-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Mulia Membuat Orang Mulia

Selasa, 08 September 2026 | September 08, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T03:43:18Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid 

Al-Rasyid.id | Ada tulisan muhasabah Prof. Sri Suyanta pagi ini yang membuat saya ingin belajar lagi tentang satu kata yang sebenarnya sangat akrab di telinga kita, tetapi mungkin belum selesai kita pahami: mulia.


Beliau menurunkan tema “bahagia mulia memuliakan”, lalu melemparkan dua pertanyaan yang sederhana tetapi diam-diam sangat tajam:


Sudahkah kita menjadi mulia?

Dan: Sudahkah kehadiran kita membuat orang-orang di sekitar kita merasa dimuliakan?


Saya kira dua pertanyaan ini lebih tajam daripada seribu nasihat. Sebab ia tidak menyuruh kita melihat orang lain. Ia menyuruh kita melihat diri sendiri.


Kita sering berbicara tentang kemuliaan, tetapi jangan-jangan yang kita cari sebenarnya bukan kemuliaan, melainkan penghormatan.


Kita ingin dihormati karena jabatan. Ingin disegani karena gelar. Ingin didengar karena usia. Ingin dipatuhi karena kekuasaan. Ingin dianggap penting karena harta.


Padahal belum tentu orang yang banyak dihormati manusia adalah orang yang mulia di hadapan Allah.


Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa Allah tidak menilai manusia dari rupa dan kekayaannya, tetapi dari hati dan amalnya. (Sunnah⁠)


Maka, boleh jadi seseorang tampak besar di mata manusia, tetapi kecil di hadapan Allah. Sebaliknya, seseorang yang tidak banyak dikenal manusia justru sangat mulia di sisi-Nya.


Kemuliaan adalah modal bawaan manusia


Al-Qur’an memberikan kabar yang sangat menggembirakan sekaligus mengandung tanggung jawab besar:


“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”

(QS. Al-Isra’: 70). 


Perhatikan: Allah mengatakan “Kami telah memuliakan”, bukan “manusia memuliakan dirinya sendiri”.


Artinya, kemuliaan pertama-tama adalah anugerah Allah.


Kita lahir sebagai manusia dengan kehormatan. Kita bukan makhluk yang diciptakan tanpa tujuan. Kita diberi akal, hati, kemampuan belajar, kemampuan membedakan yang baik dan buruk, serta amanah sebagai khalifah di muka bumi.


Karena itu, setiap manusia memiliki martabat asasi.


Dalam bahasa ilmu sosial modern, gagasan ini dikenal sebagai human dignity—martabat yang melekat pada manusia karena kemanusiaannya.


Tetapi Islam memberikan dimensi yang lebih dalam.


Manusia memang dimuliakan karena ia manusia, tetapi derajat kemuliaannya di sisi Allah meningkat melalui iman dan takwa.


Allah berfirman:


“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13).


Jadi ada kemuliaan yang diberikan, dan ada kemuliaan yang diperjuangkan.


Kemuliaan sebagai anak Adam adalah pemberian Allah.


Kemuliaan sebagai manusia bertakwa adalah hasil perjuangan kita.


Di sinilah persoalannya.

Jangan sampai kita merusak kemuliaan sendiri


Allah sudah memuliakan kita. Tetapi manusia bisa saja merusak kemuliaannya sendiri.


Al-Qur’an menggambarkan keadaan manusia yang menolak petunjuk dengan bahasa yang sangat keras:


“Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.”

(QS. Al-A’raf: 179).


Mengapa?


Karena manusia diberikan akal, tetapi tidak digunakan untuk mencari kebenaran.


Diberikan hati, tetapi dipenuhi kesombongan.


Diberikan mata, tetapi digunakan untuk mencari-cari kesalahan orang.


Diberikan telinga, tetapi hanya mau mendengar pujian.


Diberikan lisan, tetapi digunakan untuk menyakiti.


Diberikan ilmu, tetapi ilmu membuatnya merasa paling pintar.


Diberikan jabatan, tetapi jabatan membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain.


Diberikan harta, tetapi harta membuatnya lupa bahwa semua itu titipan.


Diberikan kekuasaan, tetapi kekuasaan membuatnya kehilangan rasa malu.


Di sinilah manusia dapat jatuh.

Yang merusak kemuliaan manusia bukan kemiskinan, melainkan kesombongan. Bukan rendahnya jabatan, melainkan rendahnya akhlak. Bukan sedikitnya harta, melainkan buruknya cara menggunakan harta.


Karena itu, jangan ukur kemuliaan seseorang hanya dari apa yang melekat di tubuhnya: pakaian, pangkat, gelar, kendaraan, rumah, jabatan, atau popularitas.


Lihatlah bagaimana ia memperlakukan manusia.


Orang mulia tidak membuat orang lain merasa hina


Di sinilah pertanyaan kedua Prof. Sri Suyanta menjadi sangat penting:

Sudahkah kehadiran kita membuat orang lain merasa dimuliakan?


Ini pertanyaan yang sangat personal.


Ketika kita pulang ke rumah, apakah pasangan merasa bahagia melihat kita?


Ketika anak-anak berbicara, apakah kita mendengarkan mereka atau malah sibuk dengan telepon?


Ketika orang tua menyampaikan sesuatu, apakah kita menghargainya?


Ketika bawahan melakukan kesalahan, apakah kita membimbingnya atau mempermalukannya?


Ketika mahasiswa belum memahami pelajaran, apakah kita membuatnya berani bertanya atau justru membuatnya takut?


Ketika tetangga datang, apakah ia merasa diterima?


Ketika orang kecil bertemu kita, apakah ia merasa dirinya manusia yang berharga?


Inilah sesungguhnya ujian kemuliaan.


Sebab orang yang benar-benar mulia tidak membutuhkan orang lain menjadi kecil agar dirinya tampak besar.


Ia justru membuat orang lain tumbuh.

Ia memberi ruang.

Ia mendengarkan.

Ia menghargai.

Ia tidak gampang mempermalukan.

Ia tidak gemar membuka aib.

Ia tidak menggunakan jabatan untuk menekan.

Ia tidak menggunakan ilmu untuk merendahkan.

Ia tidak menggunakan kekayaan untuk mempertontonkan kelebihan.


Rasulullah SAW bahkan memperingatkan bahwa merendahkan seorang Muslim saja sudah merupakan keburukan yang serius. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan, “Cukuplah seseorang disebut buruk apabila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.” 


Betapa menariknya.

Kadang kita merasa sudah banyak berbuat baik karena rajin beribadah, tetapi lupa bahwa cara kita memperlakukan manusia juga bagian dari kualitas ibadah kita.


Ujian kemuliaan yang sebenarnya ada di rumah


Menurut saya, tempat pertama untuk menguji kemuliaan seseorang bukanlah mimbar, kantor, kampus, atau ruang publik.


Ujian pertama adalah rumah.


Sebab di luar rumah kita bisa memakai pakaian terbaik, memasang wajah terbaik, berbicara paling santun, bahkan menjadi orang yang sangat ramah.


Tetapi di rumah, karakter asli sering muncul.


Karena itu, coba tanyakan kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita:


“Apakah kalian merasa nyaman hidup bersama saya?”


Pertanyaan itu mungkin lebih jujur daripada bertanya kepada seratus orang yang hanya bertemu kita sesekali.


Sebab seseorang boleh sangat dihormati di luar rumah, tetapi kalau istri atau suaminya merasa tidak dihargai, anak-anak takut berbicara, pembantu atau pekerja rumah tangga merasa direndahkan, dan orang tua merasa diabaikan, kita perlu melakukan muhasabah.


Jangan sampai kita menjadi orang baik di luar rumah tetapi menjadi sumber luka bagi orang-orang yang paling dekat dengan kita.


Kemuliaan yang sejati harus terasa terlebih dahulu di rumah.


Di tempat kerja, jadilah orang yang membuat orang lain bertumbuh


Begitu pula di tempat kerja.


Seorang pimpinan yang mulia bukan yang membuat semua orang takut kepadanya.


Pimpinan yang mulia adalah yang membuat bawahannya berani berkembang.


Seorang dosen yang mulia bukan yang membuat mahasiswa takut bertanya.


Dosen yang mulia adalah yang membuat mahasiswa berani berpikir.


Seorang senior yang mulia bukan yang selalu mengingatkan bahwa dirinya lebih dahulu.


Senior yang mulia adalah yang membantu junior menemukan jalan.


Seorang pejabat yang mulia bukan yang setiap kali datang membuat orang sibuk menyiapkan penghormatan.


Pejabat yang mulia adalah yang ketika datang, orang merasa:


“Alhamdulillah, beliau hadir. Ada masalah yang akan dibantu.”


Ini ukuran yang berbeda.


Kita tidak lagi bertanya:

“Seberapa banyak orang menghormati saya?”

Tetapi:

“Seberapa banyak orang merasa dihargai karena pernah berinteraksi dengan saya?”


Inilah perubahan perspektif yang sangat penting.


Generasi muda harus menjaga kemuliaan sejak dini


Generasi kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.


Media sosial memberi kesempatan untuk terkenal, tetapi juga membuka pintu kesombongan.


Kecerdasan buatan memberi kemampuan luar biasa, tetapi dapat membuat manusia malas berpikir.


Kekayaan informasi membuat manusia merasa tahu segalanya, tetapi belum tentu membuatnya bijaksana.


Karena itu generasi muda harus menjaga kemuliaannya dengan tiga hal: iman, ilmu, dan akhlak.


Iman menjaga arah.

Ilmu menjaga pikiran.

Akhlak menjaga perilaku.


Tambahkan satu lagi: malu.


Malu kepada Allah.

Malu menyakiti orang.

Malu menghina.

Malu berbuat curang.

Malu menggunakan ilmu untuk menipu.

Malu menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Malu mempermalukan orang lain.


Malu melakukan sesuatu yang membuat diri sendiri kehilangan kehormatan.


Sebab manusia yang masih memiliki rasa malu biasanya masih memiliki pagar bagi kemuliaannya.


Jangan hanya menjadi mulia, tetapi jadilah orang yang memuliakan


Pada akhirnya, saya melihat dua pertanyaan Prof. Sri Suyanta itu seperti dua cermin.


Cermin pertama bertanya:

“Sudahkah saya menjadi mulia?”


Cermin kedua bertanya:

“Apakah orang lain merasa dimuliakan ketika bersama saya?”


Cermin pertama menguji kualitas diri.

Cermin kedua menguji dampak diri.


Dan barangkali kemuliaan yang paling sempurna adalah ketika keduanya bertemu.


Kita baik kepada Allah dan baik kepada manusia.


Kita kuat dalam prinsip, tetapi lembut dalam memperlakukan manusia.


Kita memiliki kedudukan, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.


Kita memiliki ilmu, tetapi tidak gemar merendahkan orang bodoh.


Kita memiliki kekayaan, tetapi tidak memandang rendah orang miskin.


Kita memiliki jabatan, tetapi tidak kehilangan rasa kemanusiaan.


Kita memiliki usia, tetapi tidak merasa paling benar.


Kita memiliki pengalaman, tetapi tetap mau belajar.


Sebab pada akhirnya, kemuliaan bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi tentang seberapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena pernah berjalan bersama kita.


Maka mari kita bawa dua pertanyaan Prof. Sri Suyanta itu ke dalam kehidupan kita masing-masing.


Ketika bangun pagi, tanyakan:

Sudahkah saya menjadi manusia yang mulia?


Sebelum tidur, tanyakan:

Hari ini, adakah orang yang merasa lebih dihargai, lebih tenang, lebih kuat, dan lebih bahagia karena kehadiran saya?


Jika ada, bersyukurlah.

Jika belum, besok masih ada kesempatan.


Allah sudah memberikan kita kemuliaan sebagai anak Adam.


Jangan kita jual kemuliaan itu dengan kesombongan. Jangan kita tukar dengan jabatan. Jangan kita korbankan demi harta. Jangan kita rusak dengan lisan. Jangan kita runtuhkan dengan perilaku.


Rawatlah kemuliaan itu dengan iman.

Tumbuhkan dengan ilmu.

Hiasi dengan akhlak.

Dan sempurnakan dengan memuliakan sesama.


Sebab boleh jadi, kebahagiaan terbesar dalam hidup bukan ketika semua orang memuliakan kita.


Tetapi ketika kehadiran kita membuat orang lain merasa bahwa dirinya berharga.


Dan mungkin, di situlah kita baru benar-benar memahami makna:

bahagia menjadi mulia, dan mulia karena memuliakan.


Wallahu a’lam 


Darussalam 27 Rabiul Awal 1448, 9 September 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman)

×
Berita Terbaru Update