-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tanggul Preventif: Memperlambat Laju Ancaman, Melindungi Generasi Aceh

Senin, 03 Agustus 2026 | Agustus 03, 2026 WIB Last Updated 2026-08-04T03:13:26Z

 


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Dalam kesempatan yang lalu saya menulis opini berjudul Menjaga Generasi, Menjaga Aceh. Inti tulisan tersebut adalah bahwa masa depan Aceh sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, pembangunan infrastruktur, atau pertumbuhan ekonomi, tetapi terutama oleh kualitas generasi yang akan memimpin daerah ini pada masa mendatang.


Namun, setelah memahami pentingnya menjaga generasi, muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana strategi menjaganya?


Menurut hemat saya, jawabannya adalah dengan membangun tanggul preventif.


Saya sengaja menggunakan istilah tanggul. Sebab, ancaman terhadap generasi tidak datang secara tiba-tiba. Ia bergerak perlahan, mencari celah, memanfaatkan kelengahan, lalu sedikit demi sedikit menggerus ketahanan keluarga dan masyarakat. 


Penyalahgunaan narkoba, perilaku-perilaku yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat, serta berbagai pengaruh gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, budaya, dan etika adalah sebagian dari tantangan yang harus dihadapi secara bijaksana.


Semua persoalan itu tentu memerlukan penegakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Namun pengalaman menunjukkan bahwa penindakan saja tidak pernah cukup. Ketika aparat mulai bertindak, sering kali kerusakan telah terjadi. Karena itu, pendekatan preventif harus menjadi arus utama.


Sebagaimana sebuah tanggul dibangun bukan ketika banjir telah menenggelamkan rumah-rumah, melainkan jauh sebelum air meluap, demikian pula perlindungan terhadap generasi harus dimulai sejak dini. Tanggul dibangun bukan untuk memusuhi air, tetapi untuk mengendalikan alirannya agar tidak menimbulkan kerusakan. 


Demikian pula tanggul preventif dibangun bukan untuk merendahkan atau memusuhi manusia, melainkan untuk melindungi mereka dari berbagai risiko yang dapat merusak masa depan.


Di sinilah Aceh sesungguhnya memiliki kekuatan yang luar biasa.


Kita mempunyai keluarga yang masih menjadi tempat pertama pendidikan anak. Kita memiliki gampong yang dibangun atas semangat kebersamaan. Kita memiliki masjid yang hidup dalam denyut kehidupan masyarakat. Kita memiliki jaringan dayah yang telah mengakar selama berabad-abad. Kita juga memiliki sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, media massa, serta tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian besar terhadap pembangunan karakter generasi.


Persoalannya, potensi-potensi besar itu belum selalu bergerak dalam satu irama.


Sering kali keluarga bekerja sendiri, sekolah berjalan sendiri, masjid mempunyai program sendiri, dayah melaksanakan pembinaannya sendiri, kampus melakukan pengabdian masyarakat sendiri, sementara pemerintah melaksanakan berbagai program secara sektoral. Padahal ancaman yang dihadapi generasi bergerak secara bersamaan dan saling berkaitan.


Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar memperbanyak program, tetapi membangun ekosistem perlindungan generasi.


Keluarga harus menjadi tanggul pertama. Tidak ada benteng yang lebih kokoh daripada rumah yang dipenuhi kasih sayang, komunikasi, perhatian, dan keteladanan. Banyak persoalan remaja bermula ketika rumah kehilangan fungsinya sebagai tempat pulang untuk berdialog.


Gampong menjadi tanggul berikutnya. Budaya saling mengenal, saling peduli, dan saling mengingatkan merupakan modal sosial yang tidak boleh luntur. Ketika masyarakat mengenal anak-anak muda di lingkungannya, berbagai persoalan dapat dideteksi lebih dini sebelum berkembang menjadi lebih besar.


Masjid juga perlu terus dihidupkan sebagai pusat pembinaan generasi. Selain tempat ibadah, masjid dapat menjadi ruang belajar, diskusi, pengembangan kepemimpinan, kegiatan sosial, pembinaan remaja, hingga pusat penguatan ukhuwah. Anak-anak muda yang merasa diterima di masjid akan lebih mudah menemukan lingkungan yang positif.


Dayah tetap menjadi benteng akhlak masyarakat Aceh. Nilai keikhlasan, kedisiplinan, kesederhanaan, penghormatan kepada guru, serta pembiasaan hidup religius merupakan modal yang sangat penting dalam membangun ketahanan moral generasi.


Sekolah dan perguruan tinggi juga memikul tanggung jawab besar. Lembaga pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga generasi yang berkarakter, berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menyaring berbagai informasi di era digital.


Demikian pula pemerintah, tenaga kesehatan, aparat penegak hukum, organisasi kepemudaan, media massa, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat harus menjadi bagian dari tanggul preventif tersebut. Edukasi, pembinaan, literasi digital, layanan kesehatan, rehabilitasi bagi mereka yang membutuhkan, penegakan hukum yang adil, hingga penyediaan ruang-ruang kreatif bagi anak muda harus berjalan secara terpadu.


Menimba Pelajaran dari Pengalaman Dunia


Konsep tanggul preventif bukan sekadar sebuah gagasan ideal. Berbagai negara telah menunjukkan bahwa ancaman terhadap generasi dapat diperlambat apabila pencegahan ditempatkan sebagai prioritas.


Islandia merupakan salah satu contoh yang sering dikaji. Pada dekade 1990-an, negara tersebut menghadapi persoalan serius berupa tingginya penyalahgunaan alkohol dan narkoba di kalangan remaja. 


Yang mereka lakukan bukan hanya memperketat penegakan hukum, tetapi membangun kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah daerah, komunitas, serta memperbanyak aktivitas olahraga dan seni bagi anak-anak muda. Orang tua didorong untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama anak-anak mereka, sementara sekolah dan masyarakat aktif memantau perkembangan remaja. 


Hasilnya tidak dicapai dalam waktu singkat, tetapi melalui konsistensi selama bertahun-tahun, angka penyalahgunaan zat adiktif di kalangan remaja menurun secara nyata.


Singapura juga memberikan pelajaran penting. Negara tersebut memadukan pendidikan, kampanye publik, rehabilitasi, pendampingan sosial, serta penegakan hukum secara konsisten. 


Mereka menyadari bahwa pencegahan tidak boleh dipisahkan dari pendidikan, dan pendidikan tidak akan efektif tanpa dukungan keluarga, masyarakat, dan kebijakan pemerintah yang berkesinambungan.


Tentu Aceh tidak perlu menyalin seluruh kebijakan negara lain. Setiap daerah memiliki sejarah, budaya, sistem hukum, dan karakter masyarakat yang berbeda. Akan tetapi, satu pelajaran penting dapat kita ambil: tidak ada keberhasilan yang lahir dari kerja satu lembaga saja. Keberhasilan selalu dibangun melalui kolaborasi.


Sesungguhnya Aceh telah memiliki modal sosial yang sangat besar. Yang kita perlukan bukanlah mencari model yang sama sekali baru, melainkan menyinergikan kekuatan yang telah lama kita miliki menjadi sebuah sistem perlindungan yang utuh.


Yang juga perlu terus dijaga adalah cara kita memandang sesama manusia. Dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, kita harus mampu membedakan antara menolak suatu perilaku dengan merendahkan martabat pelakunya. 


Ketegasan terhadap nilai-nilai yang diyakini masyarakat dapat berjalan berdampingan dengan sikap santun, empati, dan kepedulian. Bahasa yang menyejukkan, pembinaan yang berkelanjutan, serta kemauan merangkul akan jauh lebih efektif dibandingkan stigma atau caci maki.


Pada akhirnya, membangun tanggul preventif bukan berarti membangun tembok permusuhan. 


Yang kita bangun adalah pagar-pagar perlindungan agar anak-anak dan remaja Aceh tumbuh dalam keluarga yang hangat, memperoleh pendidikan yang baik, memiliki ruang untuk berkarya, mendapatkan lingkungan pergaulan yang sehat, serta mampu menghadapi tantangan zaman dengan ilmu, akhlak, dan kepercayaan diri.


Banjir selalu mencari titik tanggul yang paling lemah. Begitu pula berbagai ancaman terhadap generasi akan mencari celah ketika keluarga mulai renggang, gampong kehilangan kepedulian, masjid sepi dari pembinaan remaja, sekolah dan kampus berjalan sendiri-sendiri, atau pemerintah belum mampu menyatukan seluruh potensi masyarakat.


Karena itu, tanggul tidak dibangun ketika banjir telah menenggelamkan rumah-rumah. Tanggul dibangun jauh sebelumnya agar air tidak mudah memasuki permukiman. 


Demikian pula menjaga generasi. Kita tidak boleh menunggu ancaman membesar baru bertindak.


Keluarga, gampong, masjid, dayah, sekolah, kampus, pemerintah, media massa, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat harus menjadi mata rantai yang saling menguatkan. 


Bila tanggul preventif itu dibangun bersama dengan kesungguhan, insya Allah laju berbagai ancaman dapat diperlambat. Dan pada saat yang sama, Aceh sedang mewariskan kepada masa depan sebuah generasi yang sehat, berilmu, berakhlak, tangguh, serta tetap teguh memegang jati dirinya.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh, 14 Safar 1448, 29 Juli 2026


(Penulis pengamat sosial dan keislaman, akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update