-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Aceh Kaya Potensi, Tetapi Jangan Hanya Bangga Menjadi Kaya

Kamis, 10 September 2026 | September 10, 2026 WIB Last Updated 2026-09-11T02:40:48Z


Puzzle Keempat Kesejahteraan Aceh


Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Aceh sesungguhnya tidak miskin. Aceh kaya. Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya menyimpan kekayaan hayati, perut buminya mengandung mineral, minyak, gas dan panas bumi. Perkebunannya menghasilkan kopi, kelapa sawit, kakao, nilam dan berbagai komoditas lainnya. Aceh juga memiliki posisi geografis yang strategis, kekayaan budaya, sejarah, wisata, serta sumber daya manusia yang merupakan modal pembangunan.


Pemerintah Aceh sendiri mengakui bahwa Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, mencakup pertanian, kehutanan, peternakan, perikanan dan sumber daya mineral, tetapi belum seluruhnya dikelola secara optimal. Bahkan, salah satu persoalan yang disebut dalam dokumen perencanaan pembangunan Aceh adalah masih rendahnya hilirisasi: hasil pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan banyak yang dijual tanpa melalui proses pengolahan yang menghasilkan nilai tambah. (Bappeda Aceh⁠)


Laut Aceh saja membentang sekitar 2.666 kilometer garis pantai dengan wilayah perairan sekitar 295 ribu kilometer persegi. Potensi perikanan tangkap, budidaya, pengolahan hasil laut dan wisata bahari begitu besar. Namun, sebagian potensi kelautan tersebut belum tergarap secara optimal. (DKP Aceh⁠)


Begitu pula perkebunan. Sawit, kopi dan kakao bukan sekadar tanaman yang tumbuh di tanah Aceh. Jika dikelola dengan ilmu, teknologi dan industri, semuanya dapat menjadi sumber nilai tambah, lapangan kerja dan kesejahteraan.


Maka, ketika berbicara tentang kesejahteraan Aceh, kita perlu memasukkan satu puzzle penting: Aceh kaya potensi.


Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting:


Apakah kita sudah cukup mampu mengelola kekayaan itu?


Kekayaan adalah amanah, bukan sekadar kebanggaan


Dalam perspektif Islam, kekayaan alam bukan milik manusia secara mutlak. Ia adalah titipan Allah.


Allah berfirman:


وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا


“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34).


Aceh seharusnya membaca kekayaan alamnya sebagai bagian dari nikmat Allah yang sangat besar.


Tetapi nikmat tidak cukup hanya disyukuri dengan ucapan Alhamdulillah. Syukur mempunyai konsekuensi: nikmat itu harus digunakan sesuai dengan kehendak Pemberi nikmat.


Allah telah memberikan rumus yang sangat jelas:


لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ


“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). 


Karena itu, cara kita mensyukuri kekayaan alam Aceh bukan hanya mengagumi gunung, laut, hutan, tambang dan kebun. Syukur harus diwujudkan dengan menjaga, mengelola, mengolah, memberi nilai tambah dan mendistribusikan manfaatnya secara adil.


Kalau laut kaya ikan tetapi nelayan tetap miskin, ada yang harus kita evaluasi.


Kalau kopi Aceh terkenal di dunia tetapi nilai tambah terbesarnya dinikmati setelah biji kopi keluar dari Aceh, ada yang harus kita benahi.


Kalau hasil pertanian Aceh dikirim ke daerah lain untuk diolah, lalu produk jadinya kembali ke Aceh dengan harga lebih tinggi, kita patut bertanya: di mana posisi kita dalam rantai nilai itu?


Pemerintah Aceh bahkan pernah menegaskan persoalan tersebut: hasil pertanian yang dikirim keluar untuk diolah menyebabkan nilai tambah justru dinikmati daerah lain. 


Ini bukan alasan untuk menyalahkan orang luar.


Ini adalah cermin untuk melihat kelemahan diri sendiri.


Jangan hanya marah ketika kekayaan kita dibawa keluar


Kita sering merasa sedih ketika melihat sumber daya alam Aceh keluar melewati kampung-kampung kita, sementara masyarakat di sekitarnya belum merasakan manfaat yang sepadan.


Kita marah ketika alam rusak.


Kita kecewa ketika sumber daya dikelola pihak lain.


Kita bertanya mengapa masyarakat sekitar tambang, perkebunan, hutan atau laut belum sejahtera.


Semua kegelisahan itu wajar.


Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:


Sudahkah kita memiliki kapasitas untuk mengelola kekayaan itu sendiri?


Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki sumber daya. Dunia membutuhkan orang yang mampu mengolah sumber daya menjadi nilai.


Tanah tidak otomatis menjadi industri.


Laut tidak otomatis menjadi kesejahteraan.


Hutan tidak otomatis menjadi produk bernilai tinggi.


Tambang tidak otomatis menjadi kemakmuran.


Kekayaan alam hanyalah potensi. Ia baru menjadi kesejahteraan ketika bertemu dengan ilmu pengetahuan, teknologi, modal, keterampilan, manajemen, kepemimpinan, tata kelola dan integritas.


“La tanfudzuna illa bisulthan”


Ada ayat Al-Qur’an yang sering dikaitkan dengan kemampuan manusia menembus penjuru langit dan bumi:


يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ


“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulthan).” (QS. Ar-Rahman: 33). 


Memang, dalam tafsir klasik, ayat ini terutama berbicara tentang keterbatasan jin dan manusia di hadapan kekuasaan Allah; sebagian riwayat tafsir juga memaknai sulthan sebagai kekuatan, kemampuan, hujah atau izin Allah. 


Namun, ada pelajaran besar yang relevan bagi pembangunan: tidak ada kemampuan tanpa kapasitas.


Kalau ingin menguasai teknologi, kita membutuhkan ilmu.


Kalau ingin mengolah tambang, kita membutuhkan ahli geologi, pertambangan, lingkungan, teknik dan ekonomi.


Kalau ingin mengembangkan laut, kita membutuhkan ahli kelautan, perikanan, teknologi pangan, pemasaran dan industri.


Kalau ingin mengembangkan kopi, kita tidak cukup menjadi petani kopi. Kita membutuhkan ahli budidaya, roasting, pengolahan, branding, perdagangan, ekspor dan pemasaran digital.


Inilah yang disebut capacity building.


Ayat tersebut tidak tepat dijadikan dalil tunggal bahwa manusia diperintahkan mengeksploitasi alam. Tetapi ia memberi kita kesadaran bahwa kemampuan manusia mempunyai syarat: ilmu, kekuatan dan kapasitas.


Nabi mengajarkan: jangan lemah


Rasulullah ﷺ bersabda:


الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ


“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.”


Kemudian Nabi melanjutkan:


احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ


“Berusahalah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim). 


Hadis ini terasa sangat relevan bagi pembangunan Aceh.


Jangan lemah dalam ilmu.

Jangan lemah dalam teknologi.

Jangan lemah dalam bekerja.

Jangan lemah dalam mengelola.

Jangan lemah dalam bersaing.

Dan jangan lemah dalam menjaga amanah.


Apa yang harus kita perbaiki?


Kalau Aceh kaya tetapi belum sepenuhnya sejahtera, mungkin masalahnya bukan semata-mata pada kekayaan yang kurang. Bisa jadi kapasitas kita yang belum cukup.


Pertama, kita harus memperkuat kualitas sumber daya manusia.


Anak-anak Aceh tidak cukup hanya mendapatkan ijazah. Mereka harus memiliki keahlian yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja dan dunia usaha.


Kedua, kita harus memperkuat ilmu pengetahuan dan teknologi.


Jangan selamanya menjual bahan mentah. Kita harus belajar mengolahnya.


Ketiga, kita harus membangun industri hilir.


Aceh tidak boleh puas hanya menjadi tempat menanam, menangkap, menggali dan mengambil. Aceh harus menjadi tempat mengolah, mengemas, memasarkan dan mengekspor produk bernilai tambah.


Keempat, kita harus memperbaiki tata kelola.


Kekayaan alam yang besar tanpa tata kelola yang baik justru dapat melahirkan konflik, korupsi, kerusakan lingkungan dan ketimpangan.


Kelima, kita harus memperkuat budaya kolaborasi.


Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Kampus tidak mungkin bekerja sendiri. Pengusaha tidak mungkin bekerja sendiri. Ulama, pesantren, masyarakat, anak muda dan dunia usaha harus duduk bersama.


Keenam, kita harus mengubah mentalitas dari penonton menjadi pelaku.


Jangan sampai kita hanya menjadi masyarakat yang melihat truk mengangkut hasil bumi, kapal membawa hasil laut, komoditas keluar dari Aceh, kemudian kita hanya menjadi penonton dan membeli kembali produk jadinya dengan harga lebih mahal.


Jangan sampai kekayaan menjadi bencana


Kekayaan alam juga dapat menjadi bencana jika dikelola tanpa ilmu dan amanah.


Hutan yang tidak dijaga dapat menyebabkan banjir dan longsor.


Laut yang dieksploitasi tanpa kendali dapat kehilangan ikan.


Tambang yang tidak dikelola secara bertanggung jawab dapat meninggalkan kerusakan lingkungan.


Kekayaan yang dikelola tanpa integritas dapat melahirkan korupsi.


Karena itu, kita tidak boleh mengganti satu kesalahan dengan kesalahan lain.


Jangan karena kecewa manfaat kekayaan tidak optimal, lalu kita menolak investasi.


Jangan pula karena ingin investasi masuk, kita mengorbankan lingkungan dan masyarakat.


Yang kita perlukan adalah investasi yang berilmu, industri yang bertanggung jawab, pengelolaan yang transparan, dan pembagian manfaat yang adil.


Kaya bukan sekadar memiliki


Pada akhirnya, persoalan Aceh bukan apakah kita kaya atau miskin.


Pertanyaan yang lebih penting adalah:


Apakah kita mampu mengubah kekayaan menjadi kesejahteraan?


Sebab ada daerah yang memiliki sedikit sumber daya alam tetapi masyarakatnya sejahtera karena mereka memiliki ilmu, teknologi, industri dan tata kelola yang baik.


Sebaliknya, ada daerah yang sangat kaya sumber daya alam tetapi masyarakatnya tetap miskin karena kekayaannya tidak dikelola dengan kapasitas yang memadai.


Maka, jangan berhenti pada kalimat:


“Aceh kaya.”


Kita harus melanjutkannya:


“Karena Aceh kaya, kita wajib menjadi generasi yang mampu mengelola kekayaan itu dengan ilmu, iman, teknologi, amanah dan keadilan.”


Inilah makna syukur yang sesungguhnya.


Kita bersyukur kepada Allah sebagai Pemilik segala kekayaan.


Kita menjaga alam sebagai amanah.


Kita mendidik generasi sebagai penerus.


Kita membangun kapasitas agar mampu mengolahnya.


Kita menciptakan industri agar nilai tambah tinggal di Aceh.


Kita memperbaiki tata kelola agar kekayaan tidak menjadi sumber konflik dan korupsi.


Dan kita memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.


Dengan demikian, kekayaan alam bukan sekadar sesuatu yang kita banggakan, tetapi menjadi jalan ibadah dan sumber kesejahteraan.


Aceh tidak cukup hanya kaya potensi.


Aceh harus kaya kapasitas.


Sebab kekayaan tanpa kapasitas bisa menjadi kutukan. Tetapi kekayaan yang dikelola dengan iman, ilmu, keterampilan dan amanah dapat berubah menjadi keberkahan.


Dan di situlah puzzle keempat menemukan tempatnya dalam puzzle besar kesejahteraan Aceh.


Wallahu a’lam 


Darussalam 28 Rabiul Awal 1448, 10 September 2026


(Penulis, akademisi UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update