-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Stetoskop Ikut Berdakwah

Minggu, 30 Agustus 2026 | Agustus 30, 2026 WIB Last Updated 2026-08-31T01:30:20Z


Suplemen Sehat Dalam Safari Ibadat

Oleh Saifuddin A. Rasyid 

Al-Rasyid.id | Ada pemandangan yang bagi saya jauh lebih dalam daripada sekadar baksos atau layanan pengobatan gratis.


Ahad pagi itu, 30 Agustus 2026, setelah shalat Subuh dan tausiyah Safari Subuh BBC di Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop selesai, seperti di beberapa safari BBC sebelumnya, jamaah belum semuanya beranjak pulang. Sebagian justru masih bertahan. Mereka mendaftar, duduk menunggu antrean, berkonsultasi, diperiksa dan mendapatkan obat.


Jam terus bergerak.

Lewat pukul 08.00.

Kemudian mendekati pukul 09.00.

Tim medis FDPeduli masih melayani.


Umumnya jamaah masih mengenakan pakaian shalat.


Di situlah saya melihat sebuah pemandangan dakwah yang berbeda. Setelah tubuh dan ruh menghadap Allah melalui shalat, tubuh itu kemudian dirawat agar kembali memiliki kekuatan untuk melanjutkan pengabdian kepada-Nya.


Bukankah ini indah?


Safari Subuh memberikan nutrisi kepada ruh melalui ibadah dan tausiyah. FDPeduli memberikan perhatian kepada jasad melalui pemeriksaan kesehatan, konsultasi dan pengobatan.


Saya kemudian berpikir: mungkin inilah yang selama ini kurang kita sadari—bahwa kesehatan sesungguhnya adalah salah satu suplemen penting dalam perjalanan ibadah.


Dakwah Tidak Harus Selalu Berbicara


FDPeduli, yang tampaknya bergerak di bawah payung Forum Da’i Perbatasan dan dikoordinasikan oleh dr. Nurkhalis, Sp.JP, menghadirkan tim kesehatan yang cukup lengkap. Ada dokter spesialis, termasuk spesialis jantung dan saraf, dokter, perawat, tenaga farmasi serta unsur pendukung lainnya.


Mereka datang bukan membawa mimbar.

Mereka membawa peralatan medis.

Mereka tidak berdiri menyampaikan ceramah.

Mereka duduk mendengarkan keluhan pasien.


Mereka tidak memberikan khutbah tentang kesehatan.

Mereka memeriksa tubuh yang membutuhkan pertolongan.


Tetapi bukankah semua itu juga bisa menjadi dakwah?


Dakwah tidak selalu harus terdengar oleh telinga. Kadang ia cukup dirasakan oleh tubuh dan hati.


Seorang dokter yang meluangkan waktu setelah Subuh untuk memeriksa seorang jamaah —apalagi yang miskin— sedang menyampaikan pesan tanpa banyak kata: bahwa manusia harus saling menjaga.


Seorang muhsin yang mendukung dengan membantu membeli obat sedang menyampaikan pesan bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk menghidupkan kemanfaatan.


Seorang perawat yang sabar melayani antrean sedang mengajarkan akhlak.


Dan seorang pasien yang kemudian pulang membawa kesadaran baru untuk menjaga kesehatannya sedang membawa pulang sebuah pesan dakwah.


Stetoskop ternyata juga bisa menjadi alat dakwah.


Mukmin Kuat, Bukan Mukmin yang Mengabaikan Diri


Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci tubuh demi mengejar kesalehan.

Sebaliknya, tubuh adalah amanah.


Rasulullah SAW bersabda:


“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.”

(HR. Muslim)


Hadis ini tidak boleh dipersempit hanya menjadi ajakan membesarkan otot. Kekuatan seorang Muslim jauh lebih luas: kuat iman, kuat ilmu, kuat mental, kuat kemauan, kuat bekerja, kuat menghadapi ujian, kuat membantu orang lain dan kuat secara fisik.


Karena itu, menjaga kesehatan seharusnya menjadi bagian dari ikhtiar menjadi mukmin yang kuat.


Sehat agar kuat shalat.

Sehat agar kuat bekerja.

Sehat agar kuat mencari nafkah halal.

Sehat agar kuat merawat keluarga.

Sehat agar kuat belajar.

Sehat agar kuat bersedekah.

Sehat agar kuat berdakwah.

Sehat agar kuat memberi manfaat.


Dengan demikian, olahraga, menjaga pola makan, pemeriksaan kesehatan, tidur yang cukup dan pengobatan ketika sakit dapat menjadi bagian dari ikhtiar ibadah apabila diniatkan untuk menjaga amanah Allah.


Kita Sering Baru Menghargai Kesehatan Setelah Kehilangannya


Ironisnya, manusia sering memperlakukan kesehatan seperti udara: baru terasa mahal ketika sulit mendapatkannya.


Saat sehat, kita merasa biasa.


Ketika sakit, kita mulai menghitung nilai sebuah tubuh yang sebelumnya dianggap sederhana.


Kita baru memahami mahalnya jantung ketika ia bermasalah.


Kita baru menghargai saraf ketika tubuh kehilangan fungsi tertentu.


Kita baru memahami nikmat berjalan ketika kaki tidak lagi mampu menopang tubuh.


Karena itu, kehadiran tim medis di tengah jamaah Subuh sesungguhnya membawa satu pesan preventif yang sangat penting:


jangan menunggu sakit untuk mulai peduli kepada kesehatan.


Pemeriksaan bukan tanda bahwa kita lemah.


Justru orang yang mau memeriksa kesehatan adalah orang yang sedang bertanggung jawab terhadap amanah tubuhnya.


Para Pejuang Subuh di Balik Layanan Kesehatan


Ada satu sisi lain yang menurut saya layak diberi penghormatan.


Para dokter dan tenaga kesehatan FDPeduli juga adalah pejuang Subuh.


Ketika banyak orang masih terlelap, mereka sudah bangun.


Ketika jamaah bersiap menuju masjid, mereka menyiapkan peralatan.


Ketika tausiyah berlangsung, mereka mungkin sudah memikirkan pasien yang akan dilayani.


Dan ketika sebagian jamaah mulai pulang, mereka justru baru memasuki fase pelayanan.


Mereka bertahan hingga berjam-jam.


Ini bukan sekadar pekerjaan.

Ada unsur pengabdian.


Apalagi ketika ilmu kedokteran yang diperoleh melalui perjalanan pendidikan panjang dan mahal itu kemudian dihibahkan untuk masyarakat secara gratis.


Kita sedang menyaksikan sebuah bentuk sedekah ilmu dan profesionalitas.


Dan jangan lupa, di belakang pelayanan itu mungkin ada para muhsinin yang menyediakan dana pengadaan obat.


Maka sesungguhnya FDPeduli adalah sebuah rantai kebaikan.


Dokter menyumbangkan ilmu.

Perawat menyumbangkan tenaga.

Tim farmasi menyumbangkan keahlian.

Relawan menyumbangkan waktu.

Muhsinin menyumbangkan harta.

Masjid menyediakan ruang.

Jamaah menerima manfaat.


Semuanya bertemu dalam satu titik: kemanfaatan.


Allah Kaya, tetapi Pertolongan-Nya Sering Datang Melalui Manusia


Inilah salah satu keindahan kehidupan.


Allah Mahakaya. Allah Mahakuasa. Tetapi dalam banyak keadaan, pertolongan-Nya datang melalui tangan manusia.


Ada orang yang diberi ilmu.

Ada yang diberi kesehatan.

Ada yang diberi harta.

Ada yang diberi kesempatan mengorganisasi.

Ada yang diberi keberanian untuk bergerak.


Lalu Allah mempertemukan semua kelebihan itu menjadi sebuah amal.


Karena itu, saya kira kita tidak boleh melihat pelayanan kesehatan gratis sebagai sekadar “orang berobat tanpa bayar”.


Lebih jauh daripada itu, kita sedang melihat bagaimana karunia Allah diputar menjadi kemanfaatan sosial.


Dan inilah semangat yang seharusnya tumbuh dalam kehidupan umat.


Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”


Mulailah bertanya:


“Apa yang Allah titipkan kepada saya dan bisa saya manfaatkan untuk orang lain?”


Sehat untuk Beribadat kepada Allah, Bukan untuk Berkhianat kepada Allah


Ada satu kalimat yang menurut saya perlu terus kita tanamkan:


Kita ingin sehat untuk beribadah, bukan sehat untuk berkhianat kepada Allah.


Tubuh yang kuat jangan digunakan untuk menzalimi.


Mata yang sehat jangan digunakan melihat yang haram.


Tangan yang kuat jangan digunakan mengambil hak orang.


Kaki yang sehat jangan digunakan menuju kemaksiatan.


Lidah yang sehat jangan digunakan menyebarkan fitnah.


Otak yang sehat jangan digunakan merancang kejahatan.


Sebaliknya, semua anggota tubuh harus dikembalikan kepada tujuan penciptaannya: menjadi sarana ketaatan dan kemanfaatan.


Dengan perspektif seperti ini, menjaga kesehatan berubah menjadi sebuah kesadaran spiritual.


Kita merawat tubuh karena tubuh itu milik Allah yang dititipkan kepada kita.


Masjid Jangan Hanya Menunggu Orang Sakit


Gerakan FDPeduli juga memberi inspirasi yang lebih besar bagi pengelolaan masjid.


Masjid dapat menjadi pusat pembentukan umat yang sehat.


Bukan hanya sehat spiritual, tetapi juga sehat fisik dan mental.


Mengapa tidak semakin banyak masjid membuat program pemeriksaan kesehatan jamaah?


Mengapa tidak ada edukasi jantung setelah Subuh?


Mengapa tidak ada kampanye berhenti merokok?


Mengapa tidak ada pemeriksaan tekanan darah dan gula darah secara berkala?


Mengapa tidak ada edukasi kesehatan mental?


Mengapa tidak dibangun database kesehatan jamaah—dengan tetap menjaga privasi—agar program sosial masjid lebih tepat sasaran?


Jika masjid mampu mengintegrasikan dakwah, pendidikan, kesehatan dan kepedulian sosial, maka masjid akan kembali menjadi pusat kehidupan umat dalam arti yang lebih luas.


Masjid bukan hanya tempat orang datang ketika membutuhkan Allah, tetapi juga tempat umat belajar bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah.


Dari Pengobatan Gratis Menuju Budaya Hidup Sehat


Namun kita jangan salah memahami program seperti FDPeduli.


Pengobatan gratis bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan.


Justru sebaliknya.


Ia harus menjadi pintu masuk menuju budaya preventif.


Jamaah harus belajar mengenali tubuhnya.


Periksa tekanan darah.

Pantau gula darah dan faktor risiko lain sesuai anjuran tenaga kesehatan.


Jaga pola makan.

Kurangi makanan yang berlebihan gula, garam dan lemak.


Bergerak dan berolahraga secara teratur sesuai kondisi masing-masing.


Tidur cukup.

Hindari rokok.

Kelola stres.

Rawat hubungan sosial.

Jangan malu berkonsultasi kepada tenaga kesehatan.


Dan yang paling penting, jangan abaikan gejala yang menetap atau memburuk.


Kesehatan tidak cukup didoakan. Ia juga harus diusahakan.


Doa tanpa ikhtiar bisa menjadi alasan untuk pasif.


Sebaliknya, ikhtiar tanpa doa dapat membuat manusia lupa bahwa kesehatan pada akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah.


Maka keduanya harus berjalan bersama.


Sebuah Doa untuk Para Pejuang Kesehatan


Kepada tim FDPeduli, saya ingin menyampaikan apresiasi yang sangat khusus.


Terima kasih karena telah menjadikan Subuh bukan hanya waktu untuk menunaikan shalat, tetapi juga waktu untuk memperpanjang manfaat kepada sesama.


Terima kasih kepada para dokter, dokter spesialis, perawat, tenaga farmasi, relawan dan para muhsinin yang memungkinkan gerakan ini terus berjalan.


Semoga Allah membalas hibah ilmu dengan ilmu yang semakin berkah.


Membalas tenaga dengan kesehatan.


Membalas waktu dengan keberkahan umur.


Membalas harta dengan kelapangan rezeki.


Membalas pelayanan dengan kemudahan hidup.


Dan membalas setiap kebaikan dengan pahala yang tidak pernah putus.


Semoga Allah menjaga diri, keluarga, profesi dan usaha mereka. Semoga setiap obat yang berpindah dari tangan mereka kepada pasien menjadi saksi kebaikan. Semoga setiap pasien yang kembali sehat lalu mampu bersujud, bekerja, mengurus keluarga dan membantu orang lain menjadi bagian dari aliran pahala mereka.


Sebab kita tidak pernah tahu, kebaikan kecil yang kita lakukan pagi ini mungkin menjadi kebaikan besar yang menunggu kita di akhirat.


Akhirnya, Mari Sehat untuk Menjadi Lebih Taat


Safari Subuh BBC dan gerakan FDPeduli telah memperlihatkan kepada kita satu model dakwah yang patut direnungkan.


Ruh diberi tausiyah.

Tubuh diberi perhatian.

Ilmu agama bertemu ilmu kedokteran.


Dai bertemu dokter.

Masjid bertemu pelayanan kesehatan.

Ibadah bertemu kemanusiaan.


Dan semuanya bermuara pada satu kata: kemanfaatan.


Maka mari kita ubah cara pandang.


Jangan berkata, “Saya menjaga kesehatan supaya panjang umur.”


Katakan:


“Saya menjaga kesehatan agar panjang umur dalam ketaatan.”


Jangan berkata, “Saya ingin tubuh kuat agar bisa menikmati kehidupan.”


Katakan:


“Saya ingin tubuh kuat agar lebih banyak memberi manfaat.”


Sebab tubuh yang sehat bukan tujuan terakhir.

Ia adalah kendaraan.


Dan kendaraan yang baik seharusnya membawa kita menuju tujuan yang benar.

Tujuan itu adalah Allah.


Maka jika suatu pagi kita melihat dokter membuka praktik gratis di halaman masjid setelah shalat Subuh, jangan melihatnya hanya sebagai klinik berjalan.


Lihatlah sebagai sebuah pesan:


Allah sedang mengingatkan kita bahwa menjaga tubuh adalah menjaga amanah, menjaga kesehatan adalah menjaga kemampuan beribadah, dan menolong orang yang sakit adalah salah satu cara manusia saling menolong dalam kebaikan.


Di sanalah, pada pagi yang sederhana setelah Subuh, stetoskop ikut berdakwah.


Dan mungkin itulah salah satu bentuk dakwah yang paling dibutuhkan umat hari ini: bukan hanya membuat manusia pandai berbicara tentang hidup, tetapi membantu mereka hidup sehat, hidup kuat, hidup bermanfaat, dan akhirnya hidup dalam ketaatan kepada Allah.


Wallahu a’lam 


Tungkop, 17 Rabiul Awal 1448, 30 Agustus 2026


(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)


_Note: Foto profesional jepretan Dr Jauhari Hasan, berdiri dari kiri; Mukhlis, dr. Nurkhalis Sp JP, penulis, dan M Nur_

×
Berita Terbaru Update