-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Akhlak Maslahat: Ketika Kehadiran Kita Membahagiakan Sesama

Jumat, 11 September 2026 | September 11, 2026 WIB Last Updated 2026-09-11T08:07:25Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Khutbah Jumat Prof. Dr. Maizuddin, M.Ag., Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, di Masjid Fathun Qarib, Jumat 11 September 2026, meninggalkan satu pertanyaan penting untuk kita renungkan pada momentum Maulid Nabi: sejauh mana akhlak Rasulullah SAW telah menjadi akhlak kita?


Pertanyaan ini terasa sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan keberanian untuk bercermin.


Sebab, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup dibuktikan dengan banyaknya shalawat, meriahnya peringatan Maulid, atau panjangnya kisah tentang kemuliaan beliau. Ukuran yang lebih nyata adalah apakah setelah memperingati Maulid kita menjadi manusia yang lebih baik bagi orang lain.


Di sinilah saya menangkap pesan utama khutbah Prof. Maizuddin: akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak yang menghadirkan maslahat bagi manusia.


Akhlak yang Disukai Semua Manusia


Mengapa akhlak Rasulullah SAW begitu dicintai manusia?


Al-Qur’an memberikan jawabannya dengan sangat indah:


“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”

(QS. Al-Qalam: 4).


Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar melihat ayat ini sebagai pujian Allah yang sangat tinggi kepada Rasulullah SAW. Kemuliaan akhlak Nabi bukan sekadar sopan santun biasa, melainkan keagungan budi pekerti yang menjadi bagian dari kepribadian beliau. 


Rasulullah tidak hanya mengajarkan kebaikan; beliau menghidupkan kebaikan itu dalam perilaku.


Allah bahkan menjelaskan salah satu rahasia keberhasilan Rasulullah dalam membina manusia:


“Maka berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

(QS. Ali Imran: 159). 


Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Manusia pada dasarnya tertarik kepada orang yang membuatnya merasa dihargai, didengarkan dan dimuliakan. Sebaliknya, manusia cenderung menjauh dari orang yang suka merendahkan, membentak, mempermalukan atau menyakiti.


Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa kelembutan Rasulullah merupakan bagian dari cara beliau berinteraksi dan mengayomi para sahabat, bahkan ketika mereka melakukan kesalahan. Nabi tetap menjaga hubungan baik, memaafkan, mendoakan dan bermusyawarah dengan mereka. 


Karena itu, akhlak yang baik bukan kelemahan. Ia justru kekuatan yang mampu membuat manusia dekat.


Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang paling beliau cintai dan paling dekat tempat duduknya dengan beliau pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. (Sunnah⁠)


Ini menarik. Kedekatan dengan Rasulullah ternyata tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan atau banyaknya aktivitas ritual, tetapi juga oleh kualitas akhlak.


Akhlak Maslahat, Bukan Akhlak yang Merusak


Dari sini kita dapat memahami apa yang saya sebut sebagai akhlak maslahat.


Akhlak maslahat adalah akhlak yang keberadaannya menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Ia tidak merusak kehormatan, tidak menimbulkan ketakutan, tidak menyakiti perasaan, tidak mengganggu kenyamanan dan tidak menghadirkan kemudaratan.


Dalam perspektif Islam, kebaikan tidak hanya dinilai dari niat pelakunya, tetapi juga dari dampak yang ditimbulkannya.


Allah berfirman:


“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.”

(QS. An-Nahl: 90).


Dengan demikian, seorang Muslim idealnya menjadi sumber keamanan, bukan sumber keresahan; sumber ketenangan, bukan sumber kegaduhan; sumber solusi, bukan sumber masalah.


Yusuf al-Qaradawi dalam pembahasannya mengenai masyarakat Islam menempatkan akhlak dan keutamaan sebagai unsur penting kehidupan masyarakat. Ia menekankan nilai keadilan, kebajikan, kasih sayang, kejujuran, amanah, kesabaran, tawadhu, kedermawanan, sikap memaafkan, saling menasihati dan ta’awun. Semua itu menunjukkan bahwa akhlak Islam memiliki dimensi sosial: membangun masyarakat yang saling menolong dan menghadirkan kemaslahatan bersama. 


Maka, kalau seseorang rajin beribadah tetapi kehadirannya membuat orang lain selalu takut, tertekan, terhina atau dirugikan, ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam keberagamaannya.


Tiga Tangga Akhlak Maslahat


Pesan Prof. Maizuddin dalam khutbah tersebut dapat kita kembangkan menjadi tiga tangga akhlak maslahat.


Pertama, tidak merusak kehormatan orang lain.


Ini adalah tingkat paling dasar.


Kita mungkin belum mampu memberikan banyak kepada orang lain. Tetapi setidaknya jangan mengambil sesuatu dari mereka: jangan mengambil kehormatannya, jangan mengambil ketenangannya, jangan mengambil haknya.


Karena itu Islam sangat keras melarang mencela, berprasangka buruk, menggunjing dan mempermalukan orang lain.


Di zaman media sosial, pesan ini semakin penting. Satu kalimat dapat menghancurkan nama baik seseorang. Satu unggahan dapat menyebar kepada ribuan orang. Satu komentar yang ditulis tanpa berpikir dapat menjadi luka yang sulit disembuhkan.


Akhlak maslahat dimulai dari pertanyaan sederhana sebelum berbicara atau menulis: Apakah yang saya sampaikan ini menjaga kehormatan orang lain atau justru merusaknya?


Kedua, berbuat baik mendahului orang lain.


Inilah akhlak yang lebih tinggi.


Jangan selalu menunggu orang lain tersenyum sebelum kita tersenyum. Jangan menunggu disapa untuk menyapa. Jangan menunggu ditolong untuk menolong. Jangan menunggu orang lain berbuat baik kepada kita untuk kemudian kita membalas dengan kebaikan.


Rasulullah mengajarkan kebaikan sebagai pilihan, bukan transaksi.


Al-Qur’an bahkan mengajarkan:


“Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada permusuhan antara kamu dan dia seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.”

(QS. Fussilat: 34).


Ini bukan berarti membiarkan kezaliman. Tetapi kita tidak membiarkan keburukan orang lain menentukan karakter kita.


Orang lain boleh kasar, tetapi kita tidak harus menjadi kasar. Orang lain boleh merendahkan, tetapi kita tidak harus membalas dengan merendahkan.


Inilah kekuatan akhlak.


Ketiga, mendahulukan kepentingan orang lain.


Inilah tingkat i’tsar, sebuah akhlak yang luar biasa.


Al-Qur’an memuji kaum Anshar:


“Dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.”

(QS. Al-Hasyr: 9).


Mendahulukan orang lain bukan berarti mengabaikan diri sendiri. Ia berarti memiliki kelapangan jiwa untuk mengatakan: “Saya juga membutuhkan, tetapi mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan.”


Di sinilah akhlak berubah menjadi pengorbanan.


Bagaimana Membentuk Generasi Berakhlak Maslahat?


Pertanyaan berikutnya: bagaimana melahirkan generasi Muslim yang mampu menjalankan akhlak maslahat itu?


Pertama, pendidikan akhlak harus dimulai dari keteladanan. Anak-anak tidak cukup diberi nasihat tentang sopan santun; mereka harus melihat orang tua mempraktikkannya. Guru tidak cukup mengajarkan penghormatan; ia harus memperlakukan murid dengan hormat.


Kedua, biasakan tiga pertanyaan sebelum bertindak: apakah ini benar, apakah ini baik, dan apakah ini bermanfaat bagi orang lain? Kebiasaan berhenti sejenak sebelum berbicara, mengunggah sesuatu atau mengambil keputusan akan melatih pengendalian diri.


Ketiga, latih empati. Anak dan generasi muda perlu diajak melihat persoalan dari sudut pandang orang lain: bagaimana perasaan teman yang dihina, bagaimana perasaan orang tua yang diabaikan, bagaimana perasaan orang miskin yang dipandang rendah.


Keempat, bangun budaya memberi, bukan hanya menerima. Mulai dari hal kecil: membantu di rumah, menghormati tetangga, berbagi makanan, memberi tempat duduk, membantu teman yang kesulitan dan menjadi orang pertama yang menawarkan pertolongan.


Kelima, latih kemampuan meminta maaf dan memaafkan. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa memaafkan bukan kehilangan harga diri. Justru orang yang mampu mengendalikan ego adalah orang yang memiliki kekuatan jiwa.


Keenam, jadikan keluarga, sekolah, kampus, masjid dan lingkungan masyarakat sebagai laboratorium akhlak. Akhlak tidak boleh hanya menjadi mata pelajaran atau materi ceramah. Ia harus menjadi budaya kehidupan.


Pada akhirnya, mungkin inilah cara paling sederhana untuk mengukur keberhasilan pendidikan Islam: ketika seseorang hadir, apakah orang lain merasa lebih aman, lebih dihargai, lebih tenang dan lebih bahagia?


Jika jawabannya iya, maka kita sedang menghadirkan akhlak Rasulullah SAW.


Khutbah Prof. Maizuddin di Masjid Fathun Qarib mengingatkan kita bahwa Maulid bukan sekadar peristiwa untuk mengenang kelahiran Nabi. Ia adalah kesempatan untuk melahirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam diri kita.


Sebab Rasulullah SAW tidak hanya datang membawa ajaran untuk menjadikan manusia rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlaknya.


Maka, setelah Rabiul Awal berlalu, semoga ada sesuatu yang tetap tinggal dalam diri kita: lisan yang lebih terjaga, hati yang lebih lapang, tangan yang lebih ringan menolong, ego yang lebih mampu dikendalikan, dan kehadiran yang semakin membawa maslahat bagi sesama.


Itulah barangkali Maulid yang sesungguhnya.


Bukan hanya memperbanyak pujian kepada Rasulullah SAW, tetapi membuat semakin banyak manusia memuji akhlak yang tumbuh dalam diri kita karena meneladani beliau.


Wallahu a’lam 


Darussalam 29 Rabiul Awal 1448, 11 September 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update