Menjawab Kemarau dengan Taubat, Doa, dan Ikhtiar
Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Cuaca panas yang melanda Aceh dalam beberapa pekan terakhir telah menjadi perhatian banyak kalangan. Sawah mulai mengering, debit air di sejumlah daerah berkurang, dan masyarakat mulai merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, umat Islam diajak untuk tidak hanya melihatnya sebagai fenomena alam semata, tetapi juga sebagai momentum memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui muhasabah, taubat, doa, dan ikhtiar.
Pesan inilah yang mengemuka dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Dr. Abd. Syukur, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gayo Luwes, di Masjid Jami’ Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Darussalam, Aceh Besar, Jumat (16 Safar 1448/31 Juli 2026).
Dalam khutbahnya, pendakwah ini mengajak jamaah memahami hakikat bulan Safar sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, sekaligus menghidupkan kembali sunnah shalat Istisqa’ sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan.
Beliau menjelaskan bahwa pada masa Jahiliah, masyarakat Arab meyakini bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan. Salah satu penyebab munculnya keyakinan itu adalah kondisi Jazirah Arab yang sangat panas dan kering sehingga masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air, padang rumput mengering, perdagangan menurun, dan rezeki terasa sempit. Keadaan alam kemudian dihubungkan dengan mitos bahwa Safar adalah bulan pembawa sial.
Islam datang untuk meluruskan keyakinan tersebut.
Rasulullah SAW bersabda:
“Lā ’adwā wa lā ṭiyarah wa lā hāmata wa lā ṣafar.”
“Tidak ada penularan (yang berdiri sendiri tanpa kehendak Allah), tidak ada anggapan sial karena burung, tidak ada keyakinan terhadap burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi fondasi akidah bahwa tidak ada waktu, bulan, hari, maupun benda yang secara zat membawa kesialan.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi SAW menghapus keyakinan masyarakat Arab terhadap kesialan bulan Safar karena bertentangan dengan tauhid.
Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa Islam membebaskan manusia dari berbagai bentuk tathayyur (prasangka sial).
Dengan demikian, Safar bukanlah bulan untuk ditakuti, melainkan bulan untuk memperbaiki akidah dan memperbanyak amal saleh.
Dalam khutbah tersebut, Dr. Abd. Syukur juga mengajak masyarakat memperbanyak doa dan melaksanakan shalat Istisqa’, mengikuti sunnah Rasulullah SAW ketika Madinah dilanda kekeringan.
Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dikisahkan bahwa seorang Arab Badui datang mengadu kepada Rasulullah SAW tentang kekeringan yang melanda. Nabi kemudian berdoa sambil mengangkat kedua tangannya dengan penuh kekhusyukan hingga para sahabat melihat putih kedua ketiak beliau.
Tidak lama kemudian Allah menurunkan hujan yang membasahi Madinah selama beberapa hari. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketika menghadapi kemarau, doa dan shalat Istisqa’ merupakan sunnah yang diajarkan Rasulullah.
Taubat dan Doa
Ajakan tersebut sejalan dengan seruan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali (Abu Sibreh), yang mengimbau masyarakat Aceh memperbanyak istighfar, bertaubat, menghentikan berbagai bentuk kemaksiatan, serta memohon ampun kepada Allah sebagai respons atas cuaca panas yang sedang terjadi.
Seruan para ulama tersebut memiliki landasan yang sangat kuat dalam Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman:
“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.”
(QS. Nuh: 10–11).
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sebab datangnya keberkahan. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menjanjikan hujan, kelapangan rezeki, harta, anak, dan berbagai nikmat kepada hamba-hamba yang kembali kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.
Allah juga berfirman:
“Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A’raf: 96).
Ayat ini mengajarkan bahwa keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen atau melimpahnya air, tetapi juga dari hadirnya ketenteraman, keamanan, persatuan, dan kehidupan yang diridhai Allah.
Di sisi lain, Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum: 41).
Dalam Tafsir Al-Qurthubi, kerusakan tersebut dijelaskan dapat berupa kekeringan, paceklik, berkurangnya hasil bumi, maupun berbagai musibah yang menjadi pengingat agar manusia kembali kepada Allah.
Namun, ayat ini tidak boleh dipahami secara serampangan untuk menghakimi bahwa setiap bencana pasti merupakan hukuman atas dosa tertentu. Yang diajarkan Al-Qur’an adalah menjadikan setiap musibah sebagai momentum introspeksi dan memperbaiki diri.
Ikhtiar
Islam juga mengajarkan bahwa doa harus berjalan seiring dengan ikhtiar. Syaikh Yusuf Al-Qaradawi mengingatkan bahwa memohon hujan kepada Allah tidak berarti mengabaikan tanggung jawab manusia menjaga lingkungan.
Menanam pohon, menjaga hutan, menghemat air, tidak merusak daerah resapan, serta mengelola alam dengan bijaksana merupakan bagian dari amanah kekhalifahan manusia di bumi.
Pelajaran yang sangat berharga juga dapat dipetik dari sejarah pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Ketika Jazirah Arab dilanda musim paceklik hebat yang dikenal dengan ’Am ar-Ramadah, Umar mengajak masyarakat memperbanyak doa dan istighfar.
Namun beliau tidak berhenti pada aspek spiritual. Umar mengirim bantuan pangan dari berbagai wilayah, memperkuat solidaritas sosial, bahkan menunda pelaksanaan hukuman potong tangan bagi pencuri karena mempertimbangkan kondisi darurat yang dihadapi masyarakat.
Sejarah ini menunjukkan bahwa menghadapi bencana harus dilakukan melalui pendekatan spiritual sekaligus sosial.
Mandi Safar
Di berbagai daerah Nusantara bahkan di beberapa negara Asia Tenggara masih dikenal tradisi Mandi Safar, yaitu mandi di sungai atau laut pada bulan Safar dengan keyakinan dapat menolak bala.
Tradisi semacam ini lahir dari budaya lokal yang berkembang sebelum datangnya pemurnian ajaran Islam.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa Islam telah menghapus keyakinan mengenai kesialan bulan Safar. Karena itu, apabila ritual tersebut diyakini memiliki kekuatan gaib untuk menolak musibah, maka keyakinan itu tidak memiliki dasar dalam syariat.
Keselamatan hanya datang dari Allah SWT, bukan dari air sungai, benda tertentu, ataupun waktu tertentu.
Perkuat Iman Bukan Mitos
Bagi masyarakat Aceh, respons terbaik terhadap cuaca panas bukanlah mempercayai mitos, melainkan memperkuat iman dan kepedulian sosial.
Perbanyaklah istighfar dan taubat nasuha. Hidupkan shalat berjamaah dan shalat Istisqa’ apabila para ulama dan pemerintah memandang perlu. Perbanyak sedekah, terutama kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.
Hematlah penggunaan air, tanamlah pohon, jagalah hutan dan lingkungan sebagai amanah Allah. Hentikan segala bentuk kemaksiatan yang merusak diri, keluarga, dan masyarakat.
Jadikan momentum ini sebagai kesempatan memperbaiki akhlak, mempererat silaturahim, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Seruan Abu Sibreh agar masyarakat meninggalkan maksiat patut dipahami sebagai panggilan moral untuk memulai perubahan dari diri sendiri. Sebab taubat adalah kewajiban setiap muslim, baik pada musim hujan maupun musim kemarau.
Barangkali Aceh hari ini sedang menunggu turunnya hujan dari langit. Namun sebelum itu, mungkin Allah sedang menunggu air mata taubat yang turun dari mata hamba-hamba-Nya.
Sebab hujan yang paling dibutuhkan bukan hanya yang membasahi sawah, sungai, dan waduk, tetapi juga hujan rahmat yang membasahi hati manusia dengan iman, kejujuran, kasih sayang, kepedulian, dan ketakwaan.
Semoga Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi Aceh, menjauhkan negeri ini dari bencana, melimpahkan keberkahan kepada bumi Serambi Mekkah, membimbing para pemimpinnya dengan keadilan, menguatkan para ulama dalam membina umat, serta menjadikan masyarakat Aceh sebagai masyarakat yang senantiasa kembali kepada-Nya dalam setiap keadaan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Tungkop, Darussalam 16 Safar 1448, 31 Juli 2026
(Penulis Imumsyik Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)
_Keterangan foto: Dr Abd Syukur berjubah hitam, foto bersama penulis_
