Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada sesuatu yang perlu kita khawatirkan dari generasi muda hari ini. Bukan karena mereka tidak pintar. Justru banyak yang pintar.
Mereka menguasai teknologi, cepat belajar, kritis dalam berpikir, berani berpendapat dan memiliki cita-cita tinggi. Kampus-kampus kita juga melahirkan semakin banyak sarjana dengan berbagai disiplin ilmu.
Tetapi ada pertanyaan yang kadang luput kita ajukan:
Apakah tubuh mereka cukup sehat untuk membawa kecerdasan itu sampai ke masa depan?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun semakin saya renungkan, semakin terasa penting.
Sebab saya pernah berada dalam posisi ikut proses menyeleksi calon karyawan ketika bekerja di NGO maupun perusahaan. Saya menemukan calon-calon yang secara intelektual sangat menjanjikan. Pintar, komunikatif, potensial, bahkan terlihat bisa menjadi aset besar bagi perusahaan.
Tetapi ketika sampai pada pemeriksaan kesehatan, semuanya berhenti.
Jeblok. Selesai.
Bukan karena mereka bodoh. Bukan karena mereka tidak punya kemampuan.
Tetapi tubuh mereka tidak cukup siap untuk tuntutan pekerjaan.
Pengalaman itu memberi saya pelajaran: kecerdasan saja tidak cukup.
Puzzle manusia yang lengkap
Kemarin kita berbicara tentang puzzle kesejahteraan Aceh. Salah satu potongan puzzle yang paling menentukan adalah manusia.
Aceh tidak akan menjadi sejahtera hanya karena memiliki jalan yang bagus, gedung yang megah, investasi yang besar atau anggaran pembangunan yang meningkat.
Semua itu membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya.
Karena itu kita membutuhkan generasi muda yang lengkap.
Cerdas intelektual. Cerdas emosional. Cerdas sosial. Cerdas spiritual. Sehat fisik. Dan sehat mental.
Inilah manusia yang sesungguhnya dibutuhkan Aceh.
Kecerdasan intelektual membuat seseorang mampu berpikir, menganalisis, belajar dan memecahkan masalah.
Tetapi kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan emosional dapat melahirkan orang pintar yang sulit bekerja sama.
Daniel Goleman telah mengingatkan pentingnya emotional intelligence: kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri sekaligus memahami emosi orang lain.
Di tempat kerja, seseorang tidak hanya berhadapan dengan komputer, angka dan dokumen. Ia berhadapan dengan manusia.
Ada atasan.
Ada bawahan.
Ada kolega.
Ada pelanggan.
Ada orang yang berbeda pendapat.
Karena itu, orang pintar yang tidak mampu mengendalikan emosinya bisa kalah oleh orang yang mungkin secara akademik biasa-biasa saja, tetapi matang dan mampu bekerja sama.
Kemudian ada kecerdasan sosial.
Anak muda harus mampu berkomunikasi, membangun jejaring, menghargai perbedaan dan bekerja dalam tim.
Dunia modern semakin sulit ditaklukkan sendirian.
Orang yang selalu berkata, “Saya bisa,” perlu belajar mengatakan, “Mari kita lakukan bersama.”
Lalu ada kecerdasan spiritual.
Ary Ginanjar Agustian melalui gagasan ESQ mengingatkan pentingnya menjadikan nilai dan spiritualitas sebagai fondasi kecerdasan manusia.
Ini penting bagi generasi muda.
Sebab ketika seseorang memperoleh jabatan, uang, kekuasaan dan kesempatan, pertanyaan terpenting bukan lagi sekadar apakah ia mampu, tetapi untuk apa kemampuan itu digunakan?
Kecerdasan tanpa moral dapat kehilangan arah.
Kemampuan tanpa nilai dapat disalahgunakan.
Karena itu, kita membutuhkan generasi yang bukan hanya smart, tetapi juga good.
Lalu di mana kesehatan?
Di sinilah kita sering lupa.
Kita sibuk mengejar IQ.
Kita mulai mengenal EQ.
Kita berbicara tentang SQ.
Kita mengembangkan berbagai keterampilan.
Tetapi jangan lupa: semua itu membutuhkan tubuh sebagai kendaraan.
Otak yang hebat membutuhkan tubuh yang sehat.
Cita-cita yang tinggi membutuhkan stamina.
Karier yang panjang membutuhkan kesehatan.
Kepemimpinan membutuhkan ketahanan fisik dan mental.
Maka menjadi sehat bukan perkara kosmetik. Bukan hanya supaya terlihat gagah, langsing atau bugar.
Kesehatan adalah modal produktivitas.
Jangan romantisasi begadang
Karena itu, saya merasa nasihat Prof Mujiburrahman, Rektor UIN Ar-Raniry, kepada mahasiswa sangat relevan.
Beliau berkali-kali mengingatkan mahasiswa agar jangan menjadikan begadang sebagai kebiasaan, cukup istirahat dan menjaga makanan.
Nasihat seperti ini kadang dianggap terlalu sederhana.
Tetapi justru yang sederhana itulah yang sering kita abaikan.
Kita ingin menjadi doktor, tetapi tidur berantakan.
Kita ingin menjadi profesor, tetapi tubuh tidak dirawat.
Kita ingin menjadi pengusaha sukses, tetapi pola makan tidak dijaga.
Kita ingin menjadi pemimpin, tetapi kesehatan mental tidak diperhatikan.
Bagaimana mungkin kita mengejar masa depan yang panjang dengan kebiasaan hidup yang pendek?
Dalam tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Rabu lalu, Dr Jalaluddin juga mengingatkan pentingnya kesehatan fisik mahasiswa dan generasi muda.
Pesannya sederhana tetapi mendalam: jangan sampai mimpi masa depan hancur karena kita sendiri tidak menjaga tubuh dan diri hari ini.
Persaingan tidak akan menunggu kita
Kita juga harus mengatakan kepada generasi muda Aceh dengan jujur: dunia kerja tidak sedang menunggu kita.
Persaingan semakin terbuka.
Globalisasi membuat batas-batas tenaga kerja semakin cair. Dalam banyak sektor, perusahaan dapat mencari tenaga profesional dari mana saja, selama orang itu memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Pada saat yang sama, kita tidak bisa terus menggantungkan masa depan kepada rekrutmen PNS.
Rekrutmen pemerintah memiliki kebutuhan dan batas tertentu. Lembaga-lembaga pemerintah pun semakin mengenal pola pengelolaan profesional dan seleksi berbasis kompetensi.
Maka pola pikir anak muda harus berubah.
Jangan kuliah hanya untuk menunggu lowongan.
Jangan mendapatkan ijazah lalu bertanya, “Ada pekerjaan apa untuk saya?”
Lebih baik bertanya:
“Kemampuan apa yang saya miliki sehingga orang membutuhkan saya?”
Itulah mentalitas yang harus dibangun.
Aceh punya potensi besar
BPS mencatat penduduk Aceh usia 15–19 tahun pada 2024 mencapai 481.688 jiwa, usia 20–24 tahun 471.943 jiwa dan usia 25–29 tahun 462.094 jiwa. Jika dijumlahkan, terdapat sekitar 1,42 juta penduduk usia 15–29 tahun.
Angka ini luar biasa besar.
Ia bisa menjadi bonus demografi.
Tetapi bonus demografi tidak otomatis menjadi bonus kesejahteraan.
Generasi muda yang besar jumlahnya tetapi rendah kompetensi bisa menjadi beban.
Sebaliknya, generasi muda yang besar jumlahnya, sehat, terdidik, terampil, berkarakter dan produktif dapat menjadi mesin pertumbuhan Aceh.
Karena itu, yang perlu kita khawatirkan bukan hanya berapa banyak anak muda yang kita miliki, tetapi seberapa siap mereka menghadapi masa depan.
Jangan biarkan mereka merusak dirinya sendiri
Di sinilah tanggung jawab orang tua, guru, dosen dan organisasi kepemudaan menjadi penting.
Jangan hanya memeriksa nilai rapor.
Jangan hanya bertanya IPK.
Jangan hanya bangga ketika anak menjadi juara.
Tanyakan juga:
Sudahkah ia tidur cukup?
Sudahkah ia berolahraga?
Bagaimana pola makannya?
Bagaimana kesehatan mentalnya?
Apakah ia mampu mengendalikan emosinya?
Apakah ia bisa bekerja sama?
Apakah ia punya keterampilan?
Apakah ia memiliki integritas?
Dan yang paling penting:
Apakah ia memiliki hubungan yang baik dengan Allah?
Kita harus membantu anak-anak muda menjadi jengah—merasa tidak nyaman—ketika mulai memasuki kebiasaan yang dapat menghancurkan dirinya.
Jengah ketika begadang tanpa tujuan.
Jengah ketika hidup hanya bersama gawai.
Jengah ketika makanan tidak terkontrol.
Jengah ketika tidak pernah berolahraga.
Jengah ketika tekanan mental dibiarkan.
Jengah ketika masa muda dihabiskan tanpa membangun kompetensi.
Sebab menyelamatkan masa depan sering kali dimulai dengan keberanian menghentikan kebiasaan buruk hari ini.
“Mukmin yang kuat”
Islam sesungguhnya telah memberikan fondasi yang sangat kuat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah…”
(HR. Muslim)
Kekuatan itu tentu tidak hanya berarti otot.
Ia mencakup kekuatan iman, ilmu, mental, kemauan, karakter dan kemampuan menghadapi kehidupan.
Allah juga berfirman:
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…”
(QS. Al-Anfal: 60).
Spirit ayat ini mengajarkan bahwa masa depan tidak boleh dihadapi dengan ketidaksiapan.
Persiapkan diri sebelum kesempatan datang.
Sebab kesempatan biasanya datang kepada orang yang siap.
Jangan sampai pintar tetapi tidak siap
Maka saya kira sudah waktunya kita memperluas cara pandang tentang pendidikan.
Pendidikan bukan sekadar membuat anak pintar.
Pendidikan harus membuat anak siap hidup.
Siap bekerja.
Siap menghadapi tekanan.
Siap berkomunikasi.
Siap bekerja sama.
Siap memimpin.
Siap menjadi profesional.
Siap menjadi orang tua.
Siap menjadi warga negara.
Dan tentu saja siap mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Allah.
Kita tidak ingin generasi muda Aceh menjadi generasi yang hanya pintar di atas kertas.
Kita tidak ingin lahir generasi dengan banyak gelar tetapi mudah tumbang ketika menghadapi tekanan.
Kita tidak ingin anak-anak muda memiliki mimpi setinggi langit tetapi tubuhnya tidak kuat membawanya berjalan.
Kita ingin generasi yang lengkap.
Otaknya hidup.
Hatinya matang.
Pergaulannya luas.
Imannya kuat.
Tubuhnya sehat.
Mentalnya tangguh.
Dan tangannya terampil.
Inilah salah satu puzzle terpenting kesejahteraan Aceh.
Sebab pada akhirnya, jalan, gedung, kampus, perusahaan dan seluruh kekayaan Aceh hanyalah sarana.
Yang menentukan ke mana semua itu akan dibawa adalah manusia.
Maka pertanyaan kita hari ini bukan sekadar:
“Apa yang akan kita wariskan kepada generasi muda?”
Tetapi lebih jauh:
“Generasi seperti apa yang sedang kita persiapkan untuk menerima warisan itu?”
Jangan sampai kita mewariskan Aceh yang lebih baik kepada generasi yang justru tidak cukup sehat, tidak cukup kuat dan tidak cukup siap untuk mengelolanya.
Aceh membutuhkan generasi cerdas. Tetapi lebih dari itu, Aceh membutuhkan generasi cerdas yang sehat dan kuat.
Sebab jangan sampai mereka tumbang sebelum bertanding.
Wallahu a’lam
Darussalam 28 Rabiul Awal 1448, 10 September 2026
(Penylis, pengamat sosial dan keislaman UIN Ar-Raniry)
