-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Empat Puzzle Kesejahteraan Aceh: Sehat, Berilmu, Berdaya, dan Kaya Potensi

Kamis, 10 September 2026 | September 10, 2026 WIB Last Updated 2026-09-11T02:16:05Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Kadang-kadang sebuah tausiyah tidak selesai ketika penceramah mengucapkan salam penutup. Ada gagasan yang terus bekerja di dalam pikiran, menghubungkan satu persoalan dengan persoalan lainnya, lalu perlahan membentuk sebuah gambar besar.


Tausiyah Zuhur Dr. Jalaluddin, M.A., AWP., CWC, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry, di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 9 September 2026, menurut saya adalah salah satunya.


Saya menangkap setidaknya empat puzzle besar yang dijahit beliau menjadi satu gambaran tentang harapan masa depan generasi Muslim Aceh.


Puzzle pertama adalah kesehatan manusia.

Puzzle kedua adalah kekuatan ilmu dan keahlian.

Puzzle ketiga adalah kekuatan ekonomi syariah.

Puzzle keempat adalah kekayaan sumber daya alam Aceh.


Keempatnya tidak berdiri sendiri. Semuanya harus dirangkai dalam satu kerangka besar: maqashid syariah, pembangunan yang menghadirkan kemaslahatan dan menjaga kehidupan manusia secara utuh.


Puzzle Pertama: Jangan Hanya Mencetak Orang Pintar


Kita sering membanggakan generasi yang memiliki IPK tinggi, menguasai teknologi, fasih berbahasa asing dan memiliki berbagai sertifikat kompetensi.


Semua itu penting.


Tetapi Dr. Jalaluddin mengingatkan bahwa ada satu modal yang sering terlupakan: kesehatan.


Untuk apa kecerdasan tinggi jika tubuh tidak sehat?


Untuk apa gelar akademik bertumpuk jika fisik tidak mampu menjalankan amanah?


Untuk apa kemampuan intelektual hebat jika kesehatan mental dan spiritual rapuh?


Inilah kritik penting terhadap cara kita membangun manusia. Kita terlalu sering mengukur kualitas generasi dari angka-angka akademik, sementara tubuh, mental dan spiritualnya luput dari perhatian.


Padahal dalam maqashid syariah terdapat prinsip hifzh an-nafs, menjaga jiwa.


Menjaga jiwa bukan hanya berarti mencegah kematian. Ia juga berarti menjaga kesehatan, keselamatan dan keberlangsungan kehidupan manusia.


Karena itu, makan dengan baik, berolahraga, tidur cukup, menjaga kesehatan mental, menghindari gaya hidup yang merusak tubuh, semuanya dapat menjadi bagian dari pengamalan agama.


Dr. Jalaluddin mengingatkan mahasiswa agar jangan sampai kebutuhan untuk tampil keren, mengikuti tren dan mengejar popularitas mengalahkan kebutuhan dasar tubuh.


Ini kritik yang relevan untuk generasi hari ini.


Kita hidup dalam zaman ketika seseorang bisa sangat sibuk membangun citra di media sosial, tetapi lupa membangun tubuhnya sendiri.


Bisa sibuk mengejar viral, tetapi lupa makan.


Bisa mengejar penampilan, tetapi mengabaikan kesehatan.


Maka membangun kesejahteraan Aceh harus dimulai dari manusianya.


Manusia yang sehat adalah modal pembangunan.


Puzzle Kedua: Ilmu sebagai Fardhu Kifayah Selain Fardhu ‘Ain yaitu Ilmu ilmu Dasar Keislaman


Puzzle kedua yang menarik adalah gagasan tentang memperluas makna fardhu kifayah.


Selama ini ketika mendengar istilah fardhu kifayah, banyak di antara kita langsung teringat kepada pengurusan jenazah.


Padahal cakupannya jauh lebih luas.


Masyarakat membutuhkan dokter. Membutuhkan ekonom. Membutuhkan guru. Membutuhkan ahli hukum. Membutuhkan psikolog. Membutuhkan insinyur. Membutuhkan ahli teknologi. Membutuhkan ulama. Membutuhkan ahli pertanian, kelautan, lingkungan, bisnis dan berbagai bidang lainnya.


Jika tidak ada orang yang menguasai bidang-bidang tersebut, masyarakat akan mengalami kesulitan.


Dalam perspektif ini, penguasaan ilmu dan profesi yang dibutuhkan masyarakat dapat menjadi bagian dari tanggung jawab kolektif umat.


Inilah relevansinya dengan keberadaan UIN Ar-Raniry yang memiliki berbagai disiplin keilmuan.


Ada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Ada Fakultas Syariah dan Hukum.

Ada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Ada Fakultas Adab dan Humaniora.

Ada Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Ada Fakultas Psikologi.

Ada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Dan kini ada pula Fakultas Kedokteran.


Masing-masing adalah keping puzzle.


Tidak semua orang harus menjadi ahli dalam semua bidang. Justru kesempurnaan masyarakat lahir ketika setiap orang menjadi ahli dalam bidangnya dan keahliannya saling melengkapi.


Seorang dokter tidak harus menjadi ekonom.

Ekonom tidak harus menjadi dokter.

Ahli hukum tidak harus menjadi psikolog.


Tetapi semuanya harus memahami bahwa ilmu mereka memiliki misi kemanusiaan.


Ilmu jangan berhenti pada gelar. Ilmu harus berubah menjadi manfaat.


Di sinilah fardhu kifayah menemukan makna sosialnya yang lebih luas.


Puzzle Ketiga: Ekonomi Bukan Sekadar Mengejar Kaya


Puzzle ketiga adalah ekonomi.


Dr. Jalaluddin membawa jamaah merenungkan QS. Hud ayat 6 tentang jaminan rezeki Allah bagi setiap makhluk.


Ayat ini penting karena manusia sering mengalami kecemasan berlebihan terhadap rezeki.


Padahal Allah menjamin rezeki makhluk-Nya.


Tetapi jaminan rezeki tentu bukan alasan untuk bermalas-malasan. Manusia tetap diperintahkan berusaha, bekerja, belajar dan mengelola sumber daya dengan baik.


Di sinilah ekonomi syariah memiliki posisi strategis.


Ekonomi tidak boleh hanya bertanya:


“Berapa besar pertumbuhan ekonomi?”


Tetapi juga harus bertanya:


“Siapa yang menikmati pertumbuhan itu?”


Apakah kekayaan hanya terkonsentrasi pada sebagian orang?


Apakah masyarakat miskin mendapatkan akses?


Apakah lingkungan rusak demi pertumbuhan?


Apakah manusia menjadi lebih sejahtera atau justru menjadi budak konsumsi?


Maqashid syariah memberikan kompas.

Menjaga agama.

Menjaga jiwa.

Menjaga akal.

Menjaga keturunan.

Menjaga harta.


Dan dalam perkembangan pemikiran maqashid kontemporer, perhatian terhadap lingkungan juga semakin mendapat tempat.


Dengan demikian, pembangunan ekonomi yang Islami bukan sekadar mengganti istilah konvensional dengan istilah Arab.


Ia harus mengubah orientasi.

Dari sekadar pertumbuhan menuju kemaslahatan.

Dari sekadar akumulasi menuju distribusi.

Dari eksploitasi menuju keberlanjutan.

Dari keserakahan menuju keadilan.


Puzzle Keempat: Aceh Tidak Miskin Potensi


Puzzle terakhir adalah Aceh sendiri.


Dr. Jalaluddin mengajak mahasiswa melihat perbandingan Aceh dengan Singapura.


Singapura memiliki wilayah yang kecil dan sumber daya alam yang relatif terbatas. Namun negara tersebut mampu mengembangkan kualitas sumber daya manusianya dan mengelola keterbatasannya menjadi kekuatan ekonomi.


Aceh sebaliknya memiliki wilayah luas dan berbagai potensi alam.


Laut.

Hutan.

Pertanian.

Perkebunan.

Perikanan.

Energi.

Pariwisata.

Dan berbagai kekayaan alam lainnya.


Lalu mengapa kesejahteraan masyarakat belum sebanding dengan potensi yang dimiliki?


Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan menyalahkan satu pihak.


Justru harus menjadi pertanyaan bersama:


Apa yang belum kita kelola dengan baik?


Potensi bukan kesejahteraan.

Potensi baru menjadi kesejahteraan setelah diolah oleh manusia yang memiliki ilmu, kesehatan, teknologi, modal, integritas dan sistem yang baik.


Di sinilah empat puzzle tadi bertemu.


Aceh membutuhkan manusia yang sehat.

Manusia sehat membutuhkan ilmu.

Ilmu membutuhkan ekosistem ekonomi yang produktif dan adil.

Ekonomi membutuhkan sumber daya yang dikelola secara amanah dan berkelanjutan.

Dan semuanya harus dikendalikan oleh nilai.


Nilai itulah yang diberikan maqashid syariah.


Dari Potensi Menjadi Prestasi


Barangkali problem terbesar kita bukan kekurangan potensi.


Kita memiliki potensi alam.

Kita memiliki jumlah penduduk yang besar.

Kita memiliki lembaga pendidikan.

Kita memiliki ulama.

Kita memiliki perguruan tinggi.

Kita memiliki sumber daya manusia yang terus bertumbuh.


Tetapi potensi yang tidak dikelola hanya akan menjadi daftar kekayaan yang kita banggakan.


Kita perlu bergerak dari bangga memiliki potensi menuju mampu mengolah potensi.


Dari “Aceh kaya” menjadi “masyarakat Aceh sejahtera”.


Itulah lompatan yang harus dilakukan.


Dan lompatan tersebut tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah.


Perguruan tinggi harus mengambil peran.

Masjid harus mengambil peran.

Dunia usaha harus mengambil peran.

Ulama harus mengambil peran.

Mahasiswa harus mengambil peran.

Masyarakat harus mengambil peran.


Semua harus bergerak dalam satu ekosistem.


Masjid sebagai Ruang Menjahit Puzzle


Menariknya, empat gagasan besar itu justru disampaikan di masjid.


Masjid Fathun Qarib bukan hanya tempat menunaikan shalat. Ia dapat menjadi ruang mempertemukan iman dengan ilmu, ilmu dengan profesi, profesi dengan ekonomi, dan ekonomi dengan kemaslahatan.


Masjid dapat menjadi tempat mahasiswa belajar bahwa agama tidak berseberangan dengan ekonomi.


Bahwa spiritualitas tidak berseberangan dengan profesionalisme.


Bahwa menjaga tubuh adalah bagian dari amanah agama.


Bahwa menjadi dokter, ekonom, guru, psikolog, ahli hukum atau profesi lainnya dapat menjadi bentuk pengabdian kepada Allah.


Inilah masjid yang hidup.


Bukan hanya tempat orang datang untuk beribadah, tetapi tempat orang pulang dengan cara pandang baru tentang kehidupan.


Empat Puzzle, Satu Gambar Besar


Jika empat puzzle yang disampaikan Dr. Jalaluddin kita satukan, gambar besarnya menjadi jelas.


Kita ingin membangun generasi Aceh yang sehat tubuhnya, kuat mental dan spiritualnya, luas ilmunya, profesional keahliannya, mandiri ekonominya, dan mampu mengelola kekayaan alam secara amanah.


Itulah kesejahteraan yang sesungguhnya.


Bukan sekadar banyak uang.

Bukan sekadar gedung tinggi.

Bukan sekadar pertumbuhan ekonomi.

Bukan sekadar IPK tinggi.


Tetapi manusia yang hidupnya baik, keluarganya baik, lingkungannya terjaga, ekonominya kuat, ilmunya bermanfaat dan hubungannya dengan Allah tetap terpelihara.


Maqashid syariah sesungguhnya menawarkan sebuah cara pandang yang sangat manusiawi: pembangunan harus menjaga apa yang paling berharga dalam kehidupan.


Agama dijaga.

Jiwa dijaga.

Akal dijaga.

Keturunan dijaga.

Harta dijaga.

Dan alam tempat manusia hidup juga dijaga.


Maka masa depan Aceh tidak boleh hanya dibangun dengan beton dan aspal.


Ia harus dibangun dengan manusia.

Manusia yang sehat.

Manusia yang berilmu.

Manusia yang berakhlak.

Manusia yang produktif.

Manusia yang mampu mengelola ekonomi.


Dan manusia yang menyadari bahwa seluruh kekayaan bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan amanah Allah.


Tausiyah Dr. Jalaluddin akhirnya membawa kita pada satu kesadaran penting:


Aceh mungkin tidak kekurangan sumber daya. Yang harus terus kita bangun adalah kualitas manusia yang mampu mengubah sumber daya menjadi kesejahteraan tanpa kehilangan nilai-nilai ketuhanan.


Empat puzzle itu harus segera disatukan.


Sehat manusianya. Kuat ilmunya. Adil ekonominya. Amanah mengelola alamnya.


Jika empat hal itu bertemu dalam kerangka maqashid syariah, insyaallah kesejahteraan bukan lagi sekadar harapan.


Ia dapat menjadi kenyataan yang diwariskan kepada generasi Muslim Aceh berikutnya.


Wallahu a’lam 


Darussalam 27 Rabiul awal 1448, 9 September 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, akademisi UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update