Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Beberapa waktu lalu saya menyaksikan sebuah video animasi sederhana di media sosial. Durasinya hanya beberapa detik, tetapi maknanya begitu dalam.
Animasi itu memperlihatkan seorang lelaki berlari sekencang-kencangnya mengejar segepok uang yang selalu berada tepat di depan wajahnya. Berkali-kali ia mengulurkan tangan, tetapi uang itu tak pernah berhasil diraihnya. Semakin cepat ia berlari, semakin jauh pula uang itu seolah menjauh.
Belakangan baru tampak bahwa uang tersebut digantung pada ujung sebatang kayu, sementara pangkal kayu itu justru diikat pada punggungnya sendiri. Selama ia terus berlari, selama itu pula uang tersebut akan tetap berada di luar jangkauannya.
Tanpa pernah berhenti sejenak, tanpa sempat menoleh ke kanan dan kiri, tanpa mengangkat kepala untuk melihat ke mana arah langkahnya, ia terus berlari. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya semakin letih, tenaganya semakin habis. Ia lupa makan, lupa beristirahat, bahkan lupa tujuan hidupnya.
Hingga akhirnya, tanpa disadari, di hadapannya telah menganga sebuah lubang yang dalam dan gelap. Ia pun terperosok ke dalamnya bersama seluruh angan-angannya yang tak pernah tercapai.
Video animasi itu terasa seperti cermin kehidupan manusia hari ini.
Betapa banyak orang yang hidupnya berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Waktu habis mengejar tambahan penghasilan. Hari-hari dipenuhi target demi target. Yang dikejar bukan lagi kebutuhan, melainkan keinginan yang terus bertambah.
Ketika satu cita-cita tercapai, lahirlah keinginan baru. Ketika satu rumah dimiliki, ingin rumah yang lebih besar. Ketika satu kendaraan terbeli, ingin yang lebih mewah. Ketika jabatan diraih, muncul ambisi berikutnya. Nafsu selalu menawarkan sasaran baru yang seolah-olah akan menghadirkan kebahagiaan, padahal kepuasan itu tidak pernah benar-benar datang.
Akibatnya, tidak sedikit yang mulai mengorbankan hal-hal yang jauh lebih berharga. Salat ditunda bahkan ditinggalkan demi urusan pekerjaan. Al-Qur’an tak lagi sempat dibaca. Orang tua jarang dikunjungi. Anak-anak kehilangan waktu bersama ayah dan ibunya. Tetangga tidak lagi dikenal. Organisasi sosial, kegiatan kemasyarakatan, majelis ilmu, dan aktivitas dakwah dianggap mengganggu produktivitas. Padahal manusia diciptakan bukan semata-mata untuk bekerja mengumpulkan harta.
Allah Swt. berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).
Ayat ini menegaskan bahwa bekerja mencari nafkah adalah bagian dari ibadah, tetapi bukan tujuan utama kehidupan. Tujuan utama manusia adalah mengabdi kepada Allah, sedangkan pekerjaan dan harta hanyalah sarana untuk memperkuat pengabdian tersebut.
Allah Swt. juga mengingatkan:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah [45]: 23).
Ayat ini bukan melarang manusia memiliki cita-cita atau keinginan. Islam justru memuliakan kerja keras dan ikhtiar. Yang dilarang adalah ketika hawa nafsu mengambil alih posisi wahyu dan akal sebagai pengendali kehidupan.
Karena itu, Islam tidak memandang nafsu sebagai sesuatu yang harus dimusnahkan. Yang harus dilakukan adalah mendidik dan mengarahkannya.
Para ulama menjelaskan bahwa perjalanan spiritual manusia dapat dilihat melalui tiga tingkatan nafs yang juga memiliki landasan dalam Al-Qur’an.
Tingkatan pertama adalah an-nafs al-ammarah bis-su’, yaitu jiwa yang selalu memerintahkan kepada keburukan. Allah mengabadikan pengakuan Nabi Yusuf ’alaihissalam:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sungguh, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Yusuf [12]: 53).
Pada tingkatan ini seseorang diperbudak oleh ambisi dunia. Harta menjadi ukuran kemuliaan, jabatan menjadi tujuan hidup, dan keuntungan menjadi satu-satunya orientasi. Demi memenuhi keinginannya, ia rela mengabaikan salat, memutus silaturahim, bahkan tidak segan mengambil hak orang lain.
Dalam kondisi seperti ini, harta tidak lagi menjadi pelayan manusia, tetapi manusia telah menjadi pelayan hartanya.
Tingkatan kedua adalah an-nafs al-lawwamah, yaitu jiwa yang masih jatuh bangun tetapi telah memiliki kesadaran untuk mengoreksi diri.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela dirinya sendiri.”
(QS. Al-Qiyamah [75]: 2).
Pada tahap ini hati belum mati. Ketika lalai beribadah muncul penyesalan. Ketika terlalu sibuk bekerja hingga melupakan keluarga, timbul rasa bersalah. Ketika memperoleh harta dengan cara yang meragukan, hati menjadi gelisah. Penyesalan itulah yang membuka pintu taubat dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Tingkatan ketiga adalah an-nafs al-muthma’innah, yaitu jiwa yang tenang karena berhasil menempatkan dunia pada kedudukan yang sebenarnya.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr [89]: 27–30).
Pada tingkatan ini seseorang tetap bekerja keras, bahkan mungkin menjadi pengusaha besar, profesional, akademisi, petani, nelayan, pedagang, atau pemimpin yang sukses.
Namun kekayaan tidak menguasai hatinya. Ia bersyukur ketika memperoleh keuntungan, bersabar ketika mengalami kerugian, gemar bersedekah ketika lapang, dan tetap tenang ketika diuji kekurangan. Harta berada di tangannya, bukan di dalam hatinya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ’Ulum al-Din mengibaratkan hawa nafsu seperti seekor kuda. Jika dilatih dan dikendalikan, ia akan mengantarkan penunggangnya menuju tujuan. Namun jika dibiarkan liar, ia akan menyeret penunggangnya ke jurang kebinasaan.
Senada dengan itu, Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa musuh terbesar manusia sering kali bukanlah setan, melainkan hawa nafsunya sendiri. Setan hanya membisikkan godaan, sedangkan hawa nafsulah yang membuka pintu untuk melaksanakannya.
Perjalanan dari an-nafs al-ammarah menuju an-nafs al-muthma’innah bukanlah perjalanan sehari atau semalam. Ia merupakan proses panjang yang ditempuh melalui mujahadah, memperbanyak zikir, menjaga salat, menuntut ilmu, bergaul dengan orang-orang saleh, dan terus melatih diri agar akal dan wahyu senantiasa memimpin hawa nafsu.
Ketika manusia berhasil mendidik nafsunya, ia tidak lagi berlari membabi buta mengejar bayangan harta, tetapi melangkah dengan tenang menuju rezeki yang halal, penuh keberkahan, dan diridai Allah Swt.
————-
*Bagian ke 2*
_Perjalanan menuju jiwa yang tenang itulah yang akan mengubah cara pandang seseorang terhadap harta. Ia tidak lagi melihat kekayaan sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt._
Logika Rezeki
Padahal Islam telah mengajarkan logika rezeki yang sangat menenangkan.
Allah Swt. berfirman:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata.”
(QS. Hud [11]: 6).
Ayat ini bukanlah ajakan untuk berpangku tangan. Islam adalah agama yang sangat menghargai kerja keras. Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang pedagang yang jujur. Banyak sahabat beliau menjadi saudagar yang sukses, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka bekerja keras, tetapi tidak pernah membiarkan pekerjaan mengalahkan ibadah.
Ikhtiar adalah kewajiban, sedangkan hasil adalah ketetapan Allah. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh malas bekerja, tetapi juga tidak boleh diperbudak oleh kecemasan terhadap rezeki.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi).
Perhatikan burung dalam hadis tersebut. Ia tetap keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Ia tidak menunggu rezeki jatuh dari langit. Namun ia juga tidak hidup dalam kegelisahan yang membuatnya kehilangan ketenangan. Burung mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, tetapi melakukan ikhtiar dengan hati yang bersandar kepada Allah.
Sayangnya, banyak manusia justru kehilangan logika rezeki yang diajarkan Islam. Mereka bekerja seolah-olah seluruh rezeki berada di tangan mereka sendiri. Mereka cemas kehilangan sedikit keuntungan, tetapi tidak cemas kehilangan waktu salat. Mereka takut omzet berkurang, tetapi tidak takut amalnya berkurang. Mereka gelisah ketika investasi merugi, tetapi tidak gelisah ketika hubungan dengan Allah semakin menjauh.
Sejarah telah memberikan pelajaran yang tidak sedikit.
Al-Qur’an mengabadikan kisah Qarun sebagai simbol manusia yang diperbudak oleh kekayaan. Allah menganugerahkan kepadanya harta yang begitu melimpah hingga kunci-kunci gudang hartanya saja harus dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Namun Qarun berkata dengan penuh kesombongan:
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
“Sesungguhnya aku diberi harta itu hanyalah karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash [28]: 78).
Ia lupa bahwa ilmu, kemampuan, kesehatan, kesempatan, bahkan napas yang ia hirup setiap hari semuanya adalah karunia Allah. Kesombongan itulah yang akhirnya menghancurkannya. Allah membenamkan Qarun bersama rumah dan seluruh hartanya ke dalam bumi. Sedikit pun kekayaannya tidak mampu menyelamatkannya.
Sejarah modern pun memperlihatkan kisah yang tidak jauh berbeda. Betapa banyak orang yang mengumpulkan kekayaan dengan mengorbankan integritas, keluarga, kesehatan, bahkan agama.
Sebagian berakhir di balik jeruji besi karena korupsi dan penipuan. Sebagian wafat sebelum sempat menikmati harta yang dikumpulkannya. Sebagian lagi hidup bergelimang kemewahan, tetapi miskin ketenangan, kehilangan kasih sayang keluarga, dan jauh dari kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karena itu, yang dibutuhkan manusia bukan hanya etos kerja, tetapi juga etika kerja.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan meninggalkan salat. Kejarlah prestasi, tetapi jangan melupakan orang tua. Bangunlah usaha, tetapi jangan mengorbankan keluarga. Kumpulkanlah kekayaan, tetapi jangan abaikan zakat, infak, sedekah, dan kepedulian sosial.
Perluaslah jaringan bisnis, tetapi jangan memutus silaturahim. Jadilah orang kaya, tetapi tetaplah menjadi hamba Allah yang rendah hati.
Harta dan Hati
Islam tidak pernah memusuhi kekayaan. Bahkan Rasulullah ﷺ pernah mendoakan keberkahan bagi para sahabat yang menjadi saudagar. Harta yang berada di tangan orang saleh dapat menjadi sumber kemaslahatan yang sangat besar. Dengan harta dibangun masjid, pesantren, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, beasiswa, dan berbagai amal kebajikan lainnya.
Yang tercela bukanlah banyaknya harta, melainkan ketika harta berpindah dari tangan ke dalam hati. Ketika itu terjadi, manusia tidak lagi mengendalikan hartanya, tetapi justru diperbudak olehnya.
Sesungguhnya manusia tidak pernah binasa karena sedikitnya rezeki, tetapi sering kali binasa karena tidak pernah merasa cukup terhadap rezeki.
Yang menguras tenaga bukanlah bekerja mencari nafkah, melainkan ambisi yang tidak mengenal batas. Rezeki yang halal memang harus dijemput dengan ikhtiar, tetapi ketenangan hanya akan datang ketika hati menerima bahwa Allah Swt. tidak pernah salah dalam membagikan rezeki kepada setiap hamba-Nya.
Khulasah
Di penghujung renungan ini, saya kembali teringat animasi yang saya saksikan. Lelaki itu sesungguhnya tidak sedang mengejar uang. Ia sedang digiring oleh hawa nafsunya sendiri. Ia terus berlari menuju sesuatu yang sengaja dibuat tidak pernah dapat digapainya, hingga akhirnya terjatuh ke dalam lubang yang telah lama menunggunya.
Bukankah demikian pula kehidupan sebagian manusia? Mereka mengira sedang mengejar dunia, padahal dunia sedang menggiring mereka menuju akhir perjalanan tanpa bekal yang cukup.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah penuh emas, niscaya ia ingin memiliki lembah yang kedua. Tidak ada yang memenuhi rongga anak Adam selain tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi penutup yang begitu indah. Nafsu memang tidak pernah mengenal kata “cukup”. Yang menghentikan ambisi manusia bukanlah banyaknya harta, melainkan datangnya kematian.
Barangkali lelaki dalam video animasi itu bukanlah orang lain. Bisa jadi ia adalah kita. Kita yang setiap hari berlari mengejar sesuatu yang belum tentu menjadi milik kita, sementara kematian diam-diam bergerak dari arah yang berlawanan.
Pada saat yang telah ditentukan Allah, keduanya akan bertemu pada satu titik yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun.
Ketika saat itu tiba, Allah Swt. tidak akan bertanya berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu diperoleh, ke mana ia dibelanjakan, dan apakah ia mendekatkan atau justru menjauhkan kita dari-Nya.
Janganlah kita menghabiskan umur untuk mengejar sesuatu yang akan kita tinggalkan, tetapi habiskanlah umur untuk mempersiapkan sesuatu yang akan kita bawa pulang.
Sebab harta tidak akan ikut masuk ke dalam kubur bersama kita. Yang menemani hanyalah amal, doa anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah, serta rahmat Allah Swt.
Karena itu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, sebab Islam mencintai hamba yang berikhtiar. Namun jangan biarkan pekerjaan melalaikan salat, jangan biarkan kekayaan memiskinkan hati, jangan biarkan kesibukan memutus silaturahim, dan jangan biarkan ambisi dunia menghapus tujuan akhir kehidupan.
Harta terbaik bukanlah harta yang paling banyak, melainkan harta yang paling banyak menghadirkan keberkahan.
Kesuksesan terbesar bukanlah ketika kita mampu menggenggam dunia, tetapi ketika dunia tetap berada di tangan, sementara hati tetap bersujud kepada Allah Swt.
Semoga Allah Swt. menganugerahkan kepada kita an-nafs al-muthma’innah, jiwa yang tenang; menjadikan pekerjaan sebagai ibadah, rezeki sebagai amanah, kekayaan sebagai jalan berbagi, dan kehidupan sebagai perjalanan menuju keridaan-Nya. Aamiin ya Rabbal ’alamin.
Wallahu a’lam
Darussalam Banda Aceh 16 Safar 1448, 31 Juli 2026
(Penulis Peutuwa Meunasah Barabung Aceh Besar)
