Catatan Kecil dari Hari Hardikda
Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi ini saya membaca tulisan kolumnis Muhibuddin Hanafiah (Abu Muhib) di AcehTrend.com tentang pendidikan Aceh. Saya langsung memberi komentar kepada penulisnya. Komentar saya sebenarnya sederhana, bahkan bernada bercanda: “Ada hardik dalam Hardikda kita.”
Hardikda adalah Hari Pendidikan Daerah. Tetapi kalau kata itu kita pecah menjadi hardik-da, kita seperti menemukan sebuah pertanyaan yang menggelitik: jangan-jangan memang masih ada “hardik” dalam pendidikan kita?
Semula itu hanya permainan kata. Namun setelah membaca tulisan Abu Muhib dengan lebih teliti, saya merasa permainan kata tersebut justru menyimpan persoalan serius.
Abu Muhib menyoroti kelayakan sebagian pengelola pendidikan dan guru yang dinilainya masih jauh dari harapan sebuah sistem pendidikan yang hendak memperbaiki pembangunan, meningkatkan kesejahteraan dan mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas. Bahkan ia mempertanyakan momentum Hardikda yang setiap tahun diperingati: apakah benar peringatan itu menjadi kesempatan melihat kemajuan pendidikan Aceh, atau justru kita semakin mempertontonkan kemunduran?
Kritik semacam ini tentu patut didengar.
Namun, setelah sampai di bagian akhir, saya justru merasa seperti ditinggalkan di tengah jalan. Abu Muhib seperti sengaja tidak menuntaskan resepnya. Pembaca dibuat bertanya-tanya: lalu apa yang harus dilakukan?
Karena itu, izinkan saya menantang Abu Muhib untuk menulis tulisan berikutnya. Jangan berhenti pada diagnosis. Kita membutuhkan resep. Jangan hanya mengatakan pendidikan kita sedang “nyungsep tenggelam”; tunjukkan pula tangga untuk naik kembali ke permukaan.
Guru Bukan Nabi, Tetapi Harus Belajar dari Nabi
Salah satu gagasan Abu Muhib yang menarik adalah ketika ia menggambarkan guru seperti para nabi, atau seperti dokter dalam bidang medis: orang yang mengetahui ke mana manusia harus diarahkan.
Tentu guru bukan nabi. Pengelola pendidikan juga bukan rasul. Mereka manusia biasa, dengan segala kekurangan, kelemahan, emosi dan keterbatasannya.
Tetapi justru karena itulah pendidikan membutuhkan proses pengembangan kapasitas yang terus-menerus.
Guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Ia perlu terus dikembangkan dalam pendekatan pembelajaran, komunikasi, psikologi anak, pemanfaatan media, teknologi, literasi, manajemen kelas dan terutama keteladanan akhlak.
Sebab anak-anak bukan hanya belajar dari apa yang dikatakan guru. Mereka belajar dari bagaimana guru berbicara, bagaimana guru marah, bagaimana guru memperlakukan orang lain, bagaimana guru menghadapi kesalahan, bahkan bagaimana guru meminta maaf.
Di sinilah pendidikan menjadi lebih dari sekadar transfer pengetahuan.
Imam Al-Ghazali, misalnya, menekankan bahwa pendidik harus memperbaiki dirinya karena mata dan telinga anak selalu memperhatikan pendidiknya. Apa yang dianggap baik oleh guru mudah dianggap baik pula oleh murid.
Dengan kata lain, guru adalah kurikulum yang hidup.
Jangan Ada Hardik dalam Pendidikan
Karena itu, saya kembali kepada kata hardik.
Hardik adalah kata yang sederhana, tetapi dampaknya tidak sederhana. Menghardik berarti membentak, menegur dengan kasar, mempermalukan, merendahkan atau melukai perasaan seseorang melalui kata-kata.
Padahal Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap cara manusia berbicara.
Allah bahkan memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ketika menghadapi Fir’aun—seorang penguasa yang melampaui batas—agar tetap berkata dengan lemah lembut:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44).
Kalau kepada Fir’aun saja Allah memerintahkan kelembutan, bagaimana dengan anak-anak kita yang masih belajar mengenal dunia?
Lebih tegas lagi Allah menggambarkan pribadi Rasulullah ﷺ:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159).
Ini bukan hanya ayat tentang kepemimpinan. Saya kira ia juga merupakan ayat penting tentang pedagogi.
Pendidikan membutuhkan hati yang lembut.
Bahkan Al-Qur’an Melarang Menghardik
Prof. Khalis, ahli sastra Arab, menyampaikan sesuatu yang menarik saat saya pancing dengan kata hardik dalam sebuah bincang sambil berdiri: Al-Qur’an pun melarang menghardik katanya.
Kita dapat melihatnya antara lain dalam Surah Ad-Duha ayat 9–10:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik.”
Memang konteks ayat tersebut berbicara tentang anak yatim dan orang yang meminta. Tetapi secara moral, ayat ini memberi pelajaran penting tentang bagaimana Islam membangun budaya komunikasi: jangan merendahkan manusia yang berada dalam posisi lemah.
Anak didik adalah manusia yang sedang tumbuh. Ia belum sempurna. Ia salah karena sedang belajar. Ia belum tahu karena sedang mencari tahu.
Maka kesalahan murid seharusnya menjadi ruang pendidikan, bukan alasan untuk melampiaskan emosi.
“Pukul Mati” dan Dilema Budaya Pendidikan Aceh
Ada cerita menarik dalam kesempatan yang sama dari kolega kami, Dr Bustami Abubakar, seorang antropolog. Menurutnya, di sinilah terdapat sebuah dilema budaya yang menarik dikaji.
Dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan metode Baghdadiyah yang berkembang dalam masyarakat Aceh, anak-anak diperkenalkan dengan harakat dan tanda baca. Dalam bahasa sehari-hari Aceh, tanda sukun sering disebut “mati”. Bahkan dalam kelakar pembelajaran, fathah atau dhammah yang bertemu sukun disebut seperti “memukul mati”.
Maka anak-anak sejak kecil akrab dengan istilah pukul dan mati dalam proses belajar membaca huruf hijaiyah.
Tentu kita tidak boleh serta-merta menyimpulkan bahwa istilah tersebut melahirkan kekerasan dalam pendidikan. Itu terlalu sederhana.
Tetapi dari perspektif antropologi pendidikan, kelakar Dr Bustami menarik untuk direnungkan: bahasa yang kita gunakan dalam pendidikan ikut membentuk imajinasi anak tentang belajar.
Kalau kemudian ditambah dengan hardikan, bentakan dan hukuman fisik, kita harus bertanya: apakah budaya pendidikan seperti itu masih sesuai dengan paradigma pendidikan yang hendak membangun manusia merdeka, kreatif, kritis dan berakhlak?
Sebab dalam pedagogi Nabi ﷺ, kita justru menemukan kelembutan.
Rasulullah Mengajar dengan Rasa
Rasulullah ﷺ tidak mendidik manusia dengan menjadikan rasa takut sebagai satu-satunya metode.
Beliau mendidik dengan kasih sayang, keteladanan, dialog, kesabaran dan penghargaan terhadap martabat manusia.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim 2594a).
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan.” (HR. Muslim 2593).
Bahkan ada hadis yang sangat pendek tetapi sangat dalam:
مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ
“Barang siapa tidak diberi kelembutan, ia tidak diberi kebaikan.” (HR. Muslim 2592).
Maka guru boleh tegas, tetapi tegas tidak sama dengan kasar.
Guru boleh disiplin, tetapi disiplin tidak sama dengan kekerasan.
Guru boleh memberikan konsekuensi, tetapi konsekuensi tidak boleh menjadi pelampiasan kemarahan.
Inilah garis yang harus terus kita pelajari.
Pendidikan Tidak Bisa Simsalabim
Saya kira kita juga perlu berdamai dengan kenyataan bahwa membangun pendidikan tidak bisa simsalabim.
Kita tidak bisa berharap seluruh pengelola pendidikan langsung sempurna. Kita tidak bisa berharap semua guru seketika menjadi guru ideal. Mereka juga sedang belajar.
Tetapi menerima kenyataan bukan berarti membenarkan kekurangan.
Menerima keterbatasan harus disertai komitmen memperbaiki.
Sebab pembangunan manusia bukan hanya soal output dan outcome. Ada proses yang juga sangat penting.
Dalam perspektif iman, Allah bukan hanya melihat apakah kita berhasil atau gagal. Allah juga melihat ikhtiar, kesungguhan, cara kita menjalankan amanah dan proses yang kita tempuh.
Karena itu, Hardikda seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia semestinya menjadi cermin tahunan.
Sudahkah guru kita berkembang?
Sudahkah pengelola pendidikan belajar memimpin dengan lebih manusiawi?
Sudahkah sekolah menjadi ruang yang aman bagi anak untuk bertanya?
Sudahkah murid merasa dihargai?
Sudahkah pendekatan belajar berubah mengikuti perkembangan zaman?
Dan yang paling penting: apakah anak-anak kita menjadi lebih baik akhlaknya setelah bertahun-tahun berada di lembaga pendidikan kita?
Dari Hardikda Menuju Pendidikan Tanpa Hardik
Maka saya ingin menawarkan beberapa langkah sederhana.
Pertama, pengelola pendidikan harus serius membangun kapasitas guru, bukan hanya melalui pelatihan administratif, tetapi pelatihan pedagogik, psikologi anak, komunikasi empatik, teknologi pembelajaran dan pendidikan karakter.
Kedua, guru harus terus belajar meneladani metode Rasulullah ﷺ: lembut dalam komunikasi, sabar menghadapi kesalahan, memberi ruang dialog, menggunakan keteladanan dan menghindari penghinaan.
Ketiga, sekolah harus memiliki budaya anti-hardik dan anti-kekerasan. Bukan berarti sekolah kehilangan ketegasan, tetapi ketegasan ditempatkan dalam kerangka pendidikan, bukan kemarahan.
Keempat, kesalahan murid harus dibaca sebagai bagian dari proses belajar. Jangan cepat memberi label “bodoh”, “nakal”, “malas” atau label lain yang bisa melekat lebih lama daripada kesalahannya.
Kelima, evaluasi pendidikan harus mengevaluasi proses, bukan hanya angka. Prestasi akademik penting, tetapi cara murid tumbuh, bersikap, menghormati orang lain, bertanggung jawab dan memiliki empati jauh lebih menentukan masa depannya.
Dan keenam, guru juga harus diberi ruang untuk menjadi manusia yang terus bertumbuh. Jangan hanya menuntut guru menjadi sempurna, sementara sistem tidak menyediakan dukungan, pengembangan kapasitas, kesejahteraan dan lingkungan kerja yang sehat.
Sebab guru bukan nabi.
Pengelola pendidikan juga bukan rasul.
Tetapi keduanya adalah pemegang amanah untuk mendidik manusia.
Karena itu, kalau Hardikda hendak benar-benar menjadi hari pendidikan, mungkin sudah waktunya kita bertanya bukan hanya, “Seberapa tinggi capaian pendidikan kita?”
Tetapi juga:
“Seberapa lembut pendidikan kita?”
Sebab anak-anak tidak hanya membawa pulang buku dari sekolah. Mereka membawa pulang cara guru berbicara, cara guru memperlakukan manusia, cara guru menyelesaikan masalah, bahkan cara guru marah.
Kalau guru menghardik, anak belajar menghardik.
Kalau guru merendahkan, anak belajar merendahkan.
Kalau guru kasar, anak belajar kekasaran.
Tetapi kalau guru santun, anak belajar kesantunan.
Kalau guru sabar, anak belajar kesabaran.
Kalau guru berkata dengan hati, anak belajar menggunakan hati.
Dan kalau guru mendidik dengan rahmah, anak belajar bahwa ilmu memang seharusnya membawa rahmat.
Maka izinkan saya kembali kepada candaan pagi tadi:
Jangan sampai dalam Hardikda kita justru masih ada hardik.
Mari kita jadikan Hardikda bukan hanya hari untuk merayakan pendidikan, tetapi momentum untuk menghapus hardik dari pendidikan kita.
Dan kepada Abu Muhib, saya tunggu tulisan berikutnya.
Jangan berhenti pada “lihat saja nanti”.
Kami ingin tahu: setelah kita melihat persoalannya, lalu apa yang harus kita kerjakan?
Karena mengkritik pendidikan adalah keberanian.
Tetapi menawarkan jalan keluar dan ikut berjalan memperbaikinya adalah pengabdian.
Wallahu a’lam
Darussalam 21 Rabiul Awal 1448, 3 September 2026
(Penulis, akademisi UIN Ar-Raniry)
Foto: dari kiri, Bustami Abubakar, Mukhtaruddin, Nazarudddin Musa, mitra pendidikan, Prof Khalis, dan penulis
