-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Taqwaddin, Pemimpin 6 T di Jalan Mendaki ICMI Aceh

Sabtu, 05 September 2026 | September 05, 2026 WIB Last Updated 2026-09-06T03:37:25Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada orang yang selesai masa jabatannya, tetapi tidak selesai pengabdiannya. Ada pula yang mungkin bergeser dari sebuah posisi struktural, tetapi tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah organisasi. Bagi saya, Dr Taqwaddin adalah salah satu sosok yang layak ditempatkan dalam kategori tersebut.


Saya mengenal dan bekerja bersama Dr Taqwaddin dalam kepengurusan ICMI Aceh selama kurang lebih dua setengah tahun. Dalam perjalanan itu, saya menyaksikan bagaimana beliau menjalankan amanah sebagai Ketua ICMI Aceh dalam masa pergantian dan penyegaran kepengurusan antarwaktu di tengah periode 2021–2026.


Kepengurusan beliau akan berakhir pada awal Oktober 2026. Sebelum sampai ke titik itu, ICMI Aceh akan terlebih dahulu menghadapi Musyawarah Wilayah yang direncanakan berlangsung 12 September 2026 di Hotel Oasis Banda Aceh.


Dalam Musywil nanti, tentu ada mekanisme organisasi yang harus dihormati. Dr Taqwaddin masih mungkin dipilih kembali apabila peserta Musywil menghendaki dan beliau bersedia. Tetapi tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kampanye untuk itu.


Saya justru ingin menempatkan Taqwaddin sebagai catatan penting perjalanan ICMI Aceh sekaligus sebagai spirit bagi siapa pun yang kelak menerima amanah memimpin organisasi ini.


Sebab, organisasi tidak hanya membutuhkan pergantian kepemimpinan. Organisasi membutuhkan kesinambungan gagasan, pengalaman, jaringan, dan energi pengabdian.


Di sinilah saya melihat Taqwaddin lebih besar daripada sekadar sebuah jabatan.


Taqwaddin dan Empat T Kepemimpinan


Dalam beberapa kesempatan, kita sering berbicara tentang figur yang layak memimpin Aceh. Menurut saya, ukuran yang sama juga relevan untuk mencari pemimpin ICMI Aceh.


Ada sedikitnya empat T yang harus dimiliki seperti juga disampaikannya dalam sambutan pelantikan pengurus Orda Aceh Besar kemarin.


Pertama, Tuha.


Tuha bukan semata-mata berarti tua secara usia. Ia adalah simbol kematangan, kedewasaan, pengalaman dan ketenangan dalam mengambil keputusan.


Dalam konteks kepemimpinan Aceh dan organisasi seperti ICMI, kematangan itu penting. Karena seorang pemimpin tidak hanya berhadapan dengan orang yang sepemikiran, tetapi juga dengan perbedaan kepentingan, dinamika sosial, perkembangan teknologi dan berbagai persoalan masyarakat yang semakin kompleks.


Karena itu, kepemimpinan membutuhkan kedewasaan. Bahkan secara organisatoris, ukuran usia minimal 41 tahun dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk memastikan kematangan pengalaman dan cara pandang, meskipun usia tentu bukan satu-satunya ukuran kualitas seseorang.


Kedua, Tuho.


Tuho berarti tahu. Pemimpin harus tahu ke mana organisasi hendak dibawa.


Bukan sekadar tahu nama program, tetapi tahu arah. Bukan hanya mampu membuat kegiatan, tetapi memahami untuk apa kegiatan itu dibuat dan apa dampaknya bagi masyarakat.


ICMI Aceh tidak boleh berjalan tanpa kompas. Ia harus mengetahui posisi dirinya di tengah dinamika pembangunan Aceh: pendidikan, ekonomi, keumatan, sosial, kebudayaan, teknologi, pemerintahan dan berbagai persoalan masyarakat.


Pemimpin yang tuho tidak hanya bertanya, “Apa yang akan kita kerjakan?” tetapi lebih dahulu bertanya, “Ke mana kita akan membawa organisasi ini dan apa manfaatnya bagi masyarakat?”


Pesan inilah yang sangat penting dari gagasan outreach yang selalu diingatkan Prof Yusny Saby, Ketua Dewan Penasehat ICMI Aceh: jangan sampai kehadiran ICMI hanya terasa di dalam ruang organisasi, tetapi tidak terasa manfaat dan dampaknya di tengah masyarakat.


Ketiga, Teupeu.


Pemimpin harus teupeu—mempunyai kapasitas ilmu, kecakapan, pengalaman dan skill untuk memimpin.


ICMI bukan organisasi yang cukup dipimpin hanya dengan popularitas. Ia membutuhkan intelektualitas sekaligus kemampuan mengelola organisasi.


Pemimpin ICMI harus mampu membaca perubahan zaman, berdialog dengan pemerintah, akademisi, ulama, pengusaha, masyarakat sipil dan generasi muda. Ia harus mampu mengubah gagasan menjadi program, program menjadi gerakan, dan gerakan menjadi manfaat.


Di sinilah pengalaman dan jaringan seorang Taqwaddin menjadi modal yang tidak boleh hilang dari ICMI Aceh, apa pun posisi beliau setelah Musywil nanti.


Keempat, Teupat.


Ini mungkin yang paling mendasar: teupat, tepat, lurus dan dapat dipercaya.


Pemimpin harus bersih nama dan rekam jejaknya. Tidak tercemar karena menabrak hukum, norma, etika dan kepatutan.


Kecerdasan tanpa integritas dapat menjadi bahaya. Kemampuan tanpa kejujuran dapat kehilangan kepercayaan. Jaringan yang luas tanpa moralitas dapat berubah menjadi beban organisasi.


Karena itu, ICMI Aceh membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu, tetapi juga pantas dipercaya.


T Kelima: Taqwa


Empat T tersebut belum lengkap.


Ada satu T yang menurut saya harus menjadi fondasinya: Taqwa.


Menariknya, kata taqwa sendiri dapat kita jadikan akronim nilai kepemimpinan.


T — Tanggung Jawab.


Taqwa melahirkan kesadaran bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab, bukan sekadar kehormatan. Pemimpin ICMI harus siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan, penggunaan amanah organisasi, dan setiap langkah pengabdiannya kepada anggota, masyarakat, dan terutama kepada Allah SWT.


A — Amanah.


Amanah berarti mampu menjaga kepercayaan yang diberikan. Pemimpin tidak menggunakan organisasi untuk kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi menjadikan jabatan sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan. Semakin besar kepercayaan, semakin besar pula amanah yang harus dijaga.


Q — Qur’ani.


Qur’ani bukan sekadar pandai mengutip ayat, tetapi menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap dan mengambil keputusan. Keadilan, kejujuran, ilmu, persaudaraan dan kemaslahatan harus menjadi warna kepemimpinan ICMI Aceh.


W — Wawasan.


Taqwa tidak membuat seseorang berpikiran sempit. Justru ia mendorong lahirnya wawasan yang luas. Pemimpin ICMI harus mampu membaca perubahan Aceh, Indonesia dan dunia, memahami perkembangan teknologi, ekonomi, pendidikan dan politik, serta menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan pijakan nilai keislaman.


A — Akhlak.


Pada akhirnya, kepemimpinan akan dikenang melalui akhlaknya. Cara berbicara, menghargai perbedaan, memperlakukan kawan dan lawan, menggunakan kekuasaan serta menyikapi kritik menjadi cermin kualitas seorang pemimpin. ICMI membutuhkan pemimpin yang tinggi ilmunya, luas jaringannya, tetapi tetap rendah hati dan mulia akhlaknya.


Dengan demikian, TAQWA bukan sekadar penutup dari empat T sebelumnya, tetapi menjadi ruh yang menghidupkan semuanya. Tanggung jawab tanpa amanah akan rapuh; amanah tanpa nilai Qur’ani kehilangan arah; wawasan tanpa akhlak dapat kehilangan kendali.


Maka empat T—Tuha, Tuho, Teupeu dan Teupat—baru menemukan kesempurnaannya ketika dipandu oleh T yang kelima: Taqwa.


Taqwaddin sebagai Inspirasi, Bukan Sekadar Nama


Saya sengaja menulis nama Taqwaddin dalam judul tulisan ini bukan untuk mengusung beliau sebagai calon ketua ICMI Aceh.


Musyawarah Wilayah memiliki mekanisme dan kedaulatannya sendiri. Peserta Musywil-lah yang akan menentukan arah organisasi dan siapa yang paling layak menerima amanah.


Tetapi menurut saya, pengalaman Taqwaddin selama memimpin ICMI Aceh tidak boleh dianggap selesai hanya karena periode kepengurusannya selesai.


Beliau memiliki pengalaman, pengetahuan dan jaringan yang dapat tetap menjadi energi produktif bagi organisasi. Apakah kelak kembali memimpin, bergeser ke Dewan Pakar, Dewan Penasehat, atau mengambil posisi lain dalam struktur organisasi, semuanya kembali kepada mekanisme dan keputusan Musywil.


Yang penting adalah jangan sampai pengalaman yang sudah terbangun selama ini ikut berhenti bersama berakhirnya sebuah periode kepengurusan.


ICMI Aceh membutuhkan kesinambungan sekaligus penyegaran.


Sebab perjalanan ke depan tidak ringan.


Aceh akan memasuki fase pembangunan yang semakin dinamis. Pada saat yang sama, ICMI juga akan melewati periode pesta demokrasi nasional maupun daerah. Situasi seperti ini menuntut ICMI tampil lebih cerdas, lebih cergas dan lebih relevan.


ICMI tidak boleh menjadi penonton perubahan.


Ia harus menjadi bagian dari solusi.


Dan di sinilah konsep outreach menjadi sangat penting: seberapa jauh masyarakat merasakan kehadiran ICMI, seberapa besar gagasannya memberi manfaat, dan seberapa nyata dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Aceh.


Jalan Mendaki Memang Tidak Mudah


Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang sebuah jalan yang tidak mudah:


فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ


“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar.”

(QS. Al-Balad: 11)


Jalan mendaki memang bukan jalan yang mudah. Tetapi justru di jalan itulah kualitas kepemimpinan diuji.


ICMI Aceh ke depan membutuhkan orang-orang yang bersedia menempuh jalan mendaki itu. Bukan mencari jalan paling mudah, tetapi mencari jalan paling maslahat.


Kita membutuhkan pemimpin yang tuha, tuho, teupeu dan teupat, lalu semuanya ditopang oleh taqwa.


Dalam konteks itulah saya melihat Dr Taqwaddin.


Bagi saya, Taqwaddin bukan semata-mata Ketua ICMI Aceh untuk satu periode. Ia adalah salah satu bagian dari perjalanan dan sejarah organisasi ini. Apa yang telah beliau lakukan selama sekitar dua setengah tahun layak dicatat sebagai dedikasi, bukan sekadar masa jabatan.


Dan ketika Musywil nanti memilih siapa pun yang akan memimpin ICMI Aceh, saya berharap sosok baru itu tidak hanya membawa program baru, tetapi juga membawa semangat melanjutkan yang baik, memperbaiki yang kurang, dan memperluas manfaat organisasi.


Sebab yang kita perlukan bukan sekadar pergantian ketua.


Yang kita perlukan adalah penguatan ICMI Aceh.


Taqwaddin boleh saja berganti posisi. Tetapi semangat pengabdiannya, pengalamannya dan jaringannya semoga tetap menjadi bagian dari energi besar ICMI Aceh.


Karena pada akhirnya, yang kita wariskan bukan jabatan.


Yang kita wariskan adalah manfaat, keteladanan dan jalan pengabdian.


Satu lagi.


T yang terakhir, T Keenam, yaitu: Taqwaddin itu sendiri.


Taqwaddin adalah nama, sosok dengan ketokohannya yang di Aceh dan dalam komunitas tertentu secara nasional sudah sangat kuat dikenal. Bahkan internasional. 


Nama ini juga media darling mudah disambut dan disambar media, karena tak terkesan terhijab dalam komunikasi dengan siapapun termasuk media.


Memang senang kita berteman dengan orang seperti ini.


Wallahu a’lam 


Bada Aceh 24 Rabiul Awal 1448, 6 September 2026


(Penulis, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update