-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Mahasiswa, Jangan Kebablasan Energi

Kamis, 27 Agustus 2026 | Agustus 27, 2026 WIB Last Updated 2026-08-28T01:34:40Z


Lanjutan dari “Selamat Datang Mahasiswa Baru, Jangan Ketinggalan Kereta”

Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Setelah menulis tentang “Selamat Datang Mahasiswa Baru, Jangan Ketinggalan Kereta”, sore ini saya kembali teringat pada satu pesan penting yang rasanya perlu disampaikan kepada mahasiswa, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa lama: jangan kebablasan energi.


Mahasiswa adalah anak muda dengan energi besar. Mereka memiliki rasa ingin tahu, keberanian mencoba sesuatu yang baru, semangat bergaul dan keinginan menikmati kehidupan. Semua itu adalah modal besar untuk berkembang. Tetapi energi yang besar tanpa arah juga dapat membawa seseorang terlalu jauh dari tujuan awalnya.


Sore ini, sambil menikmati kopi sanger dingin, berenergi, saya berkesempatan duduk bersama dua petinggi BKM Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Dr. Muqni Affan, Ketua BKM, dan Dr. Bukhari Ali, Wakil Sekretaris BKM. Dr. Muqni Affan juga merupakan Koordinator Pusat Kerohanian dan Moderasi Beragama (PKMB) UIN Ar-Raniry.


Percakapan ringan itu kembali mengingatkan kami pada tulisan sebelumnya. Ada satu hal yang terasa penting: mahasiswa baru perlu disambut bukan hanya dengan orientasi akademik, tetapi juga dengan spirit dan perhatian.


Mereka perlu merasakan bahwa ketika memasuki kampus, ada orang-orang yang peduli kepada mereka. Ada dosen yang membimbing, ada pegawai yang membantu, ada senior yang mengarahkan, dan ada pengurus masjid yang siap menjadi bagian dari keluarga besar mereka selama berada di kampus.


Pengurus masjid, dalam batas kemampuannya, ingin hadir seperti mewakili suara orang tua yang berada jauh di kampung halaman.


Sebab orang tua mungkin hanya bisa berpesan melalui telepon: “Nak, belajar yang baik. Jaga diri. Jangan lalai. Jangan lupa shalat.”


Pesan sederhana itu sesungguhnya sangat dalam.


Energi besar perlu kompas


Menjadi mahasiswa berarti memasuki dunia yang lebih terbuka. Pilihan semakin banyak. Pertemanan semakin luas. Informasi datang tanpa batas. Teknologi berada di tangan. Waktu berada dalam pengelolaan sendiri.


Di sinilah mahasiswa perlu memiliki kompas.


Jangan sampai kebebasan yang diperoleh setelah meninggalkan rumah justru membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya.


Kampus adalah ruang belajar yang terbuka luas. Tetapi dunia di luar kampus juga membawa berbagai pengaruh. Sebagian positif, sebagian netral, dan sebagian lainnya dapat menjadi ancaman apabila tidak disikapi dengan hati-hati.


Berbagai persoalan sosial yang sering muncul dalam pemberitaan—seperti penyalahgunaan narkoba, perjudian daring (judol), perilaku seksual berisiko yang dapat meningkatkan penularan HIV/AIDS, pergaulan yang tidak sehat, kekerasan dan perkelahian antarkelompok, balapan liar, hingga berbagai bentuk kenakalan lainnya—menunjukkan bahwa anak muda membutuhkan pendampingan dan kemampuan mengambil keputusan yang matang.


Demikian pula mahasiswa perlu memiliki kecakapan menghadapi keberagaman identitas, pandangan dan gaya hidup di lingkungan sosialnya. Jangan mudah terbawa arus, tetapi juga jangan mudah membenci atau menghakimi orang lain.


Pegang nilai agama, hormati martabat manusia, dan bangun pergaulan yang sehat.


Kampus adalah tempat bertemunya banyak pikiran. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Yang perlu dijaga adalah agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.


Mahasiswa juga perlu berhati-hati terhadap paham ekstrem dan sikap radikal yang dapat mendorong kebencian, intoleransi, kekerasan, atau permusuhan terhadap kelompok lain. Sikap seperti itu bukan hanya merusak hubungan antarmahasiswa, tetapi juga dapat menimbulkan ketegangan dengan masyarakat sekitar.


Karena itu, moderasi beragama bukan sekadar istilah akademik. Ia adalah keterampilan hidup.


Belajar berbeda tanpa bermusuhan. Teguh dalam keyakinan tanpa merendahkan orang lain. Berani menyampaikan pendapat tanpa menyebarkan kebencian. Dan mampu berdialog ketika menemukan perbedaan.


Jangan sampai kuliah terbengkalai


Ada mahasiswa yang awalnya datang dengan target sederhana: kuliah dengan baik, memperoleh gelar sarjana, kemudian bekerja atau melanjutkan pendidikan.


Tetapi di tengah perjalanan, tujuan itu bisa kabur.


Awalnya hanya ingin bersantai. Kemudian terlalu banyak nongkrong. Lalu terlalu larut dalam media sosial. Mulai mengenal berbagai aktivitas yang tidak produktif. Waktu belajar berkurang. Kuliah mulai sering ditinggalkan. Tugas tertunda. Nilai menurun.


Tiba-tiba semester berganti.


Teman-teman sudah menyelesaikan skripsi, sementara dirinya masih sibuk mencari kembali arah perjalanan.


Inilah yang saya maksud dengan kebablasan energi.


Energi muda bukan masalah. Justru energi muda adalah kekuatan. Yang menjadi masalah adalah ketika energi itu tidak memiliki tujuan.


Jangan sampai semangat bergaul lebih besar daripada semangat belajar.


Jangan sampai keinginan menikmati kehidupan lebih besar daripada keinginan membangun masa depan.


Jangan sampai kesenangan sesaat dibayar dengan masa depan yang panjang.


Dan yang paling menyedihkan, jangan sampai orang tua di kampung hanya bisa menunggu kabar dengan hati sedih karena anak yang mereka banggakan mulai kehilangan arah.


Maka, bagaimana agar tidak kebablasan?


Pertama, ingat kembali tujuan awal datang ke kampus. Tulis target pribadi. Kapan harus lulus, kompetensi apa yang harus dimiliki dan menjadi manusia seperti apa setelah menyelesaikan pendidikan.


Kedua, buat batas pergaulan. Bertemanlah seluas mungkin, tetapi jangan kehilangan kemampuan mengatakan “tidak” terhadap ajakan yang dapat merusak diri.


Ketiga, kelola waktu. Bedakan waktu untuk kuliah, belajar, organisasi, istirahat, bersosialisasi dan ibadah. Jangan biarkan satu aktivitas memakan seluruh waktu yang seharusnya digunakan untuk kepentingan lain.


Keempat, jaga kesehatan digital. Tidak semua yang muncul di media sosial layak diikuti. Jangan terjebak perjudian daring, konten negatif, provokasi, pornografi, ujaran kebencian atau komunitas digital yang mendorong perilaku merusak.


Kelima, pilih teman yang saling menguatkan. Teman yang baik bukan hanya teman yang membuat kita tertawa, tetapi teman yang berani mengingatkan ketika kita mulai salah arah.


Keenam, jangan malu mencari bantuan. Jika menghadapi persoalan akademik, keluarga, pergaulan atau tekanan sosial, bicaralah kepada orang yang dipercaya: dosen, pembimbing akademik, senior yang baik, pengurus masjid atau pihak kampus yang memiliki kompetensi untuk membantu.


Ketujuh, jaga hubungan dengan orang tua. Berkomunikasilah dengan mereka. Jangan hanya menelepon ketika membutuhkan uang. Tanyakan kabar mereka dan biarkan mereka mengetahui perkembangan pendidikan kita.


Kedelapan, jangan tinggalkan shalat. Ini mungkin nasihat paling sederhana, tetapi sangat penting. Ketika waktu shalat tiba, berhentilah sejenak dari kesibukan. Pergilah ke masjid jika memungkinkan.


Masjid sebagai tempat kembali


Bagi mahasiswa UIN Ar-Raniry, Masjid Fathun Qarib semestinya bukan sekadar bangunan yang berada di tengah kampus.


Ia harus menjadi tempat kembali.


Kembali ketika hati membutuhkan ketenangan. Kembali ketika pikiran mulai penuh. Kembali ketika ingin berdiskusi. Kembali ketika membutuhkan suasana belajar yang baik. Dan tentu saja kembali ketika waktu shalat telah tiba.


Begitu juga ketika mahasiswa tinggal di kos atau rumah sewa, carilah masjid terdekat dan bangunlah hubungan yang baik dengan lingkungan masjid.


Masjid tidak menghalangi mahasiswa untuk maju. Justru masjid dapat menjadi tempat mengisi ulang energi spiritual agar energi intelektual dan sosial tidak kehilangan arah.


Dekat dengan masjid bukan berarti menjauh dari dunia. Dekat dengan masjid berarti memiliki tempat untuk mengingat kepada siapa kita akan mempertanggungjawabkan kehidupan.


Para mahasiswa yang kami banggakan,


Jangan takut menjadi anak muda yang aktif. Jangan takut bermimpi besar. Jangan takut berorganisasi, bergaul, berdiskusi dan mencoba hal-hal baru yang positif.


Tetapi jangan kebablasan.


Energi harus diarahkan. Kebebasan harus disertai tanggung jawab. Pergaulan harus disertai batas. Ilmu harus disertai akhlak. Dan kecerdasan harus disertai kebijaksanaan.


Empat tahun di kampus bukan waktu yang panjang. Jangan sampai kereta pendidikan terus berjalan sementara kita turun di tengah jalan karena terlalu asyik dengan hal-hal yang tidak membawa kita kepada tujuan.


Orang tua telah mengirim kita ke kampus dengan doa dan pengorbanan. Jangan balas pengorbanan itu dengan kelalaian.


Alangkah indahnya jika empat tahun kemudian seorang mahasiswa datang ke hadapan orang tuanya membawa ijazah, keterampilan, pengalaman, akhlak yang baik dan hati yang tetap dekat kepada Allah.


Itulah keberhasilan yang sesungguhnya.


Maka sekali lagi, kepada mahasiswa baru dan mahasiswa lama:


Belajarlah sungguh-sungguh. Bergaullah dengan sehat. Gunakan energi muda untuk berkarya. Jaga diri, jaga hati dan jaga ibadah.


Dan bila mulai merasa perjalanan hidup di kampus terlalu ramai, terlalu bising dan terlalu banyak godaan, singgahlah ke masjid.


Di sana kita belajar bahwa hidup bukan sekadar tentang mengejar kesenangan, tetapi tentang menemukan jalan pulang yang diridhai Allah.


Jangan ketinggalan kereta. Dan yang lebih penting, jangan sampai kebablasan energi.


Wallahu a’lam 


Ulee Kareng 14 Rabiul Awal 1448, 27 Agustus 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


Note: foto, dari kiri; Dr Muqni, Dr Bukhari, dan penulis)

×
Berita Terbaru Update