Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada satu denyut kehidupan yang mungkin tidak banyak diketahui orang yang masih terlelap ketika malam menjelang pagi: Simpang Tungkop, Darussalam, Aceh Besar.
Ketika sebagian besar masyarakat masih berada di bawah selimut, para petani dan pedagang sayur mayur sudah bergerak. Sekitar pukul 02.30 dini hari, aktivitas jual beli mulai hidup. Lampu-lampu kendaraan dan lapak pedagang menerangi suasana. Sayur mayur datang dari berbagai tempat, kemudian berpindah tangan melalui transaksi yang berlangsung cepat. Inilah wajah lain Simpang Tungkop yang mungkin belum banyak kita kenal.
Camat Darussalam, Bapak Burhanuddin, menyebut Simpang Tungkop tersohor sebagai kawasan yang didominasi petani dan pedagang sayur dari dalam maupun luar Kecamatan Darussalam. Mereka datang antara lain dari kawasan Kecamatan Masjid Raya, Kuta Baro, Brang Bintang, dan kecamatan lainnya, disamping dari Kecamatan Darussalam sendiri.
Menurut beliau, dalam urusan perdagangan sayur mayur, boleh jadi Simpang Tungkop merupakan salah satu tempat tercepat terjadinya transaksi jual beli di Aceh Besar, karena aktivitasnya sudah dimulai sejak sekitar pukul 02.30 dini hari. Bahkan, Simpang Tungkop disebut sebagai pasar sayur jelang subuh yang satu-satunya di Aceh Besar dan telah berjalan sejak sebelum tahun 1970-an.
Ini bukan sekadar pasar. Ini adalah tradisi ekonomi masyarakat yang telah hidup lintas generasi.
Rezeki yang Bergerak Sebelum Matahari Terbit
Ada pemandangan menarik di Simpang Tungkop: ketika banyak orang baru akan memulai hari, para petani dan pedagang sudah menyelesaikan sebagian pekerjaan ekonominya.
Mereka bangun lebih awal, mengangkut hasil pertanian, membawa sayuran, membuka lapak, melakukan transaksi, lalu melanjutkan aktivitas kehidupan. Mereka adalah para pejuang subuh di bidang ekonomi.
Kalau kita bayangkan ada sekitar seratus petani dan pedagang yang aktif setiap pagi dan masing-masing rata-rata melakukan transaksi sekitar Rp1 juta, maka secara sederhana terdapat potensi perputaran uang sekitar Rp100 juta setiap pagi dari komoditas sayur mayur saja.
Tentu angka ini hanyalah ilustrasi sederhana, bukan angka resmi omzet pasar. Tetapi gambaran tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa Simpang Tungkop memiliki potensi ekonomi yang tidak kecil.
Dan itu belum termasuk perputaran ekonomi dari warung kopi dan usaha kuliner di sekitar kawasan tersebut yang jumlahnya lebih dari sepuluh. Dengan demikian, Simpang Tungkop bukan hanya persimpangan jalan, tetapi juga simpul pergerakan ekonomi masyarakat.
Yang menarik, denyut ekonomi itu sudah berlangsung ketika hari belum benar-benar pagi.
Di sinilah kita menemukan sebuah pelajaran penting: rezeki sering kali harus dijemput dengan perjuangan.
Bangun Subuh, Mencari Rezeki dan Mencari Berkah
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi pemalas. Al-Qur’an bahkan menggambarkan bagaimana manusia diperintahkan untuk mencari karunia Allah setelah menunaikan ibadah.
Allah berfirman:
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Jumu’ah: 10)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan: ibadah dan ikhtiar tidak boleh dipertentangkan.
Mencari rezeki adalah bagian dari ikhtiar kehidupan. Tetapi rezeki akan terasa lebih indah apabila pencariannya tidak membuat seseorang kehilangan hubungan dengan Allah.
Karena itu, aktivitas para petani dan pedagang Simpang Tungkop sebenarnya dapat menjadi sebuah teladan. Mereka telah menunjukkan bahwa untuk mencari rezeki pun seseorang harus rela bangun ketika sebagian orang masih tidur.
Rasulullah SAW juga mendoakan keberkahan bagi umatnya pada waktu pagi:
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.”
(HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Doa Nabi ini memberikan pesan yang sangat kuat tentang pentingnya waktu pagi.
Pagi bukan sekadar pergantian waktu dari malam menuju siang. Pagi adalah kesempatan untuk memulai kehidupan dengan ibadah, doa, kerja, dan ikhtiar.
Bahkan, sebelum pagi benar-benar tiba, ada waktu yang sangat istimewa: sepertiga malam terakhir. Allah menyebut orang-orang yang bertakwa sebagai mereka yang sedikit tidur pada malam hari dan memohon ampun menjelang fajar.
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)
Maka, betapa indah apabila aktivitas ekonomi menjelang subuh di Simpang Tungkop tidak hanya menghasilkan uang, tetapi juga menjadi jalan menuju keberkahan.
Jangan Sampai Rezeki Membuat Kita Kehilangan Subuh
Namun ada satu pesan penting yang perlu disampaikan kepada para petani dan pedagang yang beraktivitas sejak dini hari.
Jangan sampai sibuk mencari rezeki membuat kita lupa kepada Pemberi rezeki.
Jangan sampai transaksi semakin ramai, tetapi masjid semakin sepi.
Jangan sampai tangan sibuk menghitung uang, tetapi hati lupa berdzikir kepada Allah.
Jangan sampai mengejar pembeli membuat kita kehilangan waktu menghadap Allah.
Di sekitar Simpang Tungkop terdapat Masjid Jamik Baitul Jannah. Masjid ini sesungguhnya menjadi bagian penting dari denyut kehidupan masyarakat setempat.
Bahkan, menurut Pak Camat Burhanuddin, hidupnya Simpang Tungkop dan makmurnya jamaah Subuh Masjid Baitul Jannah tidak terlepas dari aktivitas petani dan pedagang sayur mayur menjelang subuh.
Ini hubungan yang sangat menarik: pasar hidup, masjid pun hidup.
Karena itu, para petani dan pedagang hendaknya berusaha agar aktivitas jual beli tidak menjadi alasan meninggalkan salat Subuh. Kalau memungkinkan, tinggalkan sebentar transaksi ketika azan berkumandang, berwudhu, lalu tunaikan salat Subuh secara berjamaah di Masjid Jamik Baitul Jannah.
Bukankah Allah yang memberikan rezeki?
Kalau demikian, jangan sampai karena mengejar rezeki kita meninggalkan perintah-Nya.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
(HR. Muslim)
Dua rakaat sebelum Subuh saja memiliki keutamaan yang begitu besar. Apalagi salat Subuh yang merupakan kewajiban.
Fasilitas Masjid Jangan Hanya Menjadi Saksi
Ada hal lain yang patut diapresiasi. Masjid Jamik Baitul Jannah telah menyediakan fasilitas untuk bersuci dan beribadah.
Maka fasilitas itu jangan hanya menjadi bangunan yang indah dilihat, dan menjadi saksi bisu bahwa ada pedagang dan petani sudah hadir di pasar simpang Tungkop sejak pagi pagi dini hari tetapi fasilitas itu harus dimanfaatkan untuk mendulang keberkahan dan cinta Allah dan Rasulullah.
Para petani dan pedagang yang datang dari berbagai tempat dapat menjadikan masjid sebagai tempat berhenti sejenak dari kesibukan dunia: mengambil wudu, menunaikan salat, berdzikir, berdoa, kemudian kembali melanjutkan aktivitas di pasar.
Kita juga patut mendoakan para muhsinin, para dermawan yang telah membantu menyediakan dan membiayai berbagai fasilitas masjid tersebut. Semoga Allah membalas setiap rupiah yang mereka keluarkan dengan pahala yang berlipat dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Sebab, sebuah masjid bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah rumah yang menghubungkan manusia dengan Allah sekaligus mempertemukan manusia dengan manusia.
“Bangun Telat, Rezeki Dipatuk Ayam”
Orang-orang tua kita memiliki ungkapan sederhana:
“Bangun telat, rezeki dipatuk ayam.”
Ini memang bukan hadis Nabi. Ia adalah ungkapan budaya yang ingin mengajarkan pentingnya bangun pagi dan tidak malas.
Namun di balik ungkapan sederhana itu terdapat nilai yang sejalan dengan ajaran Islam: jangan menyia-nyiakan waktu, jangan malas, dan jemputlah karunia Allah dengan ikhtiar.
Para petani dan pedagang Simpang Tungkop telah membuktikannya.
Mereka bangun ketika ayam mungkin baru atau belum berkokok. Mereka bergerak ketika jalan masih lengang. Mereka berdagang ketika sebagian besar masyarakat belum membuka mata.
Mereka bukan hanya pedagang. Mereka adalah pejuang subuh di bidang ekonomi.
Perjuangan mencari rezeki itu mulia. Petani yang menanam, pedagang yang mengangkut, penjual yang melayani, pembeli yang membutuhkan, semuanya menjadi bagian dari mata rantai ekonomi yang menghidupkan masyarakat.
Tetapi perjuangan itu akan lebih mulia apabila dipadukan dengan ibadah.
Cari hareukat, jangan lupa berkat. Cari rezeki, jangan lupa Ilahi. Kejar pembeli, jangan tinggalkan Yang Maha Pemberi.
Simpang Tungkop sebagai Ikon Ekonomi Darussalam
Karena itu, Simpang Tungkop layak mendapatkan perhatian sebagai salah satu ikon ekonomi masyarakat Darussalam.
Potensinya bukan hanya karena lokasinya strategis, tetapi karena memiliki sejarah panjang, aktivitas ekonomi yang dimulai sejak dini hari, jaringan petani dan pedagang dari berbagai wilayah, serta keberadaan Masjid Jamik Baitul Jannah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Semoga Simpang Tungkop terus berkembang.
Semoga para petani semakin produktif.
Semoga para pedagang semakin maju.
Semoga transaksi semakin ramai.
Semoga warung-warung kopi dan usaha kecil masyarakat semakin tumbuh.
Dan yang paling penting, semoga ramainya pasar tidak mengurangi ramainya masjid.
Justru kita berharap sebaliknya: semakin hidup pasar, semakin makmur masjid; semakin banyak rezeki berputar, semakin banyak pula sedekah mengalir; semakin sibuk manusia bekerja, semakin kuat pula hubungan mereka dengan Allah.
Simpang Tungkop mengajarkan kepada kita bahwa mencari rezeki tidak harus menunggu matahari tinggi.
Ada orang-orang yang menjemput rezeki ketika fajar belum menyingsing.
Mereka bangun lebih awal, bekerja lebih awal, dan berharap rezeki lebih berkah.
Maka kepada para petani dan pedagang sayur mayur di Simpang Tungkop, teruslah berjuang. Kalian adalah bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat Aceh Besar. Kalian adalah pejuang subuh dalam bidang ekonomi.
Namun dalam perjalanan mencari hareukat, jangan lupa mencari berkat.
Jaga salat. Jaga kejujuran. Jaga amanah. Jaga hubungan sesama manusia. Tunaikan hak Allah dan Rasul-Nya. Manfaatkan fasilitas bersuci dan beribadah di Masjid Jamik Baitul Jannah. Jika azan Subuh berkumandang, sempatkan diri untuk memenuhi panggilan-Nya dan, bila memungkinkan, tunaikan secara berjamaah.
Sebab hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang kita dapatkan, tetapi juga seberapa berkah yang kita dapatkan.
Semoga Allah melapangkan rezeki para petani dan pedagang, memudahkan urusan mereka, menjaga kejujuran mereka dalam berdagang, memakmurkan Masjid Jamik Baitul Jannah, memberkahi Simpang Tungkop, serta membalas kebaikan para muhsinin yang telah menyediakan fasilitas masjid.
Simpang Tungkop boleh ramai oleh transaksi sejak pukul 02.30 dini hari, tetapi jangan pernah membiarkan hati kita sepi dari mengingat Allah.
Karena rezeki yang dicari dengan kerja keras itu mulia, tetapi rezeki yang dipadukan dengan ibadah jauh lebih indah: bukan hanya menghasilkan hareukat, tetapi menghadirkan berkat.
Wallahu a’lam
Tungkop, 7 Rabiul Awal 1448, 19 Agustus 2026
(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)
