


Dan selama Allah masih menitipkan kemampuan, kesempatan dan kepercayaan kepada kita, selama itu pula jangan berhenti memberi—dan jangan berhenti bertumbuh.


Wallahu a’lam 


Darussalam 18 Rabiul Awal 1448, 21 Agustus 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


Note: foto, dari kiri; Ust Muhajirul Fadhli, Ust Afrizal Sofyan, dan penulis — Ust Muhajirul Fadhli adalah guru ngaji penulis)

×
Berita Terbaru Update