-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Prof Maizuddin: Ukuran Keberhasilan Maulid Ada pada Akhlak

Kamis, 10 September 2026 | September 10, 2026 WIB Last Updated 2026-09-11T06:46:52Z


BANDA ACEH — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jangan berhenti pada kemeriahan acara, lantunan shalawat, dan tradisi kenduri. Lebih dari itu, Maulid harus menjadi momentum untuk mengukur kembali sejauh mana umat Islam telah meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.


“Kalau kita memperingati Maulid, pertanyaannya bukan hanya seberapa meriah kita memperingatinya, tetapi sejauh mana akhlak Rasulullah SAW sudah hadir dalam kehidupan kita,” demikian pesan Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Maizuddin, M.Ag., dalam khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat (11/9/2026), bertepatan dengan 29 Rabiul Awal 1448 H.


Menurut Prof. Maizuddin, akhlak mulia merupakan inti penting dari risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Innama bu’istu liutammima shalihal-akhlaq”—“Sesungguhnya aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”


Akhlak Tidak Boleh Berhenti di Masjid


Dalam khutbahnya, Prof. Maizuddin mengingatkan bahwa kesalehan seorang Muslim tidak cukup diukur dari banyaknya ibadah ritual. Ibadah harus memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial.


Ia memberi gambaran bahwa aktivitas ibadah sekalipun dapat menimbulkan ketidaknyamanan apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan hak dan keadaan orang lain. Membaca Al-Qur’an atau bacaan shalat dengan suara keras, misalnya, tidak semestinya sampai mengganggu orang yang sedang beribadah, beristirahat, belajar, atau melakukan aktivitas lainnya.


Sebaliknya, akhlak yang baik selalu menghadirkan kemaslahatan.


“Akhlak yang baik memberikan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain,” pesan Prof. Maizuddin.


Karena itu, semakin baik kualitas ibadah seseorang, semestinya semakin baik pula perilakunya kepada sesama.


Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.


Ketika ditanya tentang amal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, Rasulullah SAW menyebut takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.


Pesan tersebut memperlihatkan bahwa Islam tidak memisahkan kesalehan spiritual dari kesalehan sosial.


Memuliakan Orang Tua hingga Tetangga


Prof. Maizuddin kemudian mengingatkan jamaah kepada kandungan Surat An-Nisa ayat 36 yang memerintahkan manusia menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, sekaligus berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan jauh, teman sejawat serta musafir.


Menurutnya, rangkaian perintah tersebut menunjukkan luasnya wilayah akhlak dalam Islam.


Akhlak bukan hanya persoalan hubungan seseorang dengan keluarganya, tetapi juga dengan tetangga, teman, orang yang berbeda latar belakang, bahkan orang yang mungkin tidak memiliki hubungan dekat dengannya.


Karena itu, ukuran keberagamaan seseorang juga dapat dilihat dari bagaimana orang lain merasa aman ketika berinteraksi dengannya.


Tiga Tingkatan Memuliakan Sesama


Dalam khutbah tersebut, Prof. Maizuddin menjelaskan tiga tingkatan akhlak kepada sesama manusia.


Pertama, tidak merusak kehormatan orang lain.


Ini merupakan tingkatan paling dasar. Seorang Muslim harus menjaga kehormatan dan martabat sesamanya dengan tidak mencela, mempermalukan, berprasangka buruk, ataupun melakukan ghibah.


Menjaga lisan menjadi bagian penting dari akhlak. Tidak semua yang diketahui harus disampaikan, dan tidak semua kekurangan orang lain pantas dibicarakan.


Kedua, berbuat baik tanpa menunggu orang lain berbuat baik kepada kita.


Pada tingkat ini, seseorang tetap memilih kebaikan meskipun tidak selalu menerima perlakuan baik dari orang lain.


Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam hal ini. Akhlak Nabi tidak bergantung pada apakah seseorang memperlakukan beliau dengan baik atau buruk.


Kebaikan dilakukan karena memang itulah karakter seorang Muslim.


Ketiga, i’tsar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain.


Inilah tingkatan akhlak yang lebih tinggi. Seseorang tidak hanya berbuat baik, tetapi bersedia mengorbankan kepentingan pribadi demi membantu dan membahagiakan orang lain.


Prof. Maizuddin mencontohkan keteladanan kaum Anshar yang menyambut kaum Muhajirin. Mereka rela berbagi dan mendahulukan saudara mereka meskipun memiliki keterbatasan sendiri.


Semangat i’tsar tersebut, menurutnya, merupakan salah satu akhlak yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini.


Jangan Sampai Maulid Hanya Menambah Acara


Karena itu, Prof. Maizuddin mengajak umat Islam menjadikan Maulid sebagai momentum evaluasi diri.


Jangan sampai peringatan Maulid setiap tahun hanya menambah banyaknya acara, tetapi tidak menambah kualitas akhlak.


Jangan sampai masjid semakin ramai dengan shalawat, tetapi lisan masih mudah menyakiti. Jangan sampai kenduri semakin meriah, tetapi tetangga masih merasa tidak diperhatikan. Jangan sampai kecintaan kepada Nabi semakin sering diucapkan, tetapi keteladanan Nabi semakin jauh dari perilaku.


Menurutnya, inti kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah mengikuti akhlak dan keteladanan beliau.


Maka, buah Maulid semestinya dapat dilihat setelah acara selesai: apakah kita menjadi manusia yang lebih santun, lebih mudah memaafkan, lebih peduli, lebih suka menolong, lebih mampu menjaga lisan, dan lebih mampu memuliakan orang lain?


Jika jawabannya iya, maka Maulid telah memberikan makna.


Sebaliknya, jika Maulid hanya berhenti pada seremoni, sementara perilaku tidak berubah, maka pesan penting dari peringatan kelahiran Rasulullah SAW belum sepenuhnya sampai kepada kita.


Pada akhirnya, Prof. Maizuddin mengajak jamaah menjadikan Rasulullah SAW bukan sekadar sosok yang dicintai dan diperingati kelahirannya, tetapi juga teladan yang dihadirkan dalam kehidupan.


Sebab, salah satu tanda cinta kepada Rasulullah SAW adalah semakin baik akhlak kita dan semakin banyak orang yang merasa dimuliakan oleh kehadiran kita.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update