Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada sesuatu yang pelan-pelan hilang dari kehidupan kita, tetapi sering tidak kita sadari: rasa malu.
Dahulu orang malu berbohong. Malu mengambil sesuatu yang bukan haknya. Malu menyakiti orang lain. Malu jika aib keluarga diketahui tetangga. Malu jika anak-anak mengetahui orang tuanya berbuat tidak baik.
Kini sebagian keadaan berubah. Ada orang berbohong tanpa merasa malu. Ada yang korupsi tetapi masih tampil percaya diri. Ada yang menipu tetapi merasa dirinya pintar. Ada yang menyakiti orang lain lalu justru menyalahkan korbannya. Bahkan ada perbuatan yang seharusnya disembunyikan karena merupakan aib, malah dipamerkan di ruang publik dan media sosial.
Jangan-jangan masalah kita hari ini bukan semata-mata kurang ilmu, tetapi kurang malu.
Pesan inilah yang terasa kuat dari tausiyah BBC Ust Khairul Rafiqi, Lc., MA di Masjid Hidayatullah Islam, Lamreung, Banda Aceh, Ahad Subuh, 6 September 2026, bertepatan dengan 24 Rabiul Awal 1448 Hijriyah. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga sifat malu: malu kepada Allah, malu kepada manusia dan masyarakat, serta malu kepada diri sendiri.
Pesan sederhana itu sesungguhnya menyentuh persoalan yang sangat besar.
Malu adalah rem moral
Dalam Islam, haya’ bukan sekadar rasa sungkan. Malu bukan berarti minder, tidak percaya diri atau takut berbicara di depan orang.
Malu yang dipuji agama adalah kekuatan batin yang membuat seseorang enggan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan iman, kehormatan dan akhlak.
Rasulullah SAW bersabda:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Rasa malu adalah salah satu cabang iman.”
Dalam hadis lain, ketika ada seseorang yang menasihati saudaranya karena terlalu pemalu, Rasulullah SAW justru membela sifat tersebut dengan mengatakan bahwa malu merupakan bagian dari iman.
Ini berarti malu bukan penyakit yang harus dibuang. Yang harus dibuang adalah malu yang salah tempat.
Jangan malu bertanya ketika tidak tahu.
Jangan malu mengakui kesalahan.
Jangan malu meminta maaf.
Jangan malu mengatakan yang benar.
Tetapi malulah ketika hendak melakukan dosa.
Malulah ketika hendak menipu.
Malulah ketika hendak korupsi.
Malulah ketika hendak mengambil hak orang lain.
Malulah ketika hendak menyakiti manusia.
Di situlah malu menjadi rem moral.
Nabi adalah manusia yang sangat pemalu
Kita mempunyai teladan yang luar biasa.
Abu Sa’id al-Khudri RA menggambarkan Rasulullah SAW sebagai manusia yang lebih pemalu daripada seorang gadis yang berada di balik tirainya. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, para sahabat dapat mengetahuinya dari wajah beliau. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan juga oleh Muslim.
Bayangkan, manusia yang paling berani menegakkan kebenaran justru adalah manusia yang sangat tinggi rasa malunya.
Ini pelajaran penting.
Malu tidak membuat Nabi lemah.
Malu justru membuat akhlak beliau mulia.
Beliau berani menghadapi kebatilan, tetapi tidak kasar.
Beliau tegas terhadap kezaliman, tetapi tidak zalim.
Beliau seorang pemimpin, tetapi tidak sombong.
Beliau seorang Nabi, tetapi tidak menggunakan kedudukan untuk mempermalukan manusia.
Maka, kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah SAW, jangan hanya bertanya berapa banyak shalawat yang kita baca.
Tanyakan pula:
Seberapa banyak akhlak Nabi yang hidup dalam diri kita?
Malu kepada Allah
Malu pertama dan tertinggi adalah malu kepada Allah.
Malu kepada Allah berarti menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.
Manusia mungkin tidak melihat.
Kamera mungkin tidak merekam.
Atasan mungkin tidak mengetahui.
Keluarga mungkin tidak menyadari.
Tetapi Allah mengetahui.
Di sinilah iman bekerja.
Seorang pegawai yang malu kepada Allah tidak akan memanipulasi laporan meskipun tidak ada yang memeriksa.
Seorang pejabat yang malu kepada Allah tidak akan menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi.
Seorang pedagang yang malu kepada Allah tidak akan mengurangi timbangan.
Seorang mahasiswa yang malu kepada Allah tidak akan membeli karya ilmiah atau melakukan plagiarisme.
Seorang anak muda yang malu kepada Allah akan berpikir berkali-kali sebelum merusak kehormatan dirinya.
Sebab dalam dirinya ada satu kalimat yang terus hidup:
“Allah melihat saya.”
Malu kepada manusia
Malu juga mempunyai dimensi sosial.
Kita hidup bersama manusia. Perbuatan kita mempunyai akibat bagi orang lain.
Karena itu kita semestinya malu apabila menjadi sumber keresahan masyarakat.
Malu menghina tetangga.
Malu memfitnah.
Malu menyebarkan hoaks.
Malu mempermalukan orang lain.
Malu merusak fasilitas umum.
Malu membuang sampah sembarangan.
Malu mengambil hak masyarakat.
Malu menyalahgunakan jabatan.
Malu korupsi.
Malu melakukan kekerasan.
Malu membuat orang lain menderita demi keuntungan pribadi.
Masyarakat yang sehat tidak mungkin dibangun hanya dengan hukum dan aparat. Kita membutuhkan manusia yang memiliki polisi di dalam dirinya sendiri: hati nurani dan rasa malu.
Sebab tidak mungkin setiap gerak manusia diawasi kamera.
Kamera bisa mengawasi tangan, tetapi tidak bisa mengawasi niat.
Hukum bisa menghukum perbuatan setelah terjadi, tetapi rasa malu dapat menghentikan seseorang sebelum perbuatan itu dilakukan.
Malu kepada diri sendiri
Ada yang lebih menyedihkan lagi: seseorang sudah tidak malu kepada dirinya sendiri.
Ia tahu dirinya berbohong, tetapi tetap berbohong.
Ia tahu dirinya menipu, tetapi tetap menipu.
Ia tahu dirinya menyakiti orang, tetapi tetap menyakiti.
Ia tahu dirinya merusak kehormatan sendiri, tetapi tetap melakukannya.
Pada titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar pelanggaran norma. Kompas moral di dalam dirinya mulai rusak.
Secara psikologis, perilaku yang dilakukan berulang-ulang dapat menjadi kebiasaan. Sesuatu yang awalnya menimbulkan rasa bersalah bisa menjadi semakin biasa apabila terus dilakukan dan terus mendapatkan pembenaran.
Karena itu hilangnya rasa malu sering kali bukan peristiwa mendadak.
Ia dimulai dari kompromi kecil.
“Sekali saja.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Tidak apa-apa.”
“Yang penting saya tidak ketahuan.”
Kalimat-kalimat semacam itu, jika terus dipelihara, dapat membunuh rasa bersalah.
Dan ketika rasa bersalah mati, rasa malu pun ikut terkubur.
Ketika dosa menjadi tontonan
Inilah tantangan zaman digital.
Dahulu orang melakukan kesalahan secara sembunyi-sembunyi karena malu diketahui orang.
Sekarang sebagian orang justru melakukan sesuatu agar dilihat orang.
Maka kita menghadapi paradoks.
Teknologi semakin canggih, tetapi kebijaksanaan belum tentu semakin tinggi.
Informasi semakin terbuka, tetapi kesadaran moral belum tentu semakin kuat.
Orang semakin mudah mengetahui apa yang benar, tetapi semakin mudah pula menemukan pembenaran untuk melakukan yang salah.
Media sosial seharusnya menjadi sarana berbagi kebaikan. Tetapi jika tidak disertai akhlak, ia bisa menjadi panggung untuk memamerkan sesuatu yang dahulu dianggap aib.
Di sinilah pendidikan malu menjadi sangat penting.
Bukan malu kepada manusia semata, tetapi malu kepada Allah.
Sebab kalau seseorang hanya malu kepada manusia, ia akan berhenti berbuat salah ketika dilihat manusia.
Tetapi kalau malu kepada Allah, ia akan tetap menjaga diri meskipun seluruh dunia sedang tidak melihat.
“Kalau tidak malu, lakukanlah sesukamu”
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Jika engkau tidak mempunyai rasa malu, maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki.”
Hadis ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari.
Kalimat tersebut jangan dipahami sebagai izin untuk berbuat sesuka hati.
Justru sebaliknya, ia merupakan peringatan tentang keadaan manusia yang sudah kehilangan rem moral.
Kalau seseorang sudah tidak malu kepada Allah, tidak malu kepada manusia dan tidak malu kepada dirinya sendiri, apa lagi yang dapat menghentikannya?
Itulah sebabnya hilangnya malu adalah persoalan serius.
Malu kepada Nabi
Ada satu lagi rasa malu yang perlu kita tumbuhkan: malu kepada Nabi Muhammad SAW sebagai umat beliau.
Malu bukan dalam pengertian bahwa Nabi hadir secara fisik menyaksikan semua perbuatan kita. Tetapi malu karena kita mengaku sebagai umat beliau sementara perilaku kita bertentangan dengan akhlaknya.
Nabi jujur.
Mengapa kita masih menipu?
Nabi amanah.
Mengapa kita masih berkhianat?
Nabi menyayangi manusia.
Mengapa kita masih suka menyakiti?
Nabi menjaga kehormatan manusia.
Mengapa kita masih suka mempermalukan orang?
Nabi tidak hidup dengan kesombongan.
Mengapa kita masih mabuk jabatan?
Nabi mengajarkan amanah.
Mengapa kita masih menyalahgunakan kekuasaan?
Maka cinta kepada Nabi jangan berhenti pada lisan.
Cinta harus melahirkan rasa malu untuk menyimpang dari akhlaknya.
Jangan sampai kita sibuk memperingati kelahiran Nabi, tetapi tidak malu ketika perilaku kita bertentangan dengan ajaran Nabi.
Jangan sampai kita memperbanyak shalawat, tetapi lidah kita masih gemar memfitnah.
Jangan sampai kita mengaku pembela sunnah, tetapi tangan kita masih mengambil hak orang lain.
Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kejujuran, amanah, kasih sayang dan kesantunan beliau tidak terlihat dalam kehidupan kita.
Siapa yang harus menghidupkan malu?
Pekerjaan ini tidak bisa diserahkan kepada satu lembaga.
Orang tua harus menjadi teladan pertama. Anak yang melihat ayah dan ibunya jujur akan lebih mudah belajar kejujuran.
Guru dan madrasah harus menjadikan integritas sebagai bagian dari pendidikan, bukan hanya mengejar nilai akademik.
Dayah harus terus menjadi ruang pembentukan adab, tempat ilmu bertemu dengan keteladanan.
Perguruan tinggi harus melahirkan budaya akademik yang membuat mahasiswa malu mencontek, memalsukan data, melakukan plagiarisme dan membeli karya ilmiah.
Ustaz dan ulama perlu terus mengajarkan haya’ sebagai akhlak hati, bukan sekadar persoalan pakaian atau kesopanan lahiriah.
Tokoh masyarakat dan tokoh adat harus menghidupkan kembali budaya malu dalam kehidupan gampong.
Pemerintah dan lembaga negara perlu membangun sistem yang membuat kejujuran mendapat tempat dan kejahatan mendapat konsekuensi.
Sebab pendidikan moral tanpa keteladanan akan kehilangan kekuatan.
Jangan sampai kita kehilangan malu
Aceh memiliki kekayaan agama, adat dan tradisi yang semestinya menjadi benteng moral.
Kita mengenal Islam.
Kita mengenal adat.
Kita mengenal dayah.
Kita mengenal ulama.
Kita mengenal masjid.
Tetapi semua itu harus melahirkan manusia yang memiliki haya’.
Sebab ukuran keberhasilan agama bukan hanya seberapa banyak masjid dibangun, tetapi juga seberapa banyak manusia yang keluar dari masjid dengan hati yang lebih bersih.
Bukan hanya seberapa banyak anak menghafal ayat, tetapi seberapa jauh ayat itu mencegah tangannya mengambil yang bukan haknya.
Bukan hanya seberapa sering kita menyebut nama Nabi, tetapi seberapa jauh akhlak Nabi menjadi perilaku kita.
Pada akhirnya, mungkin inilah inti dari pesan Ust Khairul Rafiqi: jaga malu sebelum malu itu hilang.
Malu kepada Allah akan melahirkan takwa.
Malu kepada manusia akan melahirkan etika.
Malu kepada diri sendiri akan menjaga kehormatan.
Dan malu sebagai umat Nabi akan mendorong kita meneladani akhlaknya.
Karena itu, mari kita belajar menjadi manusia yang kuat tetapi tidak kasar, berani tetapi tidak sombong, berilmu tetapi tidak licik, berkuasa tetapi tidak zalim, kaya tetapi tidak rakus, dan terkenal tetapi tetap memiliki rasa malu.
Sebab yang paling berbahaya bukanlah orang yang tidak punya harta.
Bukan pula orang yang tidak punya jabatan.
Tetapi orang yang sudah kehilangan rasa malu.
Sebab ketika malu masih hidup, hati masih bisa menegur.
Ketika malu masih hidup, dosa masih terasa berat.
Ketika malu masih hidup, manusia masih punya jalan pulang.
Tetapi ketika malu telah mati, seseorang bisa menipu tanpa gelisah, mencuri tanpa takut, korupsi tanpa merasa hina, menyakiti tanpa merasa bersalah, dan berbuat kerusakan tanpa merasa berdosa.
Maka marilah kita memohon kepada Allah agar haya’ tetap hidup dalam diri kita.
Agar kita malu kepada Allah.
Agar kita malu kepada manusia.
Agar kita malu kepada diri sendiri.
Dan lebih dari itu:
agar kita malu menjadi umat Nabi Muhammad SAW yang akhlaknya jauh dari akhlak beliau.
Sebab Rasulullah SAW adalah manusia yang sangat pemalu. Dan menjadi umat beliau semestinya membuat kita malu melakukan sesuatu yang akan membuat kita semakin jauh dari teladan beliau.
Jangan sampai malu mati sebelum kita mati.
Wallahu a’lam
Darussalam 24 Rabiul Awal 1448, 6 September 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman)
