Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi ini saya mendapatkan sebuah kejutan kecil yang justru membuat saya berpikir panjang.
Sambil menunggu mobil dicuci di sebuah doorsmeer persis di seberang Biro Rektorat UIN Ar-Raniry, saya singgah di sebuah warkop di bilangan Jalan Lingkar Kampus, Rukoh. Warkopnya tidak besar. Seperti warkop pada umumnya, beberapa kursi dan meja tersedia untuk mereka yang ingin sekadar duduk, berbincang atau menikmati secangkir kopi.
Saya memesan kopi seperti biasa.
Sambil menunggu mobil selesai dicuci, saya sempat memotret suasana dan secangkir kopi yang saya nikmati, lalu mengirimkannya ke grup Berkah Subuh, jamaah Meunasah Barabung. Teman-teman merespons dengan beberapa jempol. Kopi yang saya minum ternyata disebut oleh mereka sebagai “kopi berkah.”
Saya tersenyum.
Namun, kejutan sebenarnya baru datang ketika saya hendak membayar.
“Gratis, Pak. Kopi berkah,” kata dua pemuda yang melayani saya.
Saya semula mengira itu sekadar keramahan pemilik warkop. Tetapi mereka kemudian menjelaskan sesuatu yang membuat saya tertegun.
“Setiap Jumat kami infakkan 20 cangkir kopi untuk almarhum ayah dan almarhumah ibu.”
Saya diam sejenak.
Hanya secangkir kopi. Tetapi di balik secangkir kopi itu ternyata ada cinta seorang anak kepada ayah dan ibunya yang telah tiada.
Kopi itu tidak lagi sekadar minuman. Ia telah menjadi doa yang bisa diminum orang lain.
Dari secangkir kopi kepada sepotong pendidikan
Saya kemudian memperhatikan kedua pemuda itu.
Mungkin mereka adalah generasi penerus warkop tersebut. Wajahnya muda, energik, dan berada pada usia ketika banyak anak muda hari ini berlomba menunjukkan gaya hidup. Barang bermerek, telepon genggam mahal, kendaraan bagus, tempat nongkrong yang keren, menjadi bagian dari citra sebagian anak muda.
Tetapi pagi itu Allah memperlihatkan kepada saya dua pemuda dengan ukuran kegagahan yang berbeda.
Mereka mungkin tidak sedang memamerkan barang mahal.
Mereka justru sedang memamerkan bakti kepada orang tua.
Saya tiba-tiba membayangkan ayah dan ibu kedua pemuda tersebut.
Bagaimana dahulu mereka dibesarkan?
Bagaimana mereka mencari nafkah untuk memberikan makan kepada anak-anaknya?
Bagaimana mereka menyekolahkan dan mendidiknya?
Berapa banyak keringat yang telah keluar?
Berapa banyak doa yang telah dipanjatkan?
Berapa banyak keinginan pribadi yang mungkin mereka tahan demi anak-anaknya?
Dan hari ini, setelah ayah dan ibu itu tiada, kedua anaknya masih mengingat mereka melalui sebuah amal yang sederhana tetapi rutin.
Saya merasa pagi itu Allah sedang memberi saya pelajaran.
Bukan melalui ceramah panjang.
Bukan melalui seminar.
Bukan melalui buku.
Tetapi melalui dua pemuda dan dua puluh cangkir kopi setiap Jumat.
Berbakti tidak berhenti ketika orang tua meninggal
Al-Qur’an memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada orang tua. Allah berfirman dalam QS Al-Isra’ ayat 23:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”
Bahkan setelah perintah menyembah Allah, Al-Qur’an segera mengingatkan manusia tentang kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua.
Dalam ayat berikutnya Allah mengajarkan doa yang sangat indah:
“Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku ketika kecil.”
(QS Al-Isra’: 24)
Perhatikan kalimatnya: sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku ketika kecil.
Anak mengingat kembali masa ketika dirinya belum mampu melakukan apa-apa. Orang tua yang menggendongnya, menyuapinya, menjaganya ketika sakit, membimbingnya berjalan, mengajarinya berbicara, menyekolahkannya, dan mengantarnya menuju kedewasaan.
Karena itu, wafatnya orang tua tidak berarti berakhirnya bakti seorang anak.
Rasulullah SAW justru menjelaskan bahwa masih ada jalan bagi seorang anak untuk terus berbuat baik kepada orang tuanya setelah mereka meninggal.
Dalam hadis riwayat Muslim, ketika ditanya tentang amal yang terus mengalir setelah seseorang meninggal, Rasulullah SAW menyebut antara lain sedekah jariyah dan anak saleh yang mendoakannya.
Anak saleh bukan hanya anak yang berhasil secara akademik.
Bukan sekadar anak yang mendapatkan pekerjaan bagus.
Bukan hanya anak yang mampu membeli rumah untuk dirinya sendiri.
Anak saleh adalah anak yang tetap mengingat Allah dan tetap mengingat orang tuanya.
Ia tidak membiarkan kesibukan dunia membuat nama ayah dan ibunya hilang dari doanya.
Ada banyak cara mengirim “hadiah” kepada orang tua
Tidak semua anak memiliki warkop.
Tidak semua mampu menginfakkan 20 cangkir kopi setiap Jumat.
Tetapi setiap anak memiliki kesempatan untuk berbakti.
Doakan orang tua.
Sedekahkan sebagian rezeki atas nama mereka.
Bantu orang lain dengan niat menghadiahkan pahalanya kepada mereka, sesuai pemahaman fikih yang diikuti.
Sambung silaturahmi dengan saudara dan sahabat orang tua.
Rawat nama baik mereka.
Jaga hubungan baik dengan keluarga yang mereka cintai.
Lanjutkan cita-cita baik yang pernah mereka tanamkan.
Dan yang paling penting, jadilah anak yang akhlaknya membuat orang tua tetap tersenyum meskipun mereka sudah tidak berada di dunia.
Bayangkan jika setiap Jumat seorang pemuda menyisihkan sedikit rezekinya untuk orang tuanya.
Ada yang menginfakkan kopi.
Ada yang membagikan nasi.
Ada yang membeli air minum untuk jamaah masjid.
Ada yang menyumbang Al-Qur’an.
Ada yang membantu anak yatim.
Ada yang mentraktir seorang mahasiswa yang kesulitan makan.
Ada yang diam-diam mentransfer sedekah kepada orang miskin.
Kemudian ia berdoa:
“Ya Allah, sampaikan pahala kebaikan ini kepada ayah dan ibuku.”
Betapa indah jika budaya seperti ini tumbuh di kalangan pemuda kita.
Jangan tunggu menjadi kaya untuk berbakti
Dua puluh cangkir kopi mungkin bukan angka besar dalam ukuran bisnis.
Tetapi dalam ukuran cinta, ia sangat besar.
Inilah yang sering kita lupakan.
Berbakti kepada orang tua tidak selalu membutuhkan uang banyak.
Kadang hanya membutuhkan kesadaran untuk mengingat.
Satu doa setelah shalat.
Satu bacaan Al-Fatihah.
Satu sedekah kecil.
Satu kunjungan kepada keluarga yang ditinggalkan orang tua.
Satu tindakan baik yang sengaja diniatkan untuk mereka.
Yang besar bukan selalu nominalnya.
Yang besar adalah ketulusan dan kesinambungannya.
Untuk para pemuda dan remaja
Wahai anak muda.
Kegagahanmu bukan hanya pada pakaianmu.
Bukan pada kendaraanmu.
Bukan pada telepon genggammu.
Bukan pula pada tempat-tempat mahal yang engkau datangi.
Kegagahanmu terlihat dari bagaimana engkau memperlakukan ayah dan ibumu.
Jika mereka masih hidup, bahagiakan mereka.
Jangan tunggu sukses untuk membuat mereka tersenyum.
Telepon mereka.
Datangi mereka.
Dengarkan ceritanya.
Bantu kebutuhannya.
Jangan tinggikan suara kepada mereka.
Jangan membuat mereka merasa menjadi beban.
Dan jika mereka telah tiada, jangan kuburkan nama mereka bersama jasadnya.
Hidupkan nama mereka dalam doa.
Hidupkan kebaikan mereka melalui sedekah.
Jaga silaturahmi yang mereka wariskan.
Jadilah manusia baik yang membuat orang berkata:
“Pantas saja anaknya seperti itu. Dahulu orang tuanya pasti mendidiknya dengan baik.”
Saya membayangkan, alangkah indahnya jika setiap kampung memiliki generasi seperti kedua pemuda di warkop pagi tadi.
Anak-anak muda yang tidak malu berbakti.
Remaja yang tidak gengsi bersedekah.
Mahasiswa yang tetap mengingat orang tuanya di tengah kesibukan mengejar gelar.
Anak rantau yang tidak lupa mendoakan ayah dan ibu di kampung.
Dan setiap Jumat, lahir berbagai bentuk “infak kopi” dari hati anak-anak kepada orang tuanya.
Mungkin tidak selalu kopi.
Bisa nasi.
Bisa air mineral.
Bisa makanan.
Bisa uang.
Bisa tenaga.
Bisa ilmu.
Bisa doa.
Yang penting ada cinta yang diterjemahkan menjadi amal.
Pagi ini saya datang ke warkop itu untuk minum kopi.
Tetapi ternyata Allah memberi saya lebih dari sekadar kopi.
Saya membawa pulang sebuah pertanyaan:
Sudahkah saya menjadi anak yang membahagiakan orang tua saya?
Dan lebih jauh lagi:
Sudahkah saya mengajarkan anak-anak dan cucu-cucu saya cara mencintai orang tua mereka setelah orang tuanya tiada?
Dua pemuda itu telah memberi saya pelajaran.
Mereka mungkin tidak bermaksud mengajari siapa-siapa.
Mereka hanya menjalankan kebiasaan yang mereka warisi.
Tetapi bagi saya, dua puluh cangkir kopi setiap Jumat adalah sebuah kurikulum pendidikan akhlak.
Kurikulum tentang cinta.
Kurikulum tentang syukur.
Kurikulum tentang birrul walidain.
Dan mungkin, di situlah letak keberkahan sebenarnya.
Kopi itu dinanti bukan karena rasanya.
Ia dinanti karena di baliknya ada doa seorang anak untuk ayah dan ibunya.
Semoga Allah merahmati kedua orang tua mereka, menerima amal yang mereka persembahkan, dan menjadikan kedua pemuda itu anak-anak saleh yang pahalanya terus mengalir kepada orang tuanya.
Dan semoga kita semua diberi kesempatan menjadi anak yang ketika disebut namanya oleh orang lain, orang tua kita—baik yang masih hidup maupun yang telah tiada—mendapat bagian dari kebaikan itu.
Sebab ada anak yang ditunggu orang tuanya pulang.
Tetapi ada anak yang bahkan setelah orang tuanya tiada, kebaikannya masih terus dinanti.
Wallahu a’lam
Darussalam 29 Rabiul Awal 1448, 11 September 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
