-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Maulid Nabi yang Utama Bukan Kenduri

Sabtu, 05 September 2026 | September 05, 2026 WIB Last Updated 2026-09-06T03:28:04Z


Opini Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Kalimat Tgk Sri Darmawan dalam ceramah Subuh Sabtu (S3) di Masjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjong Seulamat, Darussalam, Aceh Besar, Sabtu 5 September 2026, bahwa dalam peringatan maulid nabi kenduri bukan hal yang utama. Ini menurut saya layak direnungkan lebih panjang.


Bukan karena kalimat itu baru. Tetapi karena ia menyentuh satu persoalan yang sering membuat kita terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif: Maulid sering kali dipersempit menjadi persoalan kenduri.


Yang satu mati-matian mempertahankan khanduri Maulid seolah-olah itulah inti kecintaan kepada Rasulullah SAW. Yang lain menolak Maulid karena menganggapnya bid’ah, lalu terkadang seluruh bentuk kegiatan di dalamnya dipandang salah.


Padahal, mungkin kita perlu berhenti sejenak.


Bagaimana kalau kita melihat Maulid dari sisi yang lebih luas?


Kenduri boleh menjadi bagian dari Maulid. Tetapi Maulid tidak identik dengan kenduri.


Dan justru di sinilah pesan Tgk Sri Darmawan menjadi penting.


Jangan sampai nasi lebih dikenal daripada Nabi


Mari kita bertanya secara sederhana.


Anak-anak kita ketika mendengar kata Maulid, apa yang pertama kali mereka bayangkan?


Apakah Nabi Muhammad SAW?

Apakah sirah perjuangannya?

Apakah akhlaknya?

Apakah hijrahnya dari Makkah ke Madinah?

Apakah perjuangannya membangun masyarakat?

Apakah kesabarannya menghadapi penghinaan?


Ataukah yang mereka ingat pertama kali adalah tenda, penceramah, rebusan daging, kuah beulangong, nasi, lauk-pauk dan hidangan yang berjejer?


Kalau jawabannya yang terakhir, barangkali ada sesuatu yang harus kita benahi.


Bukan karena makan bersama itu salah. Bukan pula karena memberi makan orang lain tidak baik.


Justru memberi makan adalah amal sosial yang mulia.

Tetapi jangan sampai media mengalahkan pesan.


Jangan sampai nasi Maulid lebih dikenal daripada Nabi yang kelahirannya kita peringati.


Jangan sampai orang tahu tanggal acara, tetapi tidak tahu sejarah perjuangan Rasulullah.


Jangan sampai anak-anak hafal menu kenduri, tetapi tidak mengenal sifat al-Amin.


Dan jangan sampai setelah acara Maulid selesai, tidak ada perubahan sedikit pun dalam shalat, akhlak, kejujuran, kepedulian dan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW.


Maulid sebagai sekolah sejarah


Tgk Sri Darmawan mengingatkan salah satu manfaat Maulid adalah mengajarkan kepada lintas generasi riwayat kehidupan Rasulullah SAW.


Ini sangat penting.

Sebab masyarakat yang kehilangan sejarah akan mudah kehilangan arah.


Anak-anak kita hidup di zaman ketika informasi tentang siapa saja begitu mudah ditemukan. Mereka dapat mengetahui kehidupan artis, pesohor, pemain bola dan tokoh media sosial hanya dalam hitungan detik.


Tetapi apakah mereka mengenal kehidupan Rasulullah dengan kadar pengetahuan yang sama?


Apakah mereka tahu bahwa Muhammad SAW lahir di Makkah, menerima wahyu, berdakwah dalam suasana penuh tekanan, berhijrah ke Madinah, membangun masyarakat, menghadapi berbagai peperangan dan tantangan, hingga akhirnya wafat di Madinah?


Apakah mereka tahu bagaimana Rasulullah memperlakukan orang miskin?


Bagaimana beliau memaafkan?

Bagaimana beliau berdagang?

Bagaimana beliau memimpin?

Bagaimana beliau mendidik anak-anak?

Bagaimana beliau memperlakukan tetangga?

Bagaimana beliau menghadapi orang yang berbeda pendapat?


Inilah seharusnya yang menjadi kekayaan Maulid.


Maulid harus menjadi sekolah sirah lintas generasi.

Ayah mengajarkan kepada anak.

Kakek mengajarkan kepada cucu.

Guru mengajarkan kepada murid.

Ulama mengajarkan kepada umat.


Dan masjid menjadi ruang tempat sejarah Rasulullah terus hidup dari generasi ke generasi.


Ulama yang membolehkan pun tidak menjadikan kenduri sebagai tujuan


Menariknya, pandangan bahwa Maulid tidak berhenti pada kenduri juga sejalan dengan penjelasan sejumlah ulama yang membolehkan peringatan Maulid.


Imam Jalaluddin al-Suyuthi, dalam Husn al-Maqsid fi ’Amal al-Mawlid, menjelaskan Maulid sebagai momentum yang dapat diisi dengan berkumpul, membaca Al-Qur’an, menyampaikan riwayat tentang Rasulullah SAW, kemudian menyediakan makanan. Jadi, makanan berada dalam rangkaian amal kebaikan, bukan menjadi satu-satunya substansi. 


Pandangan serupa dinisbatkan kepada Ibn Hajar al-Asqalani yang melihat berbagai bentuk amal kebajikan—seperti membaca Al-Qur’an, memberi makan dan sedekah—sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah. 


Artinya jelas:


Ada ilmu. Ada zikir. Ada salawat. Ada sirah. Ada sedekah. Ada silaturahmi. Ada makanan.


Semuanya dapat menjadi sarana.


Tetapi jangan membaliknya sehingga yang tersisa hanya makanan.


Bahkan Ibn al-Hajj, seorang ulama yang dikenal sangat kritis terhadap berbagai bentuk bid’ah, juga membahas manfaat peringatan Maulid dalam karyanya Al-Madkhal. Para ulama yang membolehkan Maulid pada dasarnya menekankan bahwa peringatan itu harus diisi dengan perkara-perkara yang baik dan tidak mengandung kemungkaran. 


Di sinilah kita menemukan sebuah pelajaran penting: yang diperdebatkan sebenarnya bukan apakah makan itu boleh, tetapi apa yang menjadi tujuan dan bagaimana sebuah momentum keagamaan diisi.


Kalau Maulid, maka harus ada ilmu


Karena itu, saya membayangkan Maulid Aceh ke depan tidak hanya diukur dari berapa ekor sapi yang dipotong atau berapa ribu porsi nasi yang dibagikan.


Kita perlu memiliki ukuran baru.


Berapa banyak anak yang mengikuti kajian sirah?


Berapa banyak remaja yang membaca buku tentang Rasulullah?


Berapa banyak keluarga yang membeli kitab hadis?


Berapa banyak sekolah yang mengadakan lomba sirah?


Berapa banyak masjid yang membuat kajian khusus akhlak Nabi?


Berapa banyak pemuda yang setelah mendengar kisah perjuangan Rasulullah kemudian tergerak memperbaiki dirinya?


Inilah ukuran keberhasilan Maulid yang jauh lebih penting.


Kenduri selesai dalam beberapa jam.


Tetapi ilmu yang ditanamkan kepada seorang anak bisa hidup puluhan tahun.


Sepiring nasi mengenyangkan perut untuk beberapa jam.


Tetapi satu pelajaran tentang kejujuran Rasulullah bisa menyelamatkan seseorang dari kebiasaan berdusta sepanjang hidupnya.


Satu kisah tentang kesabaran Nabi bisa mengubah seseorang yang mudah marah menjadi manusia yang lebih mampu menahan diri.


Satu pelajaran tentang kepedulian Rasulullah kepada kaum lemah bisa melahirkan generasi yang gemar bersedekah.


Bukankah itu jauh lebih bernilai?


Jangan pula mubazir atas nama cinta Nabi


Namun kritik ini tidak hanya ditujukan kepada mereka yang terlalu menekankan kenduri.


Kita juga perlu mengingat bahwa semangat Maulid tidak boleh menjadi alasan untuk mubazir.


Memberi makan adalah kebaikan. Tetapi membuang makanan bukan kebaikan.


Menghormati tamu adalah kemuliaan. Tetapi berutang dan memaksakan diri demi gengsi bukanlah tujuan agama.


Membuat acara besar boleh saja jika mampu. Tetapi jangan sampai Maulid berubah menjadi kompetisi kemewahan antargampong, antarkeluarga atau antarkelompok.


Bukankah akan lebih indah apabila sebagian anggaran Maulid dialihkan untuk membeli buku sirah bagi anak-anak?


Atau beasiswa bagi anak yatim?

Atau membantu keluarga miskin?

Atau membangun perpustakaan masjid?

Atau membantu santri?

Atau menjadi modal kecil bagi masyarakat yang membutuhkan?


Dengan begitu, semangat memberi makan tidak hilang, tetapi diperluas menjadi gerakan pemberdayaan umat.


Inilah Maulid yang hidup.

Jangan hanya gembira, tetapi ambil semangat perjuangan


Tgk Sri Darmawan juga mengaitkan Maulid dengan semangat menegakkan syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW.


Pesan ini penting agar Maulid tidak berhenti sebagai perasaan gembira atas kelahiran Nabi.


Kita memang patut bergembira atas hadirnya Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi alam semesta. Al-Qur’an menyebut beliau sebagai rahmatan lil-’alamin.


Tetapi cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya dengan perasaan.


Cinta harus melahirkan ittiba’, mengikuti keteladanan.


Kalau Nabi jujur, kita belajar jujur.


Kalau Nabi amanah, kita belajar amanah.


Kalau Nabi penyayang, kita belajar menyayangi.


Kalau Nabi memperhatikan fakir miskin, kita memperhatikan mereka.


Kalau Nabi menghormati tetangga, kita menghormati tetangga.


Kalau Nabi membangun persaudaraan, jangan kita justru menggunakan Maulid untuk saling menghujat.


Kalau Nabi membawa rahmat, jangan peringatan tentang beliau justru melahirkan kebencian.


Di sinilah Maulid menemukan ruhnya.


Kepada yang merayakan dan yang tidak


Lalu bagaimana kita menyikapi saudara Muslim yang tidak melaksanakan Maulid?


Menurut saya, di sinilah kita membutuhkan kelapangan dada.


Memang ada ulama yang menolak menjadikan Maulid sebagai perayaan keagamaan karena Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak menetapkannya sebagai ibadah khusus. Pendapat tersebut merupakan bagian dari khilafiyah yang perlu dihormati.


Tetapi ada pula ulama besar yang membolehkan peringatan Maulid dengan syarat diisi dengan amal-amal yang baik dan tidak mengandung kemungkaran. Dar al-Ifta Mesir, misalnya, mencatat pandangan sejumlah ulama seperti al-Suyuthi, Ibn Hajar, Ibn al-Jawzi, Ibn Dihyah dan lainnya mengenai kebolehan memperingati kelahiran Nabi dengan berbagai bentuk amal kebajikan. 


Maka tidak perlu saling membenci.


Yang merayakan Maulid jangan merasa paling mencintai Nabi.


Dan yang tidak merayakan Maulid jangan merasa paling mengikuti Nabi.


Ukuran akhirnya adalah Allah SWT dan amal kita.


Yang merayakan, rayakan dengan ilmu dan adab.


Yang tidak merayakan, pegang pendapatnya dengan santun.


Jangan karena persoalan khilafiyah kita kehilangan ukhuwah.


Maulid harus meninggalkan bekas


Pada akhirnya, saya kira inilah inti pesan Tgk Sri Darmawan yang patut kita bawa lebih jauh:


Maulid Nabi yang utama bukan kenduri.


Kenduri hanyalah media.

Yang utama adalah bagaimana momentum itu membuat kita semakin mengenal Nabi.


Semakin mencintai Nabi.

Semakin mengikuti akhlak Nabi.

Semakin dekat kepada Allah.

Semakin kuat ibadah.

Semakin luas ilmu.

Semakin banyak amal.

Semakin peduli kepada sesama.


Dan semakin kuat semangat memperjuangkan kebaikan dalam kehidupan.


Karena itu, setelah setiap peringatan Maulid, seharusnya ada pertanyaan yang kita ajukan kepada diri sendiri:


Apa yang berubah dalam diri saya setelah memperingati Maulid Nabi?


Kalau kita menjadi lebih rajin membaca Al-Qur’an, Maulid meninggalkan bekas.


Kalau kita semakin rajin bersalawat, Maulid meninggalkan bekas.


Kalau kita memperbaiki shalat, Maulid meninggalkan bekas.


Kalau kita semakin jujur, Maulid meninggalkan bekas.


Kalau kita semakin sayang kepada fakir miskin, Maulid meninggalkan bekas.


Kalau kita semakin santun kepada orang yang berbeda pendapat, Maulid meninggalkan bekas.


Tetapi kalau setelah kenduri selesai semuanya kembali seperti semula, maka jangan-jangan kita baru merayakan acara Maulid, belum merasakan pesan Maulid.


Maka mari kita berbaik-baik dalam melihat momentum ini.


Bagi yang meyakini Maulid sebagai amalan yang baik, laksanakan dengan sebaik-baiknya. Perbanyak ilmu, sirah, salawat, sedekah dan amal saleh. Jauhkan mubazir, kemewahan berlebihan dan segala sesuatu yang bertentangan dengan syariat.


Bagi yang tidak melaksanakannya, jangan menjadikan perbedaan itu alasan untuk membenci atau merusak keharmonisan umat. Berikan ruang kepada saudara kita yang meyakini kebolehannya.


Sebab mungkin saja seseorang membuat kenduri dengan niat ingin membahagiakan tetangga, memberi makan fakir miskin dan menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah.


Kita tidak perlu menjadi hakim atas isi hati orang lain.


Yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri.


Dan kalau benar kita mencintai Rasulullah SAW, mari kita buktikan kecintaan itu bukan hanya dengan meriah di bulan Maulid, tetapi dengan menghadirkan akhlaknya sepanjang tahun.


Maulid jangan berhenti di meja makan.


Maulid harus berjalan ke ruang belajar, masuk ke masjid, hadir di rumah, hidup di sekolah, tumbuh dalam akhlak dan menjelma menjadi amal.


Sebab kenduri boleh habis dalam sehari.


Tetapi cinta kepada Rasulullah semestinya hidup sepanjang hayat.


Wallahu a’lam 


Darussalam 23 Rabiul Awal 1448, 5 September 2026


(Penulis, imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update