-->

Notification

×

Iklan

Iklan

9/11: Islam Dituduh, Islam Dibutuh

Jumat, 11 September 2026 | September 11, 2026 WIB Last Updated 2026-09-12T02:27:34Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Hari ini, 11 September 2026, genap 25 tahun tragedi yang mengubah wajah dunia. Seperempat abad lalu, pada pagi 11 September 2001, empat pesawat komersial dibajak oleh 19 orang yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. Dua pesawat ditabrakkan ke Menara Kembar World Trade Center di New York, satu menghantam Pentagon, sementara pesawat keempat jatuh di Pennsylvania setelah penumpang dan awak melakukan perlawanan.


Sebanyak 2.977 orang dari lebih 90 negara tewas dalam serangan tersebut. (911 Memorial⁠)


Bagi generasi muda yang lahir setelah 2001, 9/11 mungkin hanya sebuah tanggal dan gambar dua gedung tinggi yang mengepulkan asap. Tetapi bagi generasi sebelumnya, peristiwa itu merupakan salah satu titik balik sejarah modern. Dunia berubah. Politik keamanan berubah. Hubungan Barat dan dunia Islam berubah. Dan, yang tidak kalah penting, persepsi sebagian masyarakat dunia terhadap Islam dan kaum Muslim juga ikut berubah.


Di sinilah persoalan besar itu bermula.


Islam dituduh, padahal Islam dibutuhkan.


Para pelaku 9/11 memang mengaku membawa simbol dan bahasa keagamaan. Mereka menggunakan identitas Islam untuk membenarkan tindakannya. Tetapi penggunaan nama agama oleh seseorang tidak otomatis menjadikan perbuatannya sebagai ajaran agama.


Sama seperti seseorang yang melakukan kejahatan lalu mengaku membawa nama bangsa, tidak berarti kejahatannya merupakan ajaran bangsa tersebut.


Islam sendiri memiliki prinsip yang sangat tegas mengenai kehormatan kehidupan manusia. Al-Qur’an menyatakan:


“Barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.”

(QS. Al-Ma’idah: 32)


Dalam ayat lain Allah berfirman:


“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, melainkan dengan alasan yang benar.”

(QS. Al-Isra’: 33)


Bahkan Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan keras terhadap tindakan yang membahayakan manusia. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW melarang membunuh perempuan dan anak-anak dalam peperangan. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi konflik pun terdapat batas-batas moral yang tidak boleh dilanggar.


Karena itu, membunuh orang yang tidak bersalah, menebarkan ketakutan kepada masyarakat sipil, menghancurkan kehidupan manusia dan menjadikan agama sebagai pembenaran kekerasan tidak memperoleh legitimasi dari Islam.


Persoalannya kemudian bukan hanya apa yang dilakukan kelompok ekstremis, tetapi bagaimana perbuatan mereka dipersepsikan oleh masyarakat dunia.


Luka persepsi yang belum sepenuhnya sembuh


Dua puluh lima tahun setelah 9/11, ternyata pengaruhnya terhadap persepsi terhadap Islam belum selesai.


Pew Research Center dalam kajian yang diterbitkan 3 September 2026 mencatat bahwa sebagian masyarakat Amerika masih melihat Islam dan Muslim melalui lensa tragedi 9/11. Dalam survei 2026, 51 persen orang dewasa Amerika mengatakan Islam lebih mendorong kekerasan dibanding agama lain. Angka itu bahkan lebih tinggi dibanding 25 persen pada Maret 2002, hanya sekitar enam bulan setelah serangan 9/11. (Pew Research Center⁠)


Ini adalah fakta yang perlu kita hadapi, bukan kita tutupi.


Tetapi fakta lain juga penting. Muslim Amerika sendiri tidak identik dengan ekstremisme. Bahkan survei Pew sebelumnya menunjukkan Muslim Amerika secara luas menolak ekstremisme dengan margin yang sangat besar dan mayoritas justru mengkhawatirkan ekstremisme Islam di dalam maupun luar negeri. (Pew Research Center⁠)


Artinya, kita jangan membiarkan kelompok kecil yang menyalahgunakan agama menentukan wajah Islam di mata dunia.


Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menegaskan bahwa terorisme dan ekstremisme kekerasan tidak boleh diasosiasikan dengan agama, kebangsaan, peradaban ataupun kelompok etnis tertentu. PBB bahkan mencatat bahwa kelompok teroris sering memanfaatkan penafsiran agama yang menyimpang untuk membangun propaganda, merekrut anggota dan membenarkan kekerasan. (Perserikatan Bangsa-Bangsa⁠)


Maka, perjuangan melawan ekstremisme sesungguhnya juga merupakan perjuangan menyelamatkan agama dari penyalahgunaan.


Islam rahmah, bukan Islam amarah


Allah memperkenalkan Nabi Muhammad SAW bukan sebagai pembawa ketakutan, tetapi sebagai rahmat.


“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya’: 107)


Rahmat berarti kehadiran yang membawa kebaikan, keselamatan, kedamaian dan kemaslahatan.


Al-Qur’an juga menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan:


“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia…”

(QS. Al-Baqarah: 143)


Wasathiyah bukan berarti Islam yang lembek. Bukan pula Islam yang kehilangan prinsip. Wasathiyah adalah Islam yang teguh dalam prinsip, tetapi bijaksana dalam sikap; kuat dalam akidah, tetapi santun dalam muamalah; tegas terhadap kemungkaran, tetapi tidak melampaui batas; mencintai keadilan sekaligus menolak kezaliman.


Salah satu ulama kontemporer yang banyak mengembangkan konsep ini adalah Syekh Yusuf al-Qaradawi. Dalam gagasan al-wasathiyah, Islam ditempatkan secara seimbang antara dunia dan akhirat, material dan spiritual, teks dan konteks, keteguhan prinsip dan kemampuan membaca perubahan zaman. Kajian mengenai pemikirannya merangkum prinsip wasathiyah pada keadilan, keseimbangan, konsistensi, keamanan, kekuatan dan persatuan. (IKADI Journal⁠)


Namun wasathiyah bukan hanya milik satu ulama.


Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu, amal dan penyucian jiwa. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa syariat pada hakikatnya dibangun untuk mewujudkan keadilan, rahmat, kemaslahatan dan hikmah; apa yang berubah menjadi kezaliman dan kerusakan tidak mungkin menjadi tujuan syariat. Muhammad Abduh dan Rasyid Rida juga mengembangkan gagasan pembaruan pemikiran Islam yang membuka ruang bagi akal, ilmu pengetahuan dan kemaslahatan masyarakat.


Dalam konteks Indonesia, gagasan Islam moderat juga memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam wasathiyah yang dikembangkan para ulama melalui pendidikan pesantren, madrasah, organisasi keagamaan dan kehidupan sosial yang menghargai keberagaman.


Jadi, Islam moderat bukan Islam baru.


Ia adalah cara menghadirkan nilai-nilai Islam secara proporsional dalam kehidupan.


Dari dicurigai menjadi dihormati


Dua puluh lima tahun setelah 9/11 menunjukkan bahwa hubungan antara Islam dan dunia Barat tidak berhenti pada ketegangan.


Ada pula proses panjang saling mengenal.


Muslim menjadi bagian dari masyarakat Amerika dan Eropa. Mereka menjadi dokter, akademisi, pengusaha, guru, ilmuwan, politisi, pekerja sosial dan profesional di berbagai bidang. Masjid dan lembaga Islam terlibat dalam kegiatan sosial. Dialog lintas agama semakin berkembang.


Bahkan sesaat setelah 9/11, penelitian Pew menunjukkan bahwa pandangan positif masyarakat Amerika terhadap Muslim Amerika justru meningkat dari 45 persen pada Maret 2001 menjadi 59 persen pada Desember 2001. (Pew Research Center⁠)


Ini menunjukkan bahwa tragedi tidak otomatis membuat seluruh masyarakat dunia memusuhi Islam. Ada ruang untuk membangun jembatan.


Tetapi pekerjaan itu belum selesai.


Survei Pew 2026 menunjukkan 59 persen Muslim Amerika mengatakan masih terdapat banyak diskriminasi terhadap Muslim dan 59 persen juga menilai pemberitaan tentang Islam dan Muslim sering tidak adil. Namun pada saat yang sama, 34 persen mengatakan ada orang yang memberikan dukungan kepada mereka dalam setahun terakhir karena mereka Muslim. (Pew Research Center⁠)


Ada luka, tetapi juga ada jembatan.


Ada prasangka, tetapi juga ada persahabatan.


Karena itu, tugas generasi Muslim bukan marah kepada dunia karena dunia pernah salah memahami Islam. Tugas kita justru memperlihatkan Islam yang sebenarnya melalui ilmu, akhlak dan karya.


Jangan biarkan anak muda menjadi korban ekstremisme


Di sinilah pesan paling penting bagi generasi muda Muslim.


Jangan mudah terpukau oleh ceramah yang penuh kemarahan. Jangan mudah percaya kepada orang yang mengklaim hanya kelompoknya yang benar sementara semua orang lain dianggap sesat. Jangan mudah menerima potongan ayat tanpa memahami tafsir, konteks dan penjelasan ulama. Jangan menganggap kekerasan sebagai bukti keberanian iman.


Lebih berbahaya lagi jika seseorang merasa semakin banyak membenci manusia berarti semakin tinggi keislamannya.


Itu jalan yang harus diwaspadai.


Anak muda perlu membangun beberapa benteng.


Pertama, belajar agama kepada guru yang memiliki ilmu dan sanad keilmuan yang jelas, bukan hanya dari potongan video media sosial.


Kedua, pelajari Al-Qur’an bersama tafsir, bukan hanya terjemahan satu-dua ayat yang dipisahkan dari konteksnya.


Ketiga, kenali tanda-tanda radikalisme, terutama ajakan membenci kelompok tertentu, mengkafirkan orang dengan mudah, menghalalkan kekerasan, menganggap semua ulama berbeda pandangan sebagai musuh, dan menganggap dirinya memiliki kebenaran mutlak.


Keempat, perbanyak pergaulan positif dengan keluarga, ulama, akademisi, organisasi kepemudaan, masjid dan komunitas sosial.


Kelima, biasakan tabayyun. Jangan percaya begitu saja terhadap informasi agama yang viral. Periksa sumbernya, siapa yang mengatakan, apa konteksnya dan bagaimana para ulama menjelaskannya.


Keenam, isi energi muda dengan karya. Belajar, bekerja, berwirausaha, berorganisasi, membantu masyarakat dan menguasai teknologi adalah bentuk jihad membangun peradaban.


Sebab Islam tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai marah.


Islam membutuhkan generasi yang berilmu, berakhlak, produktif dan mampu menghadirkan rahmat.


Islam tidak perlu dibela dengan kekerasan


Dua puluh lima tahun setelah 9/11, kita patut belajar satu hal besar: agama tidak menjadi mulia karena kekerasan atas nama agama.


Islam justru akan semakin dikenal ketika umatnya memperlihatkan keindahan Islam dalam kehidupan nyata.


Ketika seorang dokter Muslim menyelamatkan pasien.


Ketika seorang guru Muslim mencerdaskan murid.


Ketika seorang pengusaha Muslim jujur dalam berdagang.


Ketika seorang mahasiswa Muslim menghormati perbedaan.


Ketika seorang tetangga Muslim membantu tetangganya yang kesusahan.


Ketika seorang pemimpin Muslim berlaku adil.


Ketika seorang pemuda Muslim menggunakan teknologi untuk menciptakan manfaat, bukan menyebarkan kebencian.


Itulah dakwah yang hidup.


Islam pernah dituduh karena perbuatan sebagian orang yang mengatasnamakan Islam. Tetapi Islam tetap dibutuhkan karena dunia membutuhkan rahmat, keadilan, kedamaian dan keseimbangan yang menjadi nilai-nilai universal ajarannya.


Maka, 9/11 jangan hanya dikenang sebagai tragedi runtuhnya gedung.


Ia harus menjadi pelajaran tentang bagaimana sebuah pemahaman agama yang menyimpang dapat membawa manusia kepada kehancuran.


Dan bagi generasi Muslim hari ini, pesan itu sederhana:


Jangan kehilangan Islam karena salah memilih jalan memahami Islam.


Belajarlah kepada ulama. Dalamilah Al-Qur’an dan Sunnah. Kenali maqashid syariah. Hormati perbedaan. Tolak kekerasan. Rawat persaudaraan. Bangun peradaban.


Sebab Islam yang dibutuhkan dunia bukan Islam yang datang dengan ancaman, tetapi Islam yang datang membawa rahmat bagi seluruh alam.


Islam tidak perlu menjadi keras untuk menjadi kuat.


Ia cukup menjadi benar, berilmu, berakhlak dan bermanfaat.


Dan mungkin, setelah 25 tahun 9/11, inilah saatnya dunia kembali mengenal Islam bukan melalui asap dan api, melainkan melalui cahaya ilmu dan akhlak umatnya.


Wallahu a’lam 


Darussalam 19 Rabiul Awal 1448, 11 September 2026


(Penulis, pegiat moderasi beragama, akademisi UiN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update