-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Merdeka dari Penjajahan: Bukan Hanya Fisik, Tetapi Juga Pikiran dan Jiwa

Jumat, 21 Agustus 2026 | Agustus 21, 2026 WIB Last Updated 2026-08-22T05:47:38Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada satu bulir mutiara yang keluar dari celah untaian kalimat khutbah Jumat Dr. Mutiara Fahmi, Lc., MA, di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat, 21 Agustus 2026. Kalimat itu singkat, tetapi mengandung ruang renungan yang panjang: kemerdekaan dari penjajahan tidak hanya menyangkut kemerdekaan fisik, tetapi juga kemerdekaan nonfisik.


Saya merasa kalimat tersebut terlalu berharga untuk dibiarkan lewat begitu saja.


Di tengah suasana bulan kemerdekaan, kita memang lebih mudah memahami penjajahan sebagai sesuatu yang tampak: tentara asing, senjata, pendudukan wilayah, perampasan sumber daya, dan hilangnya kedaulatan sebuah bangsa. Karena itu, ketika sebuah bangsa telah terbebas dari pendudukan asing dan mampu mengatur negaranya sendiri, kita menyebutnya merdeka.


Tetapi apakah kemerdekaan selesai sampai di sana?


Pertanyaan inilah yang menarik untuk diperpanjang dari khutbah Dr. Mutiara Fahmi.


Merdeka secara fisik, belum tentu merdeka secara hakiki


Gagasan tentang kebebasan manusia yang dikemukakan ulama besar Suriah, Prof. Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buthi, memberikan pintu masuk yang menarik untuk memahami persoalan ini.


Al-Buthi lahir pada 1929 di wilayah Jilika, Jazirah Buthan, Turki, kemudian bersama ayahnya berhijrah ke Damaskus. Ia tumbuh menjadi salah seorang ulama dan pemikir Islam terkemuka yang banyak menulis tentang akidah, fikih, pemikiran Islam, peradaban, dan persoalan manusia. Ia wafat pada 21 Maret 2013 di Damaskus ketika sedang memberikan pengajian di Masjid al-Iman. 


Dalam bukunya Hurriyat al-Insan fi Zilli ‘Ubudiyyatillah, al-Buthi mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar: bagaimana manusia dapat disebut bebas sementara pada saat yang sama ia adalah hamba Allah?


Jawaban Islam terhadap pertanyaan tersebut justru sangat menarik.


Bagi Islam, menjadi hamba Allah bukanlah bentuk perbudakan yang menghilangkan kebebasan. Sebaliknya, penghambaan kepada Allah merupakan jalan untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.


Manusia yang hanya tunduk kepada Allah tidak seharusnya menjadi budak manusia lain, budak kekuasaan, budak materi, budak hawa nafsu, budak popularitas, bahkan budak penilaian manusia.


Inilah paradoks kebebasan dalam Islam: ketundukan kepada Allah justru membebaskan manusia dari berbagai ketundukan yang merendahkan martabatnya.


Al-Qur’an menyatakan:


لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ


“Tidak ada paksaan dalam agama; sungguh telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256). 


Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang pilihan keagamaan. Ia juga memperlihatkan penghormatan Islam terhadap manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran dan pilihan moral.


Karena itu, kemerdekaan bukanlah kebebasan melakukan apa saja. Kemerdekaan adalah kemampuan memilih yang benar dengan kesadaran, kemudian mempertanggungjawabkan pilihan tersebut di hadapan Allah.


Penjajahan fisik dan penjajahan nonfisik


Penjajahan fisik relatif mudah dikenali. Ada kekuatan asing yang menduduki wilayah. Ada kekuasaan yang memaksa. Ada sumber daya yang dirampas. Ada hukum yang dipaksakan. Ada rakyat yang kehilangan kedaulatan.


Tetapi penjajahan nonfisik jauh lebih halus. Ia tidak selalu datang dengan kapal perang. Tidak selalu membawa senapan. Tidak selalu mendirikan pemerintahan kolonial.


Ia dapat hadir melalui penguasaan pikiran, pembentukan selera, pengendalian informasi, dominasi budaya, manipulasi persepsi, ketergantungan ekonomi, pembentukan standar nilai, bahkan melalui rasa rendah diri yang akhirnya membuat seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang datang dari luar selalu lebih baik daripada yang lahir dari dirinya sendiri.


Dalam perspektif politik modern, kita dapat membandingkannya dengan gagasan soft power Joseph S. Nye: kemampuan memengaruhi pihak lain bukan melalui paksaan atau pembayaran, tetapi melalui daya tarik dan persuasi. Nye menjelaskan bahwa kekuasaan dapat bekerja melalui coercion, payment, atau attraction and persuasion. (Nature⁠)


Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Tidak setiap pengaruh asing adalah penjajahan. Tidak setiap pertukaran budaya adalah kolonialisme. Tidak setiap produk luar negeri adalah ancaman. Dunia memang saling terhubung.


Tetapi ketika sebuah masyarakat kehilangan kemampuan menentukan sendiri nilai, arah, identitas, dan kepentingannya karena terus-menerus dibentuk oleh kekuatan luar, maka kita patut bertanya: apakah kita benar-benar sedang memilih, atau sebenarnya sedang dipilihkan?


Pertanyaan itu semakin penting pada zaman media sosial.

Penjajahan yang paling berbahaya adalah ketika penjajah tidak lagi terlihat


Penjajahan fisik mempunyai wajah. Penjajahan nonfisik sering tidak mempunyai wajah.

Inilah bahayanya.


Jika ada tentara asing memasuki halaman rumah, kita tahu bahwa kita sedang dijajah. Tetapi jika sebuah ide memasuki kepala kita, membentuk cara berpikir kita, mengubah ukuran kebahagiaan kita, lalu membuat kita membenci identitas sendiri, kita mungkin tidak menyadari bahwa sedang terjadi proses penguasaan.


Dalam psikologi sosial dikenal konsep internalized oppression, yaitu ketika seseorang atau kelompok yang mengalami dominasi akhirnya menginternalisasi pandangan negatif yang berasal dari kelompok dominan dan mulai mempercayai stereotip tersebut tentang dirinya sendiri.


Pada titik tertentu, penjajahan tidak lagi membutuhkan penjajah.


Orang yang terjajah mulai menjaga sendiri penjara pikirannya.


Ia mulai berkata: kita memang tidak mampu.

Kita memang tertinggal.

Produk kita pasti kalah.

Pemikiran kita pasti kuno.

Tradisi kita pasti tidak modern.

Bahasa kita tidak keren.

Ulama kita tidak relevan.

Identitas kita harus disembunyikan agar diterima.


Ukuran keberhasilan kita harus mengikuti ukuran orang lain.


Kalau keadaan ini sudah terjadi, kemerdekaan fisik belum tentu berbanding lurus dengan kemerdekaan mental.


Al-Qur’an mengajarkan perubahan dimulai dari dalam


Di sinilah firman Allah dalam Surah ar-Ra’d ayat 11 menjadi sangat relevan:


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ


“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” 


Ayat ini sering dipahami dalam konteks pembangunan dan perubahan sosial. Tetapi ia juga relevan untuk membangun kemerdekaan batin.


Sebuah bangsa tidak cukup hanya mengibarkan bendera kemerdekaan. Ia harus membangun manusia merdeka.


Manusia merdeka adalah manusia yang mampu berpikir, menimbang, memilih, mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, tanpa kehilangan akal sehat dan tanpa menjadi tawanan tekanan sosial.


Kemerdekaan semacam itu tidak identik dengan kebebasan tanpa batas.


Justru sebaliknya.

Orang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya sesungguhnya belum merdeka.


Orang yang tidak mampu mengatakan “tidak” kepada tekanan teman sesungguhnya belum merdeka.


Orang yang hidup hanya demi like, komentar, pujian dan pengakuan orang lain sesungguhnya belum merdeka.


Orang yang menghabiskan hidupnya mengejar apa yang sedang viral tanpa pernah bertanya apakah sesuatu itu benar atau bermanfaat juga perlu bertanya kembali tentang makna kebebasan.


Penjajahan nonfisik dapat bekerja melalui tiga pintu


Jika dilihat dari perspektif politik, sejarah, dan psikologi, penjajahan nonfisik setidaknya dapat bekerja melalui tiga pintu.


Pertama, pintu pikiran.


Siapa yang menguasai cara sebuah masyarakat memahami dirinya, sejarahnya, dan masa depannya, memiliki pengaruh besar terhadap arah masyarakat itu.


Karena itu, pendidikan adalah medan kemerdekaan yang sangat penting.


Generasi muda harus memiliki kemampuan membaca bukan hanya teks, tetapi juga kepentingan di balik teks; bukan hanya informasi, tetapi juga sumber informasi; bukan hanya berita, tetapi juga siapa yang memproduksi dan untuk kepentingan apa.


Kedua, pintu budaya dan selera.


Budaya dapat menjadi kekuatan yang sangat lembut tetapi sangat dalam. Film, musik, gaya hidup, bahasa, iklan, mode dan berbagai simbol kehidupan sehari-hari dapat membentuk persepsi manusia tentang apa yang dianggap keren, sukses, indah, modern dan membahagiakan.


Tidak semuanya buruk. Bahkan banyak yang positif.


Tetapi masyarakat yang merdeka harus mampu memilih, bukan sekadar meniru.


Ketiga, pintu psikologi.


Penjajahan paling dalam terjadi ketika manusia kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.


Ia merasa selalu lebih rendah daripada orang lain.

Ia takut berbeda.

Ia takut berpikir.

Ia takut bertanya.

Ia takut mempertahankan prinsip.


Akhirnya ia memilih mengikuti arus karena mengikuti arus terasa lebih aman daripada menjadi dirinya sendiri.


Rasulullah mengajarkan kekuatan yang sesungguhnya


Rasulullah SAW bersabda:


الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ


“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”


Hadis riwayat Muslim ini tidak semestinya dipersempit menjadi kekuatan fisik.


Kekuatan seorang muslim juga mencakup kekuatan iman, ilmu, mental, akhlak, ekonomi, kemampuan berpikir dan kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.


Sebab bangsa yang lemah dalam ilmu mudah dipengaruhi.

Bangsa yang lemah dalam ekonomi mudah ditekan.

Bangsa yang lemah dalam budaya mudah kehilangan identitas.

Bangsa yang lemah dalam karakter mudah dibeli.

Dan individu yang lemah dalam pengendalian diri mudah menjadi sasaran manipulasi.


Bagaimana generasi muslim membebaskan diri?


Pertama, merdeka secara akidah.


Jadikan tauhid sebagai pusat orientasi kehidupan. Jangan sampai manusia berubah menjadi hamba uang, jabatan, popularitas, tokoh, kelompok atau hawa nafsunya.


Kedua, merdeka secara intelektual.


Budayakan membaca, bertanya, meneliti dan melakukan tabayyun. Jangan mudah percaya hanya karena sebuah informasi viral.


Ketiga, merdeka secara digital.


Jangan biarkan algoritma menjadi guru utama kehidupan. Apa yang muncul di layar tidak otomatis benar, dan apa yang populer tidak otomatis baik.


Keempat, merdeka secara ekonomi.


Kemandirian ekonomi merupakan bagian penting dari kedaulatan. Pendidikan, kewirausahaan, produktivitas dan penguatan ekonomi umat harus menjadi bagian dari agenda kemerdekaan.


Kelima, merdeka secara psikologis.


Belajarlah mengatakan tidak kepada tekanan yang salah. Jangan hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Bangun harga diri berdasarkan iman, ilmu, akhlak dan karya.


Keenam, merdeka secara budaya.


Kenali sejarah, bahasa, tradisi dan khazanah sendiri. Terbuka terhadap dunia, tetapi jangan kehilangan rumah identitas.


Ketujuh, merdeka melalui ilmu.


Umat Islam tidak boleh alergi terhadap ilmu pengetahuan modern. Justru dengan ilmu, umat mampu berdialog dengan zaman tanpa menjadi korban zaman.


Kedelapan, merdeka dengan akhlak.


Sebab kebebasan tanpa akhlak dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Islam tidak mengajarkan manusia bebas melakukan apa saja. Islam mengajarkan manusia bebas dari perbudakan selain Allah agar mampu hidup secara bertanggung jawab.


Kemerdekaan sejati bukan bebas dari semua aturan


Di sinilah pemikiran al-Buthi menjadi penting.


Kemerdekaan dalam perspektif Islam bukanlah “saya bebas melakukan apa pun”.


Jika demikian, orang yang diperbudak narkoba, judi, pornografi, kemarahan, keserakahan dan popularitas juga dapat mengklaim dirinya bebas karena ia melakukan apa yang ia inginkan.


Padahal ia sedang diperintah oleh sesuatu yang lain.


Maka pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya:

“Apakah saya bebas?” Tetapi:

“Siapa yang sebenarnya mengendalikan saya?”


Apakah Allah?

Ataukah hawa nafsu?

Apakah akal sehat?

Ataukah algoritma media sosial?

Apakah prinsip?

Ataukah tekanan kelompok?

Apakah kebutuhan yang wajar?

Ataukah budaya konsumtif?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena penjajahan nonfisik bekerja dengan cara membuat manusia merasa bebas ketika sebenarnya ia sedang diarahkan.


Dari merdeka secara politik menuju merdeka secara peradaban


Kemerdekaan politik adalah pintu pertama.

Kemerdekaan mental adalah pintu kedua.

Kemerdekaan ekonomi adalah pintu ketiga.

Kemerdekaan ilmu adalah pintu keempat.

Dan kemerdekaan peradaban adalah tahap berikutnya.


Sebuah bangsa disebut benar-benar merdeka ketika ia mampu berdiri tegak, mengambil manfaat dari kemajuan bangsa lain tanpa kehilangan jati dirinya, menerima kritik tanpa kehilangan harga diri, mengambil ilmu dari siapa saja tanpa kehilangan iman, serta mampu memberikan sesuatu kepada dunia.


Karena itu, kemerdekaan bukan sekadar warisan yang diterima.


Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dirawat.


Generasi yang merdeka bukan generasi yang menutup diri dari dunia.


Sebaliknya, ia adalah generasi yang mampu berjalan ke seluruh penjuru dunia dengan kepala tegak, membawa ilmu, akhlak, identitas dan karya.


Terbuka tetapi tidak hanyut.

Modern tetapi tidak tercerabut.

Kritis tetapi tidak sinis.

Religius tetapi tidak anti-ilmu.

Nasionalis tetapi tidak chauvinis.

Dan global tetapi tidak kehilangan akar.


Terima kasih, Dr. Mutiara Fahmi


Pada akhirnya, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Dr. Mutiara Fahmi, Lc., MA, yang dalam khutbah Jumat tadi telah mengangkat persoalan ini.


Di tengah untaian khutbah yang padat, kalimat tentang kemerdekaan fisik dan kemerdekaan nonfisik terasa seperti bulir mutiara yang keluar dari celah-celah rangkaian kata.


Singkat, tetapi berharga.

Tidak berat, tetapi mengundang pikiran untuk bekerja lebih jauh.


Barangkali memang demikian tugas khutbah: bukan hanya membuat jamaah mengangguk ketika mendengar, tetapi membuat mereka terus berpikir setelah meninggalkan masjid.


Sebab kemerdekaan bukan hanya persoalan sejarah.

Ia adalah persoalan hari ini.

Kita mungkin sudah merdeka dari penjajahan fisik.


Tetapi pertanyaan berikutnya adalah:


Sudahkah kita merdeka dari penjajahan pikiran?

Sudahkah kita merdeka dari rasa rendah diri?

Sudahkah kita merdeka dari hawa nafsu?

Sudahkah kita merdeka dari ketergantungan?

Sudahkah kita merdeka dari manipulasi informasi?

Sudahkah generasi muda kita mampu menentukan pilihan dengan ilmu, iman dan akal sehat?


Dan yang paling mendasar:

sudahkah kita menjadi hamba Allah yang merdeka dari segala bentuk penghambaan selain kepada-Nya?


Mungkin di situlah kita menemukan makna kemerdekaan yang lebih dalam.


Bukan sekadar merdeka dari siapa, tetapi juga merdeka untuk menjadi siapa.


Dan dalam perspektif Islam, jawaban terdalamnya adalah: menjadi manusia yang bermartabat, berilmu, berakhlak, bertanggung jawab, dan hanya tunduk kepada Allah SWT.


Itulah kemerdekaan yang harus diwariskan kepada generasi setelah kita.


Bukan hanya tanah yang merdeka.


Tetapi juga pikiran, hati, jiwa dan masa depannya.


Wallahu a’lam 


Darussalam 8 Rabiul Awal 1448, 21 Agustus 2026


(Penulis, Imam besar masjid Fathun Qarib UIN ar-Raniry Banda Aceh)


Note: foto, dari kanan; Ust Muqni Affan, Akmal, penulis, Ust Mutiara, Ust Imam An-Nasai, dan Fiqih Mayasir

×
Berita Terbaru Update