-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Umat Dicintai Nabi Juga Minta Allah Menyayangi

Jumat, 04 September 2026 | September 04, 2026 WIB Last Updated 2026-09-05T05:03:21Z


Opini Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada khutbah Jumat yang selesai ketika khatib turun dari mimbar. Tetapi ada pula khutbah yang justru baru mulai bekerja setelah jamaah meninggalkan masjid.


Khutbah Tgk Bukhari Ali di Masjid Jamik Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Darussalam, Aceh Besar, Jumat 4 September 2026, termasuk yang kedua.


Pendakwah yang dikenal luas di Banda Aceh dan sekitarnya itu mengupas sesuatu yang sangat dekat dengan hati umat Islam: kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.


Betapa besar cinta Rasulullah kepada kita, umat yang bahkan tidak pernah beliau jumpai secara fisik.


Kita lahir lebih dari empat belas abad setelah beliau wafat. Kita tidak pernah duduk di sampingnya. Tidak pernah berjabat tangan dengannya. Tidak pernah mendengar langsung suara beliau. Tetapi kita adalah umat yang selalu ada dalam perhatian beliau.


Al-Qur’an menggambarkan keadaan itu dengan sangat indah:


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri; terasa berat olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keselamatan bagimu, dan terhadap orang-orang beriman dia sangat penyantun dan penyayang.”

(QS. At-Taubah: 128). 


Perhatikan kata حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ — harishun ’alaikum.


Para mufasir menjelaskan bahwa Rasulullah sangat menginginkan kebaikan, petunjuk dan keselamatan umatnya. Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa Nabi sangat bersungguh-sungguh menginginkan orang yang tersesat kembali kepada petunjuk dan kebenaran.


Ini bukan cinta dalam pengertian sentimental.


Ini adalah cinta seorang Rasul yang ingin umatnya selamat dunia dan akhirat.


Nabi menyimpan satu doa untuk kita


Salah satu bukti paling menyentuh tentang cinta Nabi kepada umatnya adalah apa yang beliau lakukan terhadap doa mustajab yang dimiliki para nabi.


Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap nabi memiliki satu doa yang pasti dikabulkan Allah. Para nabi menggunakan doa itu, tetapi Nabi Muhammad SAW memilih menyimpan doa khususnya sebagai syafaat bagi umatnya pada hari kiamat. 


Bayangkan.


Sebuah doa yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri di dunia justru disimpan oleh Rasulullah untuk saat umatnya sangat membutuhkannya: Yaumul Mahsyar.


Hari ketika manusia dibangkitkan.

Hari ketika manusia membutuhkan pertolongan.

Hari ketika tidak ada lagi jabatan, harta, popularitas, pengaruh, keluarga dan kekuasaan yang dapat dijadikan sandaran.


Di situlah Rasulullah ingin menghadirkan syafaat bagi umatnya.


Dalam riwayat sahih bahkan disebutkan bahwa Nabi menangis sambil mengucapkan, “Allahumma ummati, ummati” — “Ya Allah, umatku, umatku.” Ketika Allah mengetahui tangisan Rasulullah karena umatnya, Allah memerintahkan Jibril untuk mendatanginya dan kemudian menyampaikan bahwa Allah akan membuat Nabi ridha terhadap umatnya dan tidak akan menyusahkannya. 


Inilah cinta yang luar biasa.


Kita sering mengaku mencintai Nabi.

Tetapi pernahkah kita bertanya: seberapa jauh kita pantas menjadi umat yang dicintai Nabi?


“Jika Engkau mengazab mereka…”


Ada satu ayat yang semakin menggetarkan jika dibaca dalam konteks kecintaan Nabi kepada umatnya.


Allah mengutip doa Nabi Isa AS:


إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

(QS. Al-Ma’idah: 118).


Dalam hadis sahih, Nabi Muhammad SAW membaca ayat ini dan mengulanginya dalam shalat malam hingga pagi. 


Bahkan dalam hadis lain, ketika berbicara tentang keadaan manusia pada hari kiamat, Nabi menyebut kembali doa tersebut.


Ini menunjukkan kedalaman rasa takut dan harap dalam diri Rasulullah terhadap nasib manusia.


Namun ada satu hal penting yang harus kita pahami.


Jangan menerjemahkan kasih sayang Allah seolah-olah Allah tidak mungkin menghukum orang yang berbuat dosa. Al-Qur’an dan hadis justru mengajarkan keseimbangan antara khauf dan raja’—takut dan berharap.


Allah Maha Pengampun, tetapi manusia tetap diperintahkan bertobat.


Allah Maha Penyayang, tetapi manusia tidak boleh sengaja menantang kemurahan-Nya.


Allah membuka pintu ampunan, tetapi manusia tidak boleh menjadikan ampunan sebagai alasan untuk terus berbuat dosa.


Allah berfirman:


مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ


“Untuk apa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman?”

(QS. An-Nisa: 147).


Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini mengarahkan manusia kepada pertobatan, tauhid, keikhlasan dan iman kepada Rasulullah; Allah tidak membutuhkan azab terhadap hamba yang kembali kepada-Nya dengan iman dan amal yang benar. 


Maka rahmat Allah bukan tiket untuk bermaksiat.


Rahmat Allah adalah pintu untuk kembali.


Allah ternyata lebih sayang kepada kita


Kalau cinta Nabi kepada umatnya sudah begitu besar, bagaimana dengan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya?


Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh.


Pernah beberapa tawanan dibawa kepada Nabi. Di antara mereka ada seorang perempuan yang kehilangan anaknya. Ketika menemukan anaknya, ia segera memeluk dan menyusuinya.


Nabi kemudian bertanya kepada para sahabat: apakah perempuan itu akan tega melemparkan anaknya ke dalam api?


Mereka menjawab: tentu tidak.


Nabi lalu bersabda:


لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا


“Sungguh, Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada perempuan ini kepada anaknya.”

(HR. Bukhari dan Muslim). 


Ini luar biasa.


Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang kita anggap begitu besar ternyata masih jauh dibandingkan rahmat Allah kepada hamba-Nya.


Dalam hadis lain disebutkan bahwa Allah menjadikan rahmat seratus bagian; satu bagian diturunkan ke bumi, sehingga makhluk saling menyayangi, sementara sembilan puluh sembilan bagian disimpan untuk rahmat-Nya. 


Dan dalam hadis qudsi disebutkan:


إِنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي


“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” 


Betapa luas sebenarnya pintu kasih sayang Allah.


Tetapi cinta harus dibalas dengan jalan hidup


Di sinilah persoalan kita.


Kita senang mengatakan: “Kami mencintai Rasulullah.”


Kita bershalawat.

Kita merayakan Maulid.

Kita membaca sirah.

Kita memuji akhlaknya.

Semua itu baik.


Tetapi cinta kepada Nabi tidak boleh berhenti pada ucapan.


Cinta harus berubah menjadi ketaatan.


Rasulullah SAW telah memberikan pernyataan yang sangat jelas:


كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى


“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang menolak.”


Para sahabat bertanya, “Siapa yang menolak?”


Beliau menjawab:


مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى


“Siapa yang menaatiku akan masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku, dialah yang menolak.”

(HR. Bukhari). (Sunnah⁠)


Kalimat ini seharusnya membuat kita merenung.


Nabi sudah menunjukkan jalan.

Allah sudah membuka pintu.

Al-Qur’an sudah diturunkan.

Sunnah sudah diwariskan.

Ulama sudah menjelaskan.


Lalu kalau kita memilih jalan yang lain, siapa yang harus kita salahkan?


Jangan menyalahkan takdir atas jalan yang kita pilih sendiri.


Ada jalan selamat, ada jalan mudarat


Kehidupan ini pada dasarnya adalah pilihan.


Allah memberikan jalan kebaikan dan jalan keburukan.


Allah mengutus para rasul sebagai pembimbing.


Nabi Muhammad SAW telah menyampaikan risalah dengan sempurna.


Beliau bukan hanya mengajarkan bagaimana beribadah, tetapi juga bagaimana menjadi manusia: jujur, amanah, penyayang, adil, sabar, menjaga tetangga, menghormati orang tua, menyantuni fakir miskin, menjaga lisan dan menjauhi kezaliman.


Tetapi manusia tetap mempunyai pilihan.

Mau mengikuti atau membelot.

Mau mendekat atau menjauh.

Mau bertobat atau terus tenggelam.

Mau menjaga lisan atau menyebarkan fitnah.

Mau mencari rezeki halal atau menghalalkan segala cara.

Mau menjaga keluarga atau menghancurkannya.


Mau menjadikan media sosial sebagai ladang pahala atau tempat menumpuk dosa.


Maka cinta Nabi dan kasih sayang Allah bukan alasan bagi kita untuk bersantai di jalan dosa.


Justru sebaliknya: karena kita tahu Nabi sangat mencintai kita dan Allah sangat menyayangi kita, kita harus malu untuk terus-menerus mengecewakan keduanya.


Bagaimana agar menjadi umat yang dicintai Nabi?


Pertama, perkuat iman kepada Allah dan Rasul-Nya.


Cinta Nabi bukan sekadar rasa haru. Ia harus berdiri di atas iman.


Kedua, ikuti sunnahnya.


Tidak mungkin seseorang mengaku mencintai Nabi tetapi sengaja menjadikan ajaran Nabi sebagai sesuatu yang tidak penting dalam hidupnya.


Ketiga, perbanyak shalawat.


Shalawat adalah ungkapan cinta sekaligus doa agar Allah mencurahkan rahmat dan kemuliaan kepada Rasulullah.


Keempat, pelajari sirah dan hadis.


Bagaimana mungkin kita mencintai seseorang yang tidak kita kenal? Mengenal kehidupan Nabi akan membuat cinta itu memiliki akar.


Kelima, tiru akhlaknya.


Rasulullah bukan hanya membawa ajaran untuk dibaca, tetapi teladan untuk dipraktikkan.


Keenam, jaga hubungan dengan sesama manusia.


Cinta kepada Nabi harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain. Nabi mengajarkan kasih sayang, bukan kebencian; persaudaraan, bukan permusuhan.


Ketujuh, perbanyak istighfar dan segera bertobat.


Jangan merasa dosa kita terlalu banyak sehingga tidak layak kembali kepada Allah. Justru orang yang mengetahui luasnya rahmat Allah akan selalu menemukan jalan pulang.


Kedelapan, jangan merasa aman dari azab dan jangan pula berputus asa dari rahmat.


Seorang Muslim berjalan dengan dua sayap: takut kepada Allah dan berharap kepada kasih sayang-Nya.


Kesembilan, jadikan ketaatan sebagai pilihan hidup.


Sebab Rasulullah sudah memberikan peringatan: yang taat mengikuti jalan menuju surga; yang sengaja membangkang sesungguhnya sedang menolak jalan keselamatan yang telah ditawarkan kepadanya. 


Kita mencintai Nabi, minta Allah menyayangi


Akhirnya, khutbah Tgk Bukhari Ali mengajak kita melihat hubungan yang sangat indah: kita mencintai Nabi, dan kita memohon agar Allah menyayangi kita.


Tetapi cinta tidak cukup hanya di bibir.


Kalau kita mencintai Nabi, mari ikuti jalannya.


Kalau kita berharap kasih sayang Allah, mari kita dekati-Nya.


Kalau kita menginginkan syafaat Nabi, jangan justru menjadi umat yang membelakangi sunnahnya.


Kalau kita berharap ampunan Allah, jangan menjadikan dosa sebagai kebiasaan.


Kalau kita ingin diselamatkan pada hari Mahsyar, mari mulai menyiapkan bekal sejak hari ini.


Rasulullah telah menyimpan doa untuk umatnya.


Allah telah membuka pintu rahmat-Nya.


Al-Qur’an telah menunjukkan jalan.


Sunnah telah memberikan petunjuk.


Ulama telah menerangkan.


Maka tinggal satu pertanyaan untuk kita jawab sendiri:


Jalan mana yang sedang kita pilih?


Jalan yang mendekatkan kita kepada Nabi atau menjauhkan kita darinya?


Jalan yang mengundang rahmat Allah atau jalan yang mengundang murka-Nya?


Jalan keselamatan atau jalan kemudaratan?


Kita tidak boleh meminta keselamatan sambil memilih jalan yang membahayakan.


Kita tidak boleh mengaku mencintai Nabi sambil sengaja meninggalkan petunjuknya.


Dan kita tidak boleh berharap kasih sayang Allah sambil terus-menerus menutup pintu pertobatan dengan kesombongan.


Mari mencintai Nabi dengan mengikuti sunnahnya.


Mari mengharap kasih sayang Allah dengan iman, taubat, syukur dan amal saleh.


Mari menjaga lisan, keluarga, tetangga dan sesama manusia.


Mari menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan sunnah sebagai jalan hidup.


Dan ketika kita jatuh, jangan lari dari Allah.


Pulanglah.


Sebab Allah masih membuka pintu.


Ketika kita jauh dari Nabi, kembalilah kepada sunnahnya.


Sebab jalan beliau masih terang.


Dan ketika kita merasa tidak layak mendapat rahmat Allah, ingatlah sabda Rasulullah:


Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya.


Maka barangkali doa terbaik kita hari ini bukan sekadar:


“Ya Allah, selamatkan kami.”


Tetapi juga:


“Ya Allah, jadikan kami orang yang memilih jalan keselamatan, agar kami layak mendapatkan kasih sayang-Mu dan kelak memperoleh syafaat Nabi-Mu.”


Kita mencintai Nabi. Kita berharap Nabi mengenali kita sebagai umatnya. Kita memohon Allah menyayangi kita. Dan tugas kita adalah membuktikan cinta itu dengan ketaatan.


Wallahu a’lam 


Tungkop 22 Rabiul Awal 1448, 4 September 2026


(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)


Foto:  dari kiri; Tgk Ikhlas, Tgk Bukhari Ali, penulis, Dr Jauhari Hasan

×
Berita Terbaru Update