-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Rasulullah SAW Menggembala, Mahasiswa Jangan Hanya Mengejar Nilai

Selasa, 25 Agustus 2026 | Agustus 25, 2026 WIB Last Updated 2026-08-26T06:45:48Z


Al-Rasyid.id | Banda Aceh, 26 Agustus 2026 — Penceramah yang juga akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. T. Lembong Misbah, M.Ag., mengajak mahasiswa meneladani etos kerja Rasulullah Muhammad SAW sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang memiliki ilmu dan nilai akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang memiliki kemampuan, pengalaman, kemandirian dan etos kerja.


Pesan tersebut disampaikan Dr. T. Lembong Misbah dalam tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 26 Agustus 2026, bertepatan dengan 13 Rabiul Awal 1448 Hijriah.


Dalam tausiyahnya, Dr. Lembong terlebih dahulu menyoroti paradoks dunia kerja saat ini. Di satu sisi banyak pencari kerja mengeluhkan sulit mendapatkan pekerjaan. Namun di sisi lain, para pengguna tenaga kerja juga mengeluhkan sulit menemukan tenaga kerja yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan.


“Di satu sisi banyak sekali hari ini pencari kerja yang mengatakan susah cari kerja, sementara di sisi lain banyak user atau penyedia tenaga kerja yang mengeluhkan hal serupa: susah sekali mencari tenaga kerja,” ujarnya.


Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada perguruan tinggi. Kampus, katanya, bukanlah pabrik tenaga kerja, melainkan pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan intelektual.


“Kampus bukan memproduksi tenaga kerja. Kalau tenaga kerja itu ada wadahnya, namanya BLK, Balai Latihan Kerja. Namun demikian, kampus juga bertanggung jawab agar mahasiswa atau lulusannya mempunyai kemampuan untuk bekerja,” jelasnya.


Rasulullah Menggembala Sejak Dini


Untuk menjelaskan pentingnya pengalaman dan etos kerja, Dr. Lembong mengajak jamaah melihat kehidupan Rasulullah SAW.


Ia menyampaikan bahwa sejumlah riwayat sejarah menggambarkan Nabi Muhammad SAW telah mengenal aktivitas menggembala sejak usia kanak-kanak, ketika berada dalam asuhan Halimah As-Sa’diyah. Dalam perjalanan berikutnya, beliau juga dikenal sebagai pedagang yang memiliki reputasi baik dan dipercaya masyarakat.


“Kalau kita lihat bagaimana Rasulullah SAW, dimulai sejak dini dan lalu kemudian beliau membuktikan berhasil,” katanya.


Bagi Dr. Lembong, kisah tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kemampuan bekerja tidak muncul secara tiba-tiba setelah seseorang memperoleh ijazah. Kemampuan tersebut perlu dibentuk melalui proses, pengalaman dan latihan sejak dini.


Ia pun mengutip ungkapan yang populer, experience is the best teacher—pengalaman adalah guru terbaik.


Karena itu, ia mengkritik kebiasaan sebagian orang tua yang justru menganggap anak masih terlalu kecil untuk belajar berusaha.


“Banyak di antara anak-anak kita pada masa sekolah, begitu ada sedikit bisnis-bisnis kecil, kita bilang, ‘Ah, dia kan masih kecil.’ Padahal sejatinya salah satu sunnah yang mesti kita lakukan hari ini adalah mengajari anak-anak kita berbisnis sejak dini,” ungkapnya.


Mahasiswa Jangan Hanya Mengejar Nilai


Pesan tersebut kemudian diarahkan Dr. Lembong kepada mahasiswa UIN Ar-Raniry, khususnya mahasiswa baru.


Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam orientasi mengejar nilai akademik semata, sementara pengalaman organisasi, keterampilan, aktivitas sosial dan kemampuan praktis justru diabaikan.


“Banyak mahasiswa kita mencari nilai, bukan mencari kemampuan,” tegasnya.


Ia bahkan mengaku kerap mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa yang telah memasuki semester enam: “Apa yang bisa kamu lakukan dari ilmu yang sudah kamu pelajari?”


Menurutnya, pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menanyakan berapa nilai atau indeks prestasi yang diperoleh.


Sebab, persoalan dunia kerja hari ini bukan semata-mata karena tidak tersedia pekerjaan. Bisa jadi, persoalannya adalah masih banyak lulusan yang belum memiliki kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan yang tersedia.


“Pertanyaannya hari ini bukan tidak ada kerja, tetapi sebenarnya banyak kita yang tak punya kemampuan untuk melakukan pekerjaan,” katanya.


Jangan Anggap PNS Satu-satunya Jalan Sukses


Dr. Lembong juga mengkritik pola pikir masyarakat yang masih menempatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri sebagai ukuran utama kesuksesan seseorang.


“Kenapa anak-anak kita seakan-akan kalau tak jadi PNS itu seakan tak sukses?” tanyanya.


Menurutnya, ketika seorang anak pulang ke kampung halaman lalu ditanya, “Kamu kerja di mana?”, pertanyaan tersebut sering kali menggambarkan bahwa status pekerjaan dianggap sebagai ukuran tertinggi keberhasilan pendidikan.


“Seakan-akan kerja di mana itulah capaian tertinggi dari sebuah ilmu. Bagi saya, itu sudah sangat jauh tertinggal,” ujarnya.


Ia mendorong mahasiswa untuk mengubah orientasi dari sekadar menjadi pencari kerja menjadi pribadi yang mampu menciptakan pekerjaan.


Terlebih, menurutnya, peluang kewirausahaan saat ini semakin terbuka luas. Mahasiswa dapat memanfaatkan ilmu, teknologi dan kreativitas untuk membangun usaha sesuai bidang yang dikuasainya.


Harta Bukan Tujuan Akhir


Meski mendorong semangat bekerja dan berwirausaha, Dr. Lembong mengingatkan bahwa Islam tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir kehidupan.


Menurutnya, harta adalah sarana dan modal untuk perjuangan serta menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.


“Di dalam Islam, harta bukanlah tujuan, tetapi harta tiada lain adalah alat sebagai modal untuk bisa melakukan perjuangan,” katanya.


Karena itu, ia mengajak mahasiswa membangun alur kehidupan yang sehat: belajar dengan sungguh-sungguh, memperoleh ilmu, membangun kemampuan, bekerja dan menghasilkan sesuatu, kemudian mengembalikan manfaatnya kepada masyarakat serta mengabdikannya kepada Allah SWT.


Dari Menggembala Menuju Kepemimpinan


Dr. Lembong melihat perjalanan kehidupan Rasulullah SAW sebagai pelajaran bahwa kepemimpinan besar dibangun melalui proses panjang.


Rasulullah SAW tidak tiba-tiba menjadi pemimpin. Beliau melewati berbagai pengalaman kehidupan, termasuk menggembala dan berdagang, sebelum akhirnya mengemban tugas kerasulan dan memimpin umat.


Karena itu, mahasiswa menurutnya perlu menjalani proses pendidikan dengan sungguh-sungguh dan tidak menyia-nyiakan berbagai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman.


“Belajar dulu, mendapatkan ilmu, bisa bekerja, lalu hasilnya kembali kepada masyarakat atau diabdikan kembali kepada Allah SWT,” ujarnya.


Menutup tausiyahnya, Dr. Lembong mengajak mahasiswa, terutama mahasiswa baru, agar mulai membangun keberanian berwirausaha.


“Pintu kewirausahaan hari ini begitu terbuka lebar, dan semua kita bisa masuk ke dalamnya serta bisa mengembangkannya,” katanya.


Ia berharap Islam tidak hanya melahirkan umat yang berilmu, tetapi juga umat yang mandiri, produktif dan mampu menghasilkan karya yang bermanfaat.


“Islam itu hebat, bukan hanya karena umatnya punya ilmu pengetahuan, tetapi juga karena punya kemampuan untuk melakukan usaha-usaha yang berguna bagi agama, bangsa dan negara,” pungkasnya.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update