Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Apa gunanya sederet gelar akademik di awal dan di belakang nama, jika ilmu yang diperoleh tidak pernah menjelma menjadi manfaat bagi masyarakat?
Apa gunanya doktor, profesor, magister dan berbagai predikat akademik lainnya, jika pemiliknya tidak ikut merasakan kegelisahan rakyat, tidak peduli terhadap nasib umat, dan tidak pernah menghadirkan gagasan untuk memperbaiki keadaan?
Pertanyaan itulah yang terasa menggugah ketika Ketua ICMI Orda Aceh Besar periode 2026–2031, Prof. Dr. Mujimulia, menyampaikan sambutannya seusai dilantik di Auditorium Ali Hasjmy UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, Sabtu, 5 September 2026.
Pesannya sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam: tidak ada gunanya sederet gelar yang menghiasi nama seorang pengurus ICMI apabila gelar dan ilmunya tidak berdampak positif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat serta umat Islam.
Saya kira ini bukan sekadar pesan kepada pengurus ICMI Aceh Besar. Ini adalah tamparan lembut bagi kita semua yang hidup di tengah masyarakat terdidik.
Sebab hari ini kita mungkin semakin mudah menemukan orang bergelar tinggi. Tetapi apakah kita semakin mudah menemukan orang yang benar-benar peduli?
Di sinilah persoalannya.
Ketika Gelar Menjadi Pajangan
Gelar akademik tentu penting. Ia merupakan penghargaan atas proses pendidikan, penelitian dan perjuangan intelektual seseorang. Karena itu, tidak ada alasan untuk meremehkannya.
Tetapi gelar hanyalah identitas akademik, bukan jaminan kecendekiaan.
Gelar dapat ditulis di kartu nama. Dapat dicetak pada undangan. Dapat terpampang di pintu ruang kerja. Bahkan dapat berderet panjang di belakang nama.
Tetapi manfaat tidak dapat dipajang.
Manfaat harus dirasakan.
Masyarakat tidak terlalu membutuhkan berapa banyak gelar yang kita miliki. Mereka membutuhkan apa yang dapat kita lakukan dengan ilmu tersebut.
Petani membutuhkan solusi agar hasil pertaniannya meningkat. Pedagang kecil membutuhkan akses permodalan yang sehat. Anak muda membutuhkan lapangan kerja. Guru membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Masyarakat miskin membutuhkan keberpihakan. Pemerintah membutuhkan gagasan. Dan umat membutuhkan keteladanan.
Di sinilah ilmu diuji.
Bukan pada panjangnya gelar, tetapi pada panjangnya manfaat.
Spirit Awal ICMI
Pesan Prof Mujimulia itu sesungguhnya sangat dekat dengan semangat awal berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia atau ICMI.
ICMI lahir di Malang, Jawa Timur, pada 1990, dan Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie menjadi Ketua Umum pertama. Kehadiran ICMI kala itu membawa optimisme bahwa kaum intelektual Muslim dapat memainkan peran penting dalam pembangunan bangsa.
Spirit tersebut penting untuk terus dihidupkan.
ICMI bukan sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki gelar akademik. ICMI harus menjadi rumah bagi gagasan, ilmu pengetahuan, pengabdian dan perjuangan kemaslahatan.
Karena itu, seorang anggota ICMI semestinya tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang dapat saya peroleh dari organisasi ini?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apa yang dapat saya berikan melalui organisasi ini untuk masyarakat, umat dan bangsa?”
Perubahan sudut pandang itu sangat menentukan masa depan sebuah organisasi.
Cendekiawan Adalah Orang yang Risau
Kita sering keliru memahami istilah cendekiawan.
Kita mengira cendekiawan adalah orang yang pendidikannya tinggi, gelarnya panjang, berbicara dengan istilah akademik dan memiliki jabatan bergengsi.
Tidak sesederhana itu.
Cendekiawan adalah orang yang risau ketika melihat ketidakberesan.
Ia gelisah ketika melihat kemiskinan.
Ia terusik ketika menyaksikan ketidakadilan.
Ia tidak nyaman ketika kebodohan dibiarkan.
Ia berpikir ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Dan ia tidak berhenti pada kegelisahan. Ia mengubah kegelisahan menjadi gagasan, gerakan dan solusi.
Tentu banyak cendekiawan berasal dari kalangan terdidik dan bergelar. Bahkan memang semestinya semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab sosialnya.
Tetapi pendidikan tinggi seharusnya tidak menjadikan seseorang semakin jauh dari rakyat.
Sebaliknya, pendidikan semestinya membuat seseorang semakin memahami persoalan rakyat dan semakin mampu membantu menyelesaikannya.
Kebebasan Berpikir, Koridor Nilai
Cendekiawan Muslim juga memiliki karakter yang khas.
Ia harus berani berpikir.
Berani bertanya.
Berani menguji sebuah gagasan.
Berani menyampaikan kritik.
Namun keberanian itu tidak berarti kebebasan tanpa batas.
Kebebasan berpikir, bertindak dan membangun harus tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam, norma sosial, aturan dan peraturan yang berlaku.
Di sinilah pentingnya jalan tengah.
Jalan tengah bukan sikap takut mengambil posisi. Jalan tengah adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, antara perubahan dan tradisi, antara kepentingan individu dan kepentingan publik, antara kemajuan material dan nilai spiritual.
Cendekiawan Muslim seharusnya menjadi jembatan yang menghadirkan keharmonisan, bukan sumber kegaduhan.
Ia menjadi bagian dari solusi, bukan memperpanjang persoalan.
Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan bangsa.
ICMI Aceh Besar Harus Turun dari Menara Gading
Karena itu, kepengurusan ICMI Aceh Besar periode 2026–2031 di bawah kepemimpinan Prof Mujimulia mempunyai tanggung jawab besar.
Aceh Besar tidak kekurangan orang pintar.
Yang dibutuhkan adalah bagaimana kepintaran itu dikonsolidasikan menjadi kekuatan perubahan.
ICMI Aceh Besar harus mampu menjadi ruang bertemunya akademisi, ulama, profesional, pengusaha, birokrat, aktivis dan generasi muda untuk mencari solusi terhadap persoalan masyarakat.
Jangan sampai ICMI hanya ramai ketika pelantikan, seminar dan diskusi.
Setelah itu sunyi dari masyarakat.
Justru setelah pelantikan, pekerjaan sesungguhnya dimulai.
ICMI harus turun ke desa-desa, mendengar suara masyarakat, membaca potensi ekonomi, membantu penguatan pendidikan, mendorong kewirausahaan, membangun literasi, memperkuat kehidupan keagamaan dan menawarkan gagasan pembangunan yang berbasis ilmu pengetahuan.
Dari ruang diskusi lahir gagasan. Dari gagasan lahir gerakan. Dari gerakan lahir perubahan.
Itulah barangkali cara paling sederhana menerjemahkan kecendekiaan ke dalam kehidupan nyata.
Jangan Hanya Bergelar, Jadilah Berarti
Pada akhirnya, masyarakat akan mengingat kita bukan karena panjangnya gelar yang melekat pada nama.
Masyarakat akan mengingat orang yang pernah menolongnya.
Mengajarinya.
Membuka jalan baginya.
Memberikan inspirasi kepadanya.
Membela haknya.
Atau setidaknya pernah memberikan harapan ketika hidup terasa berat.
Karena itu, saya kira pesan Prof Mujimulia perlu menjadi semboyan moral bagi kepengurusan ICMI Aceh Besar lima tahun ke depan:
Jangan hanya bergelar, tetapi jadilah berarti.
Jangan hanya menjadi orang pintar, tetapi jadilah orang yang peduli.
Jangan hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi ikut menjadi bagian dari perubahan.
Dan jangan hanya menjadi cendekiawan di atas kertas, tetapi jadilah cendekiawan yang dirasakan manfaatnya oleh umat dan masyarakat.
Kita memberikan apresiasi kepada Prof. Dr. Mujimulia dan seluruh penasehat, pakar serta pengurus ICMI Orda Aceh Besar periode 2026–2031 yang telah menerima amanah tersebut.
Semoga kepengurusan baru ini mampu menghidupkan kembali makna hakiki kecendekiaan: berilmu, berpikir, peduli, bergerak dan bermanfaat.
Sebab Aceh tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar berbicara tentang masa depan.
Aceh membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja untuk masa depan.
Semoga Aceh Besar jaya, Aceh semakin maju dan Indonesia semakin hebat, dengan rahmat Allah SWT. Semoga ICMI bersama umat Islam dan seluruh komponen bangsa mampu memainkan peran cerdas, konstruktif dan bermartabat dalam menghadirkan kemajuan serta kesejahteraan bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, gelar boleh panjang. Tetapi jangan sampai manfaatnya pendek.
Wallahu a’lam
Darussalam 23 Rabiul Awal 1448, 5 September 2026
(Penulis, bendahara ICMI Orwil Aceh)
